Sumba Timur Terkini
Pekerja di Waingapu Mengaku Terimpit Kenaikan Pertamax dan Bahan Pokok
Kondisi itu diperparah dengan kenaikan harga sejumlah barang pokok di pasar, sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan.
Ringkasan Berita:
- Pekerja di Waingapu Kabupaten Sumba Timur mengaku terimpit kenaikan Pertamax dan bahan pokok
- Warga kemudian terpaksa mengeluarkan biaya operasional harian lebih besar dari sebelumnya
- Waga berharap pemerintah bisa segera menurunkan kembali harga BBM
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman
POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang mengalami kenaikan membuat sejumlah warga terimpit.
Warga kemudian terpaksa mengeluarkan biaya operasional harian lebih besar dari sebelumnya.
Kondisi itu diperparah dengan kenaikan harga sejumlah barang pokok di pasar, sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan.
Hal itu disampaikan oleh Ari. Ari adalah salah satu sales perusahaan yang menyediakan kebutuhan rumah tangga, makanan dan minuman di Kota Waingapu, Sumba Timur. Ia mengatakan kondisi tersebut sangat memberatkan ekonominya.
Baca juga: Masalah Ketenagakerjaan di Sumba Timur Kian Marak
“Kenaikan harga ini sangat berat bagi saya. Ini terpaksa kita beli Pertamax,” katanya pada Rabu (17/6/2026).
Ari mengatakan, setiap hari dirinya berkeliling di sekitar kota untuk mencari dan menjangkau pelanggan produknya.
Sepanjang aktivitas itu, ia membutuhkan bahan bakar minyak dalam jumlah yang tidak sedikit. Apalagi, ia mengendarai sepeda motor berpelat luar daerah yang membuatnya harus mengisi BBM nonsubsidi itu.
Sesuai Peraturan Gubernur NTT, kendaraan berpelat luar daerah dan kendaraan yang menunggak pajak dilarang mengisi BBM bersubsidi.
Karena itu, Ari terpaksa mengisi BBM jenis Pertamax yang kini dijual dengan harga Rp16.250 per liter atau naik Rp4.000 dari harga sebelumnya.
Ari berharap pemerintah bisa segera menurunkan kembali harga BBM. Baginya, kondisi ini sangat merugikan pekerja seperti dirinya.
“Berharap harga bisa turun. Ini su berat kami, belum lagi harga barang naik,” ungkapnya.
Sementara itu, Pengawas SPBU Kambaniru, Meki kepada Pos Kupang mengatakan, setelah terjadi kenaikan harga Pertamax, permintaan mengalami penurunan yang signifikan.
Sebelum kenaikan harga, kata dia, penjualan Pertamax mencapai 4.000 liter per hari. Kini penjualannya menurun. Dalam sehari hanya terjual ratusan liter.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ari-warga-Kota-Waingapu.jpg)