TTS Terkini
Warga TTS Keluhkan Melonjaknya Harga Barang, Berharap Kondisi Kembali Normal
Saat harga kebutuhan meroket, dampak kenaikan harga sembako cukup pembuatnya berpikir untuk menata kembali harga sembako yang akan ia jual.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Maria Vianey Gunu Gokok
POS-KUPANG.COM, SOE - Agustina Lalu (38) Desa Noinbila, Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten TTS mengeluh adanya kenaikan harga bahan pokok. Agustina berharap kondisi dapat kembali normal.
Ketika ditemui di Pasar Inpres Soe, ia bersama suaminya sedang berbelanja kebutuhan rumah tangga pada Rabu (10/6/2026).
Ia diketahui memiliki usaha kios klontong di rumahnya. Kios tersebut menjual sembako, sayuran juga beberapa pakaian.
Saat harga kebutuhan meroket, dampak kenaikan harga sembako cukup pembuatnya berpikir untuk menata kembali harga sembako yang akan ia jual.
Baca juga: Perkuat Kemandirian Pangan, Kadis TPHP TTS Kukuhkan 21 Kelompok Tani
Beberapa yang paling bergejolak seperti minyak goreng dan sayuran segar. Ia mengaku untuk minyak goreng jenis minyak kita mengalami kenaikan signifikan.
Harga semula Rp 15.000 ia beli, dan menjual dengan Rp 18.000, saat ini ia beli dengan Rp 18.000 bahkan beberapa toko sudah menjual dengan Rp 20.000.
Kios klontongnya juga menjajakan sayuran segar. Ia membaca peluang, bahwa Desa Noinbila, Kecamatan Mollo Selatan berjarak cukup jauh dari pasar sehingga ia berusaha menyediakan semua kebutuhan warga sekitar di Kiosnya.
"Selain itu sayuran sekarang, dulu kita beli satu ikat seribu, sekarang tiga lima ribu. Tapi kita mengerti untuk semua kondisi serba naik ini itu cara supaya penjual sayur juga tetap bisa bertahan," sebutnya.
Agustina menilai sayur adalah kebutuhan dengan harga paling rendah. Apabila pedagang sayur tetap dengan harga yang lama tanpa penyesuaian, pedagang sayur akan sulit bertahan.
"Mungkin seperti harga sayur yang sudah mahal ini, kan barang sudah tambah naik, dengan kondisi pedagang kalau mereka jual murah juga kasian. Pulang harus beli beras, garam, minyak, belum transportasi lagi, belum sisihkan untuk modal, belum anak sekolah, jadi kita saling mengerti saja," ungkapnya pasrah.
Ia mengaku dampak penurun daya beli kian nyata. Penghasilan dari Kios Klontongnya menurun drastis perharinya.
"Sekarang ini kita punya usaha pendapatan juga menurun drastis. Semakin kecil tidak sama seperti dulu, mungkin karena ekonomi masyarakat atau daya beli masyarakat yang turun sekali, apalagi sekarang barang naik terus. Penghasilan sekarang terlalu beda jauh, dulunya bisa Rp 1.000.000 perhari, sekarang menurun Rp 500.000 bahkan sampai Rp 250.000," ungkapnya.
Meski begitu, nampak Agustina memilih bertahan. Ia menjawab optimis dengan kondisi ini. Meski begitu, ia tetap berharap kondisi dapat kembali normal dan memberikan sedikit kelegahan bagi masyarakat.
"Neo mau bagaimana lagi, dari sana sudah begitu, kita mau bagaimana. Mau tidak mau kita upayakan supaya tetap jalan. Mau berhenti belanja tapi ini kebutuhan. Ya tapi kita berharap bisa kembali normal, supaya kita bisa hidup kembali," ungkapnya sedang nada sedikit tertawa mencairkan suasana.
Selain itu, terkait kenaikan harga pertamax yang terjadi, Ia dan suaminya mengaku belum merasakan dampak signifikan.
Pasalnya mereka selama ini menggunakan BBM berjenis Pertalite. (any)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Agustina-Lalu-warga-Naiola.jpg)