Kamis, 14 Mei 2026

Sumba Barat Terkini

Wagub NTT Minta Pelaksanaan Pasola di Sumba Barat Ditata Lebih Tertib dan Menarik

Johni Asadoma mengusulkan peserta Pasola menggunakan kaos seragam yang dibedakan berdasarkan kelompok.

Tayang:
Penulis: Petrus Piter | Editor: Edi Hayong
POS-KUPANG.COM/Petrus Piter
PASOLA- Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma meminta agar atraksi pasola di Kabupaten Sumba Barat NTT ditata agar lebih baik dan menarik. 

Ringkasan Berita:
  • Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma meminta pelaksanaan atraksi budaya Pasola di  Sumba Barat agar ditata lebih tertib
  • Johni Asadoma mengusulkan peserta Pasola menggunakan kaos seragam yang dibedakan berdasarkan kelompok
  • Johni juga menyarankan agar area penonton dipagari menggunakan bambu, kayu atau tali sebagai penanda batas

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Petrus Piter

POS-KUPANG.COM, WAIKABUBAK- Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma meminta pelaksanaan atraksi budaya Pasola di  Sumba Barat agar ditata lebih tertib tanpa menghilangkan nilai adatnya.

Selain itu peserta harus berseragam dan lapangan pasola harus di pagar.

Hal itu agar tradisi yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumba tetap aman bagi peserta maupun penonton.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma menyampaikan hal itu seusai menyaksikan atraksi budaya Pasola di Desa Wetana, Kecamatan Lamboya Barat, Sabtu, 14 Maret 2026.

Johni Asadoma mengusulkan peserta Pasola menggunakan kaos seragam yang dibedakan berdasarkan kelompok.

“Misalnya yang satu kelompok memakai warna merah maka yang lain warna berbeda. Ikat kepala juga disesuaikan dengan warna kaos,” ujarnya.

Selain itu, Johni menilai perlu adanya wasit dari para rato atau tokoh adat yang mengawasi jalannya Pasola. Ia juga menyarankan dibuat garis pembatas di tengah arena agar masing-masing kelompok tidak melewati batas.

Baca juga: Meriah, Atraksi Pasola Homba Kalayo Waikaninyo Sumba Barat Daya NTT

“Tadi saya lihat ada yang sampai masuk ke kelompok lain. Ini berbahaya. Karena itu perlu dibuat garis pembatas di tengah supaya masing-masing tidak melewati batas,” katanya.

Johni juga menyarankan agar area penonton dipagari menggunakan bambu, kayu atau tali sebagai penanda batas.

Hal itu sekaligus menjadi cara untuk mendidik masyarakat agar patuh pada aturan. Walaupun hanya menggunakan tali rafia, itu tetap sah sebagai tanda batas dan tidak boleh dilanggar.

Lebih lanjut, perlu disiapkan tempat khusus bagi pedagang serta tribun bagi penonton yang ingin menyaksikan Pasola dengan lebih nyaman.

“Kalau ada tribun yang lebih nyaman, bisa dibuat berbayar. Turis asing juga pasti tertarik menonton Pasola,” ujarnya.

Sementara itu, Rato Wote Daro,salah satu tokoh adat setempat  menjelaskan, setelah atraksi Pasola biasa dilakukan ritual pembagian ketupat sebagai simbol perdamaian.

Dalam Pasola ada aksi dan reaksi, bahkan adu fisik. Tetapi setelah itu semua kembali berdamai. Ketupat dibagikan sebagai simbol perdamaian dan persaudaraan,” paparnya.(pet)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved