Editorial
Editorial: Masa Depan Anak Wolomoni
Kita perlu melihat penolakan dari Mosalaki Pu’u Wolomoni, Gregorius Masa, dengan kacamata ketulusan.
Ringkasan Berita:
- Kita perlu melihat penolakan dari Mosalaki Pu’u Wolomoni, Gregorius Masa, dengan kacamata ketulusan.
- Ketika para tetua adat menyerahkan lahan ini kepada pemerintah tahun 1968, ada harapan mulia yang dititipkan yaitu tanah tersebut sepenuhnya digunakan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.
- Nilai sejarah dan amanah luhur inilah yang patut dihormati.
- Lahan kosong yang tersisa adalah harapan bagi masa depan SDN Wolomoni.
POS-KUPANG.COM - Pendidikan adalah investasi terbaik bagi masa depan suatu bangsa. Pendidikan yang baik niscaya membawa kemajuan dalam segala bidang. Dalam spirit itulah, kabar mengenai kejadian di SDN Wolomoni, Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, tentu mengusik nurani kita bersama.
Kehadiran alat berat yang merusak pagar dan fondasi sekolah demi pembangunan Gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) bukanlah pemandangan yang kita harapkan di tengah lingkungan tempat anak-anak kita menuntut ilmu.
Adalah bijak bila kita meluangkan waktu mendengar jeritan hati dari para guru, orang tua, dan tokoh adat yang mau menjaga ruang gerak bagi masa depan generasi penerus mereka.
Kita perlu melihat penolakan dari Mosalaki Pu’u Wolomoni, Gregorius Masa, dengan kacamata ketulusan.
Ketika para tetua adat menyerahkan lahan ini kepada pemerintah tahun 1968, ada harapan mulia yang dititipkan yaitu tanah tersebut sepenuhnya digunakan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Nilai sejarah dan amanah luhur inilah yang patut dihormati.
Lahan kosong yang tersisa adalah harapan bagi masa depan SDN Wolomoni. Sekolah ini masih membutuhkan fasilitas pendukung. Sebut misalnya laboratorium, perpustakaan dan mes guru untuk para pendidik yang datang jauh dari luar desa demi mengabdi di sana.
Meskipun lahan itu aset negara, tetapi memaksakan pembangunan koperasi di saat masih ada opsi lahan alternatif, tentu kurang elok bagi masa depan pendidikan di wilayah tersebut.
Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) memiliki visi yang sangat baik untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga desa. Kita semua mendukung penuh program nasional ini.
Namun, sebuah program yang baik tentu akan berbuah lebih manis jika diawali komunikasi yang harmonis, transparan, dan mengedepankan asas kekeluargaan.
Sikap saling melempar tanggung jawab atau memilih bungkam bukanlah karakter masyarakat kita yang menjunjung tinggi budaya musyawarah untuk mufakat. Pertemuan lintas sektor pada 19 Mei lalu sebenarnya sudah membuka jalan terang dengan menyepakati perlunya mencari lokasi alternatif.
Mari kembali ke semangat itu. Pemerintah desa, dinas terkait, pengurus koperasi, dan pihak TNI dapat duduk bersama kembali dengan para mosalaki dan tokoh masyarakat dalam suasana sejuk demi mencari solusi yang saling menguntungkan.
Tak ada persoalan yang tidak dapat diselesaikan jika kita mau saling mendengarkan dengan hati yang lapang. Kita mengetuk pintu hati Pemerintah Kabupaten Ende segera hadir sebagai penengah yang bijaksana.
Mari kita tarik mundur ketegangan di lapangan, perbaiki kembali fasilitas sekolah yang sempat rusak, dan cari lahan pengganti yang lebih tepat untuk gedung KDMP. Ekonomi desa harus maju melalui koperasi, tetapi marwah pendidikan anak-anak kita tidak boleh dikorbankan.
Dengan berjalan beriringan, Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende tidak hanya akan maju secara ekonomi, tetapi juga akan melahirkan generasi cerdas yang lahir dari rahim SDN Wolomoni yang terus berkembang maju. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Lokasi-Pembangunan-KDMP-di-belakang-SDN-Wolomoni-Ende.jpg)