Editorial
Editorial: Kisah Pilu Siswa di Sumba
Demi mengenyam pendidikan, siswa SDI dan SMPN Satu Atap Hiliwuku menantang fajar, melangkah sejauh 11 kilometer setiap hari menuju sekolah.
Pemerintah daerah dapat mengalokasikan dana desa atau berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat untuk mengadakan transportasi lokal, seperti angkutan khusus atau pikap sekolah.
Anak-anak di daerah terpencil yang minim akses transportasi sepatutnya mendapatkan perhatian lebih dari negara.
Dalam kondisi seperti di Sumba Timur, penyediaan transportasi sekolah gratis tentu jauh lebih mendesak ketimbang makanan bergizi.
Makanan bergizi tidak akan optimal diserap untuk belajar jika tubuh anak sudah terlanjur kelelahan akibat berjalan kaki puluhan kilometer setiap hari.
Anak adalah masa depan bangsa. Jika mereka mendapatkan akses pendidikan dan transportasi yang layak, kegiatan belajar mengajar dapat diikuti jauh lebih efektif.
Kita semua menaruh harapan besar agar pemerintah mendengar dan menjawab jeritan senyap anak-anak di pelosok negeri ini. Semoga. (*)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/siswa-SMP-Negeri-Satu-Atap-Hiliwuku-jalan-kaki.jpg)