Oleh Y Ngongo

Jeruk Juara SoE Sekarat dan Terabaikan

SETELAH apel, kini jeruk jeruk asal SoE terancam hidupnya. Hasil penelitian tentang Jeruk Keprok SoE (JKS) yang selama ini 'tabu' untuk dibicarakan juga sudah ada dalam ruang publik (lihat hasil penelitian Mudita, Pos Kupang, 1 Maret 2010). Ini mengingatkan kita semua bahwa JKS sedang ada dalam ancaman serius.

JKS diperhitungkan sebagai 'juara bertahan' dalam berbagai kontes buah dan sudah lama mengharumkan nama daerah kering Timor. JKS menjadi tumpuan sumber uang tunai bagi sebagian petani lahan kering di Kabupaten TTS/TTU. Ini terjadi jauh sebelum sapi bali diperkenalkan di Timor (1912). Bisa dikatakan kantong-kantong penghasil JKS merupakan daerah yang lebih dahulu 'maju' dibandingkan daerah lain di Timor. 


Sejarah JKS


JKS sudah ada di daerah Timor paling tidak sekitar abad 15.  Kemungkinan dibawa oleh pedagang Cina atau India yang mencari cendana di daratan Timor.  Walaupun masih sulit dipastikan bahwa itu adalah JKS, Dampier (1729), yang mengunjungi Timor dan sandar di Kupang pada musim kering tahun 1699 telah menyaksikan/menulis bahwa oranges, sweet lemons (paling mungkin itu adalah JKS) telah ada di Kupang.  Ini diperkuat cerita lisan dari Tobu yang juga menyatakan bahwa penduduk Tobu dan desa-desa di dataran tinggi sekitar Mutis sudah lama sebagai pemasok JKS dan produk hortikultura lainnya bagi semasa era kolonial Belanda di Benteng Concordia di daerah Kupang. 

JKS selama ini dianggap sebagai tanaman yang berasal dari ekosistem dataran tinggi, tetapi dalam keyataannya tanaman ini ditemukan di dataran yang lebih rendah di TTS seperti di Kuanfatu dengan kualitas buah yang hampir sama dengan dataran tinggi di daerah Molo Utara.  Walaupun JKS bisa ditemukan di daerah lain di Timor, tetapi sejauh ini belum ada yang menyaingi cita-rasa JKS dari daerah TTS.  Karena itu, JKS patutlah dianggap sebagai primadonannya Kabupaten TTS.

Selama lima abad hampir tidak ada laporan penyakit yang signifikan yang menyerang tanaman JKS.  Karena itu munculnya penyakit yang menyerang JKS dengan dampak yang sangat serius mengagetkan banyak pihak.  Namun penyakit tersebut bukan muncul secara tiba-tiba, paling tidak sudah ada dalam 10 tahun terakhir ini.  Munculnya serangan penyakit (Phytopthora, Diplodia dan Citrus Vein Phloem Degeneration(CVPD) dianggap Mudita (Pos Kupang, 2 Februari 2010) sebagai masalah kompleks. 

Soal ini menjadi lebih kompleks lagi jika serangan penyakit ini dikaitkan dengan kondisi perubahan iklim, degradasi lahan, pengelolaan kebun, kondisi sosial budaya masyarakat dan yang tak kalah pentingnya jika itu berkaitan dengan kebijakan pemerintah.  Daftar kompleksitas masih bisa ditambah, dengan menghitung ketatnya persaingan perdagangan komoditas hortikultura antar wilayah/negara. 

Tanpa mencurigai adanya 'spionase' di balik ini semua, patut kita bertanya mengapa komoditas yang kita anggap unggul spesifik wilayah, satu demi satu berguguran? Contohnya apel terserang marssonina sekitar akhir tahun 1970-an dan punah sekitar tahun 1980-an, sampai saat ini tidak/belum pulih walaupun ada berbagai usaha yang telah ditempuh untuk mengembalikan kejayaan apel di Timor. 

Kalau pun kita bisa pulihkan apel, kita tidak mampu lagi mengejar ketertinggalan 'pesaing'. Patut kita khawatir jangan sampai JKS pun tidak bisa diselamatkan, dan harus siap menghadapi kenyataan bahwa pasar jeruk di Timor diisi jeruk dari luar pulau atau bahkan jeruk import -- yang sekarang pun sudah nyata terlihat di supermarket dan bahkan sudah dijual di pinggir jalan.  Ini tidak menutup kemungkinan bahwa komoditas unggulan lainnya sedang menghadapi ancaman serupa,  dan label 'komoditas unggulan spesifik wilayah' yang dengan susah payah diperjuangkan menjadi tidak bermakna.     


Eforia unggul

Rasanya kita terlalu lama tenggelam dalam mengagungkan komoditas unggulan kita.  Karena kita merasa unggul dan menganggap sebagai pemain tunggal di pasar, maka upaya yang dilakukan selama ini bisa pada perluasan areal tanam/peningkatan jumlah populasi tanaman JKS dengan pendekatan agribisnis. 

Logikanya betul, berapa pun JKS yang kita produksi pasti akan laku terjual karena dengan harga JKS yang jauh lebih tinggi dari jeruk sejenis dari luar Timor, JKS masih tetap menjadi primadona konsumen.  Saya kira tidak ada yang salah dengan program tersebut, termasuk pula berbagai studi tata niaga, sosial ekonomi, evaluasi proyek dsbnya.  Sayangnya, logika berpikir yang sangat berorientasi pasar tersebut membuat berbagai pihak, khususnya pemerintah, kurang menaruh perhatian serius akan persoalan hama penyakit, faktor kelembagaan dan kondisi JKS saat ini. 

Secara sadar ataupun tidak, tanaman JKS juga dianggap tanaman yang bisa hidup 'alamiah' dan tidak memerlukan sentuhan teknologi. Lebih ironis lagi beberapa tahun lalu Pemda TTS justru lebih tertarik untuk mengembangkan tanaman vanili dan kapas serat panjang yang sampai saat ini hasil investasi tersebut tidak tampak.

Pada saat yang sama tanaman JKS yang sudah pasti sesuai dengan alam TTS sedang 'minta tolong' karena serangan diplodia dan phytoptora sudah jelas nyata. Walaupun akhirnya ada upaya menangani serangan diplodia dan phytotora melalui penggunaan Bubur California untuk melabur tanaman jeruk, namun dampaknya kurang tampak. 

Salah satu dan mungkin satu-satunya  peserta Proyek OECF yang berhasil di Desa Tobu adalah seorang pensiunan guru. Ia mengatakan bahwa sebagian besar petani menganggap tanaman JKS bisa tumbuh sembarang sepanjang ditanam di bumi TTS dan karena itu ia menilai pengelolaan kebun sangat buruk. "Alam dulu masih subur dan ramah, sekarang tidak lagi dan tanpa "teknologi" produksi dan pengelolaan kebun yang baik, jangan pernah berharap JKS kembali pulih di Timor," katanya.  

Kesan 'tumbuh sembarang' ini juga bahkan saya dapati pada salah satu petani penangkar benih rekanan dinas. Ketika saya bertanya kenapa akar tunggang batang bawah tanaman dipotong atau dianyam (agar bisa masuk dalam polybag), dengan enteng ia mengatakan: "Son apa-apa, tanaman ini kuat, sonde akan mati." Praktek tersebut terus dilakukan sampai saat ini dan saya duga diketahui dan sengaja dibiarkan oleh para 'pemesan' bibit.  Itu baru dari satu unsur teknis, belum lagi dari faktor teknis yang lain. 


JKS saat ini

Sulit memahami kondisi JKS sekarang jika melihat data statistik.  Areal tanaman jeruk keprok tahun 2009 di NTT seluas 1.213 ha (NTT dalam Angka, 2000) dengan asumsi bahwa sebagian besar adalah JKS yang tersebar di Kabupaten TTS dan TTU. Data statistik kabupaten juga menunjukkan bahwa ada kemajuan dari segi populasi dan areal tanam JKS. 

Kalau memang data ini benar, mestinya suplai buah JKS tidak banyak perubahan atau bahkan meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Tetapi kenyataannya adalah buah JKS semakin langka di pasaran, termasuk pada puncak musim panen. Para pedagang antarpulau juga sudah sulit melanjutkan usaha mereka karena langkanya buah JKS.  Kualitas buah JKS juga akhir-akhir ini semakin menurun.  Ini semua menunjukkan bahwa ada yang 'tidak normal' dengan kondisi JKS. 

Kita mungkin perlu kembali belajar bahwa tanaman JKS yang selama ini sukses diusahakan petani adalah tanaman dalam sistem usaha tani pekarangan.  Jumlah populasi yang sedikit dan perhatian petani yang besar karena mudah diamati di pekarangan merupakan salah satu kunci keberhasilan.  Di Molo utara, JKS juga ditemui sebagai salah satu komoditas dalam sistem agro-forestry lokal -- mamar.  Berbagai pendekatan pengembangan kebun JKS yang berorientasi agribisnis, skala usaha, hamparan, dan sebagainya boleh saja dikembangkan, tetapi nilai-nilai dari pengelolaan petani yang 'sukses' di waktu lampau perlu pula dipadukan. 


Kondisi kritis

Lalu apa yang bisa kita lakukan sekarang?  CVPD sekarang sudah dalam wahana publik dan bukti kuat sudah ditunjukkan oleh para penelitinya. Karena itu pemda harus secara terbuka mengumumkan bahwa penyakit CVPD sudah ada di Timor dan JKS ada dalam ancaman serius. 

Kalau CVPD telah menyerang tanaman JKS, itu berarti bahwa vektor penyakit tersebut (diaphorina citri) juga sudah berada di Timor.  Dengan pengakuan terbuka, peta jalan untuk menanggulangi penyakit tersebut bisa dibuat dan diimplementasikan sesegera mungkin.  Perlu kita bangun sense of crisis dari semua pihak sehingga usaha terkoordinasi dan terpadu (integratif) bisa segera dilakukan. 

Pengumuman/pengakuan bahwa JKS sedang ada dalam kondisi kritis akan mempunyai dampak psikologis dan 'politik' yang pahit bagi berbagai pihak. Ibarat penyakit kanker, sudah sangat beruntung kalau dokter bisa mengidentifikasi dengan pasti.  Bahwa pasien harus melakukan terapi yang menyakitkan, itu adalah risiko yang harus bisa kita terima.  Para pejabat pertanian pasti merasa tidak nyaman dan petani sudah pasti harus menanggung kerugian yang sangat berat.  Kita sudah harus lebih dini menyiapkan petani untuk mau secara sukarela melalukan eradikasi bagi tanaman yang telah terserang CVPD. 

Satu lagi pelajaran penting yang bisa kita ambil dari sini adalah kita harus bisa memfungsikan lembaga karantina tanaman dan hewan secara lebih ketat. Lingkungan bio-fisik Timor dan NTT pada umumnya sangat rentan terhadap berbagai 'gangguan'.  Timor sudah semakin terbuka. Kita harus bisa mengambil manfaat dari komunikasi dan transportasi yang semakin lancar, dan berusaha semaksimal mungkin meminimalkan dampak negatifnya. 

Wilayah NTT dengan pintu migrasi penduduk yang sangat banyak juga tidak mungkin kita bebankan masalah karantina tumbuhan dan hewan hanya pada satu institusi. Karena itu membangun kesadaran publik akan pentingnya melindungi komoditas unggulan kita dan komoditas pertanian secara umum perlu terus kita kampanyekan dan praktekkan. *



Mahasiswa PhD di Queensland University, anggota
Forum Akademia NTT, e-mail: yohanisngongo@gmail.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved