Rabu, 27 Mei 2026

Kasus Penembakan di SBD

Orang Tua Korban: Anak Saya, Mario, Baik dan Penurut

Selama tinggal dengan kami mulai SMP sampai mahasiswa semester akhir di Universitas Stella Maris Sumba ini, almahrum anak sangat baik.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Petrus Piter | Editor: OMDSMY Novemy Leo
POS-KUPANG.COM/PETRUS PITER
RUMAH DUKA - Rumah duka korban penembakan di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Mario Marselino Kurra, di Kampung Wano Karedi, Desa Karuni, Kecamatan Loura, Kabupaten SBD, sesuai rencana korban akan dimakamkan pada Sabtu, 30 Mei 2026.  

Ringkasan Berita:
  • Selama tinggal dengan kami  mulai SMP sampai mahasiswa semester akhir di Universitas Stella Maris Sumba ini, almahrum anak sangat baik. Pekerja keras, tidak kemana-mana dan tidak minum minuman keras.  
  • Biasa kalau sudah pulang dari kampus, habis makan dan bantu menjaga kios,' ungkap ibu Yuliana Rambi ditemui POS-KUPANG.COM di rumah duka di Kampung Wano Karedi, Desa Karuni, Kecamatan Loura, Sumba Barat Daya, Senin 25 Mei 2026.

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Petrus Piter

POS-KUPANGCOM,TAMBOLAKA- "Anak  saya Mario Marselino Kurra (24) adalah anak sangat baik. Ia penurut dan rajin kerja. Sejak  masuk sekolah SMP, anak pertama dari 5 bersaudara, buah kasih  bapak Petrus Ngongo Kurra dan ibu Maria Imakulata (almahrum) warga Kampung Wano Karedi, Desa Karuni, Kecamatan Loura, Sumba Barat Daya tinggal dengan kami di Gokat, Desa Pogo Tena, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya.  

Suami saya Lambertus Gaina Bara adalah adik kandung dari ayah korban Mario Marselino Kurra yakni Petrus Ngongo Kurra. Selama tinggal dengan kami  mulai SMP sampai mahasiswa semester akhir di Universitas Stella Maris Sumba ini, almahrum anak sangat baik. Pekerja keras, tidak kemana-mana dan tidak minum minuman keras.  

Biasa kalau sudah pulang dari kampus, habis makan dan bantu menjaga kios,' ungkap ibu Yuliana Rambi ditemui POS-KUPNG.COM di rumah duka di Kampung Wano Karedi, Desa Karuni, Kecamatan Loura, Sumba Barat Daya, Senin 25 Mei 2026.

Saat kejadian penembakan yang  menewaskan anaknya, Jumat 22 Mei 2026 sekitar pukul 16.00 wita  lalu, ia bersama suami dan anak-anak ada dibagian belakang rumah sehingga tidak mengetahui kejadian persisnya.

Ia bersama suami, baru mengetahui hal itu setelah mendengar teriakan panggilan dari penjual es yang mengatakan anakmu terkena tembakan. Seketika ia bersama suami lari ke depan rumah, melihat korban Mario sudah tergeletak diatas bale-bale di depan rumahnya.

Saat itu, terlihat darah menetes didada kanan Mario dan tak ada suara saat dipanggil bapanya. Masih ada nafas cuma tidak ada suaranya lagi.

Saat itu, pelaku penembakan ada juga. Bahkan masih-sama menolong membawa korban ke rumah sakit Karitas Weetabula. Setelah menjalani penanganan oleh dokter rumah sakit Karitas Weetabula,  dan tak lama kemudian, dokter menyatakan anakmya telah meninggal dunia. Mendengar itu, pelaku langsung menyerahkan diri ke Polsek Loura Sumba Barat Daya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, setelah    menyaksikan kejadian yang menimpah anaknya, ia tak sanggup melihatnya karena menyaksikan darah keluar dari dada kanan dan tak ada suara sama sekali. Seketika langsung membawanya ke rumah sakit, tetapi sayang nyawa anak saya tak tertolong.

"Kasihan anak  saya, dia harapan keluarga kami. Dia anak baik dan rajin Kerja. Setelah tamat SMA, ia mau kuliah. Waktu itu, kami belum punya rezeki. Saya bilang sama anak saya, kerja dulu baru lanjut kuliah.Dia Turuti permintaan saya.  Dua tahun bekerja baru lanjut kuliah di Universitas Stella Maris Sumba. Tanggal 19 Mei 2026, anak saya minta uang regis dan mau ujian akhir di kampus Unmaris Sumba. Semua uang sudah bayar. Sayang, semua itu tinggal kenangan.  Kasihan anak saya,  cita-cita mulianya hilang selama-lamanya. Kini tinggal hanya kenanganan  saja" ucapnya penuh lirih.

Menurutnya, saat itu, korban bersama  bapaknya Lambertus Gaina Bara   baru saja selesai mengangkat  padi yang dijemur di halaman rumahnya. Setelah itu, ia pergi ke depan untuk menjaga kios. Saat itu, ia sedang menghitung es krim langganan kiosnya dari penjual es Krim  Waingapu, Sumba Timur yang baru saja tiba di rumahnya. Setelah hitung, ia ke belakang meminta uang sama bapaknya untuk membayar sama penjual es krim itu.

Sekitar 3-4 menit kemudian,  mendapat teriakan dari penjual es krim, mari tolong anakmu terkena tembakan. Seketika bersama suami ke depan, melihat anaknya tergeletak dibale-bale di depan rumahnya. Ia melihat ada darah keluar didada kanan, tetapi tidak menyahut saat dipanggil.

Tidak ada suara lagi. Masih ada nafas. Saya panik dan lemah badan meminta segera bawah ke rumah sakit. Saat itu, pelaku masih ada dan sama-sama membawa anak saya ke rumah sakit.

"Sayang anak sayang tak tertolong. Saya sangat kecewa, saya tidak siap menerima kejadian ini yang datangnya begitu cepat dan seketika hilang selamanya. Dia harapan keluarga kami. Kami kehilangan selamanya. Kami minta pelaku harus diproses tegas sesuai hukum yang berlaku," ujarnya dengan suara terbata-bata meratapi anaknya yang terbujur kaku dirumahmya

Kini, kami keluarga sedang mempersiapkan untuk pemakamannya yang direncanakan akan berlangsung, Sabtu 30 Mei 2206. (pet)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS 

 

 

 

 


 
 
 
 3 Lampiran  •  Dipindai oleh Gmail 


 

 
 
 

 
 
 

 

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Menampilkan

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved