Pendekar Pendidikan Gratis
Adalah seorang figur bernama Marthinus Manoe. Dalam masa hidupnya pernah mengabdi sebagai guru pada desa terpencil, yakni Desa Tanini, Kecamatan Takari sejak tahun 1948 dan berakhir sebagai Penilik TK/SD di Kecamatan Amfoang Selatan tahun 1987.
Bisa diceritakan sejarah berdirinya PKBM Sonaf Marthin!
Adalah seorang figur bernama Marthinus Manoe. Dalam masa hidupnya pernah mengabdi sebagai guru pada desa terpencil, yakni Desa Tanini, Kecamatan Takari sejak tahun 1948 dan berakhir sebagai Penilik TK/SD di Kecamatan Amfoang Selatan tahun 1987. Hampir 30 tahun ia memainkan perannya untuk mendidik, mengajak orang-orang desa untuk belajar dan terus belajar. Sebagai anak dari almarhum, kami semua dilahirkan dan dibesarkan di desa ini.
Tahun-tahun perjalanan karier di desa itu merupakan perjalanan yang penuh penderitaan, mengingat kala itu akses ke desa itu hampir tidak ada sama sekali. Seluruh akses transportasi hanya berhenti di Camplong, ibu kota Kecamatan Fatuleu. Untuk tiba di Camplong kami harus berjalan kaki, kalau tidak ada kuda yang kami jadikan sebagai kendaraan. Akses informasi sama sekali tertutup karena belum tersedianya media seperti radio, televisi, atau surat kabar sebagaimana dinikmati oleh kebanyakan orang saat ini.
Walau demikian figur yang kami sebutkan tadi tidak surut semangat untuk terus berjuang, baik sebagai guru maupun sebagai tokoh agama dalam memainkan perannya di tengah-tengah masyarakat. Terbukti bahwa banyak orang berhasil diciptakan melalui pendidikan sekolah dasar, dan saat ini sebagian besar telah berkarya di Kota Kupang, Kabupaten Kupang dan sekitarnya termasuk Bupati Kupang saat ini sebagai salah satu anak didiknya.
Bahkan ada juga yang telah merantau ke Papua, Kalimantan, Jawa, dan daerah lainnya. Ketika sang figur menghembuskan napas terakhir pada 5 Oktober 2005, sebagian delegasi masyarakat Desa Tanini (tempat almarhum berkarya) mendatangi keluarga kami untuk memohon agar sekiranya jasad almarhum dimakamkan di sana. Ini bentuk apresiasi mereka terhadap kami.
Bagaimana keluarga Anda saat itu menyikapi permintaan warga Tanini!
Terhadap kehadiran mereka inilah kami meresponsnya dengan melihat muatan nilai adat yang tidak kecil maknanya. Artinya dengan mengabulkan permintaan mereka, kami harus berbuat sesuatu sebagai simbol untuk mengenang jasa almarhum (in memoriam).
Menindaklanjuti pertemuan adat itu, kami keluarga mulai melakukan pengamatan terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat Tanini setelah 30-an tahun kami meninggalkan dusun penuh sejarah itu. Hal ini penting dilakukan untuk menemukan konsep-konsep yang tepat dalam pencanangan program pemberdayaan masyarakat.
Apakah dilakukan survei awal?
Ya. Survei awal membuktikan bahwa secara ekonomis pendapatan mereka (masyarakat Tanini) tidak berubah karena mata pencaharian yang mereka lakukan masih tetap sebagai petani dan peternak subsistem. Pola yang digunakan adalah pola ekstensif sehingga secara signifikan tidak berpengaruh pada perubahan perolehan pendapatan mereka dari waktu ke waktu. Bahwa terjadi defisit bila dibandingkan hasil produksi mereka dengan tingkat konsumsi setiap tahunnya.
Ditemukan pula adanya program-program pemerintah seperti KUT, IDT, dana rebutan desa, koperasi, PKH, dan program lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan mereka tetapi boleh dikata gagal. Secara intern, faktor mendasar kegagalan program-program ini adalah mentalitas masyarakat yang masih sulit memahami dan melaksanakan program-program tersebut, karena mereka tidak memiliki semangat atau jiwa wirausaha.
Tapi secara ekstern, dapat dikata bahwa banyak program pemerintah yang tidak berjalan secara efektif karena kurangnya pendampingan dan pengawasan dari pihak pemberi program.
Selain alasan ekonomis tersebut, kebanyakan mereka yang tinggal di desa hanya menamatkan pendidikan pada aras sekolah dasar dan sedikit yang menamatkan pendidikan pada aras sekolah lanjutan.
Tidak banyak orangtua yang mampu menyekolahkan anaknya sampai pada level pendidikan lanjutan, apalagi pada perguruan tinggi. Kalaupun ada anak desa yang tamat sekolah lanjutan atas atau perguruan tinggi, maka mereka enggan kembali ke desa dengan alasan ingin mengubah taraf hidup mereka melalui pekerjaan di sektor formal seperti pegawai negeri/swasta ataupun ABRI di kota atau tempat lain di mana mereka ditugaskan.
Faktor ini telah disadari oleh pemimpin bangsa ini, baik pada aras nasional maupun pada aras reegional. Karena itu, beberapa dekade akhir-akhir ini menempatkan sektor pendidikan sebagai sektor prioritas melalui sistem pendidikan wajib belajar sembilan tahun dan kemudian direvisi menjadi sistem pendidikan wajib belajar 12 tahun.
Bagaimana mengimplementasikannya?