Selasa, 5 Mei 2026

Sumba Timur Terkini

Capaian Literasi dan Numerasi Naik Turun di Sumba Timur, Perbaikan Dikebut

Bupati berharap, berbagai langkah program ke depan juga dapat mendorong peningkatan masa sekolah di kabupaten ini yang terbilang masih rendah.

Tayang:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/IRFAN BUDIMAN
DENGAR ARAHAN - Siswa di Sekolah Dasar Inpres Kalu, Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, NTT sedang mendengarkan arahan dari Kepala Sekolah Naomi Hada Ndapabanjal pada Senin (4/5/2026). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman

POS-KUPANG.COM, WAINGAPU - Pemerintah Indonesia telah menetapkan anggaran untuk pendidikan minimal sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pun di daerah, secara khusus juga telah diatur sebesar 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dialokasikan untuk sektor pendidikan, sebagaimana yang diatur dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Kendati demikian, alokasi anggaran ini belum sepenuhnya memantapkan mutu pendidikan di daerah. Di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi NTT, misalnya, literasi dan numerasi masih menjadi persoalan.

Kepala SD Inpres Kalu di Sumba Timur, Naomi Hada Ndapabanjal menyebutkan, pada tahun 2024, tingkat capaian literasi di sekolah yang beralamat di Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera tersebut masuk dalam zona hijau atau telah memenuhi standar kompetensi minimum nasional.

Baca juga: Pemkab Sumba Timur Fokus Penguatan Literasi dan Numerasi

Namun, pada tahun 2025 angka capaian tersebut menurun dari 96 turun ke 90.

“Perkembangan literasi dan numerasinya naik turun. Pada tahun 2024 kami naik hijau semua, tetapi pada 2025 angka literasinya dari 96 turun ke 90,” katanya saat diwawancarai POS-KUPANG.COM, Senin (4/5/2026).

Penurunan yang sama juga terjadi pada capaian numerasi. Pada tahun 2025 turun dari 67 ke 56.

“Numerasi anjlok betul dari 67 turun ke 56,” sebutnya.

Naomi belum memastikan penyebab menurunnya capaian literasi dan numerasi di sekolah tersebut. 

Namun, ia menduga ada kelemahan dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

Selain itu, kata dia, kurangnya dukungan dari orang tua terhadap perkembangan belajar anak di rumah juga ikut mempengaruhi capaian tersebut.

“Dalam pelaksanaan pembelajaran belum fokus. Anak-anak juga masih belajar di sekolah, di rumah tidak ada. Kalau belajarnya di sekolah saja lalu di rumah tidak ada lagi waktu belajar, itu bisa berpengaruh,” kata dia.

Kondisi tersebut lanjut dia, terjadi karena tidak sedikit orang tua sibuk bekerja.

“Kalau dari segi lingkungan di sini, lebih banyak orang tua sibuk bertani dan menenun. Kalau sudah capai tidak ada lagi perhatian untuk anak. Sebagian besar berharap ke sekolah,” ungkapnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved