Rabu, 10 Juni 2026

Oleh Maria Agnes Etty Dedy, S.Si, Apt, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana

Analgesik: Terapi Vs Efek Samping

HAMPIR semua orang pernah merasakan nyeri. Mulai dari nyeri ringan, seperti sakit kepala, nyeri haid, nyeri punggung, reumatik sampai nyeri yang berat, seperti nyeri kanker dan nyeri pasca operasi. Saat merasa nyeri, kita memerlukan obat penghilang nyeri atau analgesik.

Tayang:

HAMPIR  semua orang pernah merasakan nyeri. Mulai dari nyeri ringan, seperti sakit kepala, nyeri haid, nyeri punggung, reumatik sampai nyeri yang berat, seperti nyeri kanker dan nyeri pasca operasi. Saat merasa nyeri, kita memerlukan obat penghilang nyeri atau analgesik.

Analgesik adalah zat yang dalam dosis teraupetik dapat mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Contoh obat analgesik yang dijual di pasaran adalah parasetamol, aspirin, antalgin, asam mefenamat, piroksikam, meloksikam, ibuprofen, dan diklofenak.  

Untuk nyeri ringan sampai sedang kita bisa menggunakan obat-obat pereda nyeri tanpa resep dokter. Tetapi untuk nyeri yang lebih kuat memerlukan analgesik yang lebih kuat pula, seperti analgesik golongan narkotika, dengan resep dokter.

Obat-obat analgesik dapat dengan mudah kita peroleh, bukan hanya di apotek melainkan juga di pasar tradisional dan supermarket atau minimarket.  Kelihatannya hanya obat sepele tetapi jika pemilihan obat  analgesik tidak tepat akan berdampak serius bagi kesehatan.

Tulisan ini mencoba mengungkap obat-obat analgesik, cara mengatasi efek sampingnya, dan terapi lainnya.


Obat AINS

Beberapa Anti-Inflamasi Non-Steroid (AINS) umumnya memiliki sifat anti-inflamasi, analgesik, dan antipiretik. Efek antipiretiknya baru terlihat pada dosis yang lebih besar daripada efek analgesiknya. Karena AINS relatif lebih toksik daripada antipiretik klasik, maka obat-obat ini hanya digunakan untuk terapi penyakit inflamasi sendi, seperti artitris rheumatoid, osteoartitris, spondilitis ankilosa, dan penyakit pirai.

Obat-obat AINS umumnya memiliki efek samping pada lambung. Efek samping seperti ini  dapat diprediksi dan biasanya lebih sering terjadi. Obat-obat AINS bekerja dengan cara menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin adalah suatu senyawa dalam tubuh yang berperan sebagai mediator nyeri dan radang (inflamasi). Prostaglandin terbentuk dari asam arakindonat pada sel-sel tubuh dengan bantuan enzim cyclooxygenase (COX). Dengan penghambatan pada enzim COX, prostaglandin tidak terbentuk sehingga rasa nyeri atau radang pun reda.

COX terdiri atas dua isoenzim, yakni COX-1 dan COX-2. Keduanya memiliki berat molekul dan daya enzimatis yang sama. COX-1 terdapat di jaringan, seperti pelat-pelat darah, ginjal, dan saluran cerna. Zat ini berperan pada pemeliharaan perfusi ginjal, homeostase vaskuler, dan melindungi lambung dengan jalan membentuk bikarbonat dan lendir. Sedangkan COX-2, dalam keadaan normal, tidak terdapat di jaringan, tetapi dibentuk selama proses peradangan oleh sel-sel radang dan kadarnya dalam sel meningkat sampai 80 kali. COX-2 menghasilkan prostaglandin yang menjadi mediator nyeri. Jadi, hanya COX-2, yang berperan dalam peradangan, yang perlu dihambat, sedangkan COX-1 mesti tetap dipertahankan.

Namun, perlu diketahui bahwa obat-obat AINS ini bekerja secara tidak selektif. Ia bisa menghambat COX-1 dan COX-2 sekaligus. Itu berarti obat-obat AINS bisa menghambat baik prostaglandin yang dibutuhkan untuk melindungi mukosa lambung maupun pembentukan prostaglandin pada peradangan sehingga lambung menjadi terganggu.  

Bagaimana Mengatasinya?
Cara kerja obat-obat AINS yang tidak selektif dapat menyebabkan gangguan pada lambung. Guna mengurangi efeknya, saran-saran berikut ini patut diperhatikan. Pertama, sebaiknya obat-obat AINS digunakan setelah makan. Kedua, sebaiknya obat golongan AINS, yang umumnya dalam bentuk bersalut selaput, tidak digerus atau dikunyah.

Ketiga, jika memang menyebabkan lambung perih atau sudah ada riwayat maag atau gangguan lambung sebelumnya, obat-obat AINS bisa digunakan bersamaan dengan obat-obat yang menjaga lambung.

Obat-obat yang dimaksud adalah, pertama, antasid, yakni basa-basa lemah yang digunakan untuk mengikat asam secara kimiawi dan menetralkan asam dan sukralfat yang berkhasiat menetralkan keasaman lambung dengan menutup tukak dengan suatu lapisan pelindung terhadap serangan asam-pepsin.

Kedua, golongan H2 bloker, seperti simetidin atau ranitidin yang menghambat sekresi asam baik yang basal maupun yang disebabkan oleh rangsangan makanan juga mengurangi produksi pepsin dan getah lambung.

Ketiga, golongan penghambat pompa proton, seperti omeprazol atau lansoprazol yang bekerja dengan menghambat produksi asam dengan jalan menghambat enzim H+/K+-ATPase secara selektif dalam sel-sel parietal.

Terapi Lain

Bagi yang sudah mempunyai riwayat gangguan lambung sebaiknya menghindari penggunaan obat-obat AINS. Alternatif yang paling aman adalah parasetamol atau asetaminofen.
Parasetamol termasuk obat lama yang banyak digunakan sebagai analgesik karena relatif aman terhadap tukak lambung. Parasetamol juga merupakan analgesik pilihan untuk anak-anak, ibu hamil dan menyusui. Walaupun sama-sama golongan analgesik, mekanisme kerja parasetamol berbeda dari obat AINS.

Selain enzim soklooksigenase COX-1 dan COX-2 yang mengkatalis pembentukan prostaglandin di jaringan, ada COX-3 yang terdapat di otak dan sistem saraf pusat. Parasetamol bekerja lebih spesifik menghambat COX-3 sehingga menghambat produksi prostaglandin yang akan mengacaukan termostat di hipotalamus. Cara kerja parasetamol yang lebih spesifik ini menghasilkan efek menurunkan demam. Selain itu, karena prostaglandin juga terlibat dalam menurunkan ambang rasa nyeri, maka penghambatan prostaglandin dapat memberikan efek anti-nyeri atau analgesik. Karena spesifik pada COX-3 dan tidak menghambat baik COX-2 maupun COX-1, efek  parasetamol sebagai anti-radang di jaringan (COX-2) dan efeknya terhadap gangguan lambung (COX-1) menjadi lebih kecil. Efeknya terhadap gangguan lambung relatif kecil karena  parasetamol tidak mempengaruhi produksi prostaglandin jaringan yang dibutuhkan untuk melindungi mukosa lambung.

Akan tetapi, semua obat tentu memiliki efek samping. Begitu juga dengan parasetamol. Efek samping yang biasa terjadi, antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah. Pada dosis terapi (500-2 gram), 5-15% obat ini umumnya dikonversi oleh enzim sitokrom P450 di hati menjadi metabolit reaktifnya, yang disebut N-acetyl-p-bezoquinoneimine (NAPQI). Proses ini disebut aktivasi metabolik. NAPQI berperan sebagai radikal bebas dan berumur sangat singkat. Meskipun metabolisme parasetamol melalui ginjal tidak begitu berperan, jalur aktivasi metabolik ini terdapat pada ginjal dan penting secara toksikologi. Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation (suatu tripeptida dengan -SH) dari hati. Glutation, yang mengandung gugus sulfhidril yang akan mengikat secara kovalen radikal bebas NAPQI, sebagiannya menghasilkan konjugat sistein. Sebagiannya lagi akan diasetilasi menjadi konjugat asam merkapturat, yang kemudian keduanya dapat diekskresikan melalui urin.  

Pada penggunaan kronis dari 3-4 gram sehari dapat menyebabkan kerusakan hati, sedangkan pada dosis di atas 6 gram mengakibatkan nekrosis hati yang tidak reversible. Hepatotoksisitas ini disebabkan oleh metabolit-metabolitnya, yang pada dosis normal dapat ditangkal oleh glutation.

Selanjutnya,  pada dosis di atas 10 gram, persediaan peptida tersebut habis dan metabolit-metabolit mengikat pada protein dengan -SH di sel-sel hati, dan menyebabkan kerusakan ireversibel. Dosis di atas  20 gram sudah berefek fatal. Overdosis bisa menimbulkan, antara lain mual, muntah, dan anorexia. Cara penanggulangannya adalah dengan cuci lambung dan dengan memberikan zat-zat penawar (asam amino N-asetilsistein atau metionon) sedini mungkin. Sebaiknya  
dalam 8-10 jam setelah intoksikasi.

Walaupun hanya sekadar obat penghilang rasa sakit, ternyata obat ini banyak seluk beluknya. Jadi, kenalilah riwayat kesehatan Anda sebelum memutuskan mencari obat penghilang rasa sakit. Dan yang perlu diingat bahwa obat-obat analgesik adalah obat-obat yang bersifat simtomatik atau hanya menghilangkan gejala. Jika penyebab sakitnya belum hilang, nyeri masih mungkin akan muncul kembali. Kalau masih bingung dalam memilih obat analgesik yang dijual di apotek, berkonsultasilah terlebih dahulu dengan apotekernya sebelum membeli obat. *

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved