Senin, 13 April 2026

Sumba Timur Terkini

Lapas Kelas IIA Waingapu Optimalkan Pembinaan Rohani dan Keterampilan Narapidana

Lapas Kelas IIA Waingapu tak berhenti melaksanakan pemberdayaan warga binaan melalui pembinaan iman, pembangunan kesadaran hukum.

POS-KUPANG.COM/IRFAN BUDIMAN
PEMBINAAN ROHANI - Kepala Lapas Kelas IIA Waingapu, Gidion ISA Pally menekankan pendekatan personal dan budaya kepada warga binaan. Ia percaya, pendekatan tersebut dapat menciptakan hubungan yang harmonis dan meningkatkan kesadaran serta kepatuhan hukum. 

Ringkasan Berita:
  • Kalapas Gidion ISA Pally menyebut 242 warga binaan dibina lewat penguatan iman, kesadaran hukum, dan kemandirian
  • Pembinaan dilakukan tiga tahap: awal, lanjutan, hingga asimilasi dan reintegrasi sosial
  • Narapidana dilatih keterampilan seperti pertanian, mebel, dan usaha kecil untuk bekal mandiri
  • Pendekatan personal dan budaya diterapkan agar mereka siap kembali ke masyarakat dan tidak mengulangi pelanggaran

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Budiman

 

POS-KUPANG.COM, WAINGAPULapas Kelas IIA Waingapu tak berhenti melaksanakan pemberdayaan warga binaan melalui pembinaan iman, pembangunan kesadaran hukum dan mendorong kemandirian melalui usaha kreatif.

Hal tersebut disampaikan Kepala Lapas Kelas IIA Waingapu, Gidion ISA Pally kepada POS-KUPANG.COM, Selasa (3/3/2026). Ia menyebutkan, hingga saat ini terdapat 242 narapidana yang menjalani masa pidana di lapas tersebut.

Gidion ISA Pally, menjelaskan, dalam seminggu warga binaan selalu mendapatkan pembinaan. Pembinaan tersebut datang dari yayasan pemberdayaan, para pendeta Gereja Kristen Sumba (GKS), tim Kemenag, para teolog, dan juga imam Katolik.

“Menyangkut pembinaan kita ada pembinaan rohani ini di sini. Kami mengatur waktu supaya tidak bertabrakan,” katanya.

Ia menegaskan, pembinaan rohani merupakan aspek penting dalam membangun fondasi mental dan perilaku positif bagi warga binaan.

 

Tiga Tahap Pembinaan

Secara umum, pembinaan dilakukan melalui tiga tahap, yakni tahap awal, tahap lanjutan dan tahap akhir.

Sebelum memasuki tahapan tersebut, pihak lapas kata Gidion, terlebih dahulu melakukan pemetaan potensi narapidana.

“Di saat dia sudah ada putusan, kita langsung menginventarisir bakat dan minatnya itu sebelum nanti melewati semua tahapan yanga ada,” ujar Gidion ISA Pally.

Pada tahap awal, narapidana menjalani masa admisi dan orientasi serta pembinaan kepribadian kurang lebih satu bulan dengan pengamanan maksimum. 

Dalam masa ini, dilakukan pengamatan perilaku dan pengenalan lingkungan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved