Rabu, 20 Mei 2026

Malaka Terkini

Ombak Tinggi Ancam Nelayan Malaka, Muara Hasan Maubesi Disebut Titik Paling Berbahaya

Dalam sekali melaut, dirinya bersama rekan-rekannya terkadang harus menghabiskan waktu hingga dua malam di laut sebelum kembali ke daratan.

Tayang:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/KRISTOFORUS BOTA
KAMPUNG NELAYAN - Tampak para nelayan sedang membereskan hasil tangkapan mereka usai melaut di Kampung Nelayan, Desa Kletek, Malaka pada Selasa (19/5/2026). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota

POS-KUPANG.COM, BETUN - Nelayan di Kampung Nelayan, Desa Kletek, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, mengeluhkan cuaca ekstrem yang belakangan melanda wilayah perairan selatan Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Kondisi cuaca tersebut berdampak langsung pada tingginya gelombang laut selatan yang selama ini dikenal cukup ganas dan menjadi tantangan utama bagi para nelayan tradisional setempat.

Keluhan itu disampaikan Filmon Tahu Seran (34), salah satu nelayan di Kampung Nelayan, Desa Kletek, saat ditemui POS-KUPANG.COM.

Saat dipantau di lokasi pada Selasa (19/5/2026), Filmon bersama rekannya baru saja kembali dari melaut. Mereka tampak sibuk membereskan hasil tangkapan yang dibantu oleh istri dan anak-anak mereka di sekitar jembatan kayu yang digunakan sebagai tempat bersandar perahu nelayan.

Baca juga: BREAKING NEWS : Tengkorak Manusia Ditemukan di Kali Mati Malaka Dua Terduga Pelaku Diamankan Polisi

Suasana di kampung nelayan itu terlihat hidup. Sejumlah anak-anak tampak ikut menyaksikan aktivitas para nelayan. Beberapa di antaranya bahkan membantu memindahkan ikan hasil tangkapan menggunakan ember dari atas kapal menuju jembatan kayu yang tersusun menyerupai pelabuhan sederhana.

Hasil tangkapan para nelayan kali ini terlihat cukup memuaskan. Tampak beberapa jenis ikan seperti ikan ekor kuning dan tongkol memenuhi wadah-wadah penampungan milik para nelayan.

Meski baru saja pulang dari laut setelah menghadapi cuaca yang cukup berat, raut wajah para nelayan terlihat sumringah. Senyum syukur tampak terpancar dari wajah mereka karena masih bisa membawa pulang hasil tangkapan yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Saya sudah melaut sejak lama, sampai sekarang sudah sekitar 20 tahun lebih. Selama ini saya menggunakan kapal ikan milik sendiri,” ujar Filmon saat diwawancarai usai membereskan hasil tangkapannya sambil menunjuk ke arah kapal miliknya.

Menurut Filmon, hasil tangkapan para nelayan tidak pernah menentu.

Dalam sekali melaut, dirinya bersama rekan-rekannya terkadang harus menghabiskan waktu hingga dua malam di laut sebelum kembali ke daratan.

“Kalau hasil paling banyak itu kadang bisa berkisar antara Rp5 juta sampai Rp6 juta kalau sudah diuangkan. Itu pun tergantung jenis ikannya berbeda-beda. Sedangkan kalau paling sedikit itu kadang hanya sekitar Rp500 ribu,” jelasnya.

Ia mengatakan, tantangan terbesar yang dihadapi para nelayan saat musim hujan seperti sekarang adalah kondisi cuaca yang tidak menentu disertai ombak besar di perairan selatan Malaka.

“Tantangan paling utama yang kami hadapi di musim hujan ini adalah cuaca. Selain itu biasanya ombak di Malaka ini sangat tinggi dan keras,” ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat banyak nelayan memilih tidak melaut karena khawatir dengan keselamatan mereka. Hanya segelintir nelayan yang berani mengambil risiko untuk tetap pergi mencari ikan di tengah cuaca buruk.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved