Rabu, 6 Mei 2026

TTU Terkini

Dua Unit Rumah di Desa Bitefa Terancam Longsor, Warga Dihantui Rasa Khawatir 

Hal ini menyebabkan kekhawatiran tersendiri bagi pemilik rumah. Warga tidak dapat beraktivitas dengan baik lantaran selalu dihantui rasa cemas.

Tayang:
Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Oby Lewanmeru
POS.KUPANG.COM/DIONISIUS REBON
TERANCAM LONGSOR - Lokasi longsor di Desa Bitefa, Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten TTU ancam rumah warga, Rabu, 4 Februari 2026 

Ringkasan Berita:
  • Dua unit rumah milik warga Desa Bitefa, Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) NTT terancam longsor
  • Rumah tersebut milik Sergilius Nailiu dan Yustina Lalus
  • Kejadian ini telah dilaporkan secara berulang kali ke BPBD Kabupaten TTU

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon 

POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Sebanyak dua unit rumah milik warga Desa Bitefa, Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT terancam longsor. 

Dua unit rumah yang berlokasi di RT 004, Dusun II ini terancam jatuh ke kali akibat tanah longsor tersebut.

Rumah tersebut milik Sergilius Nailiu dan Yustina Lalus. Kejadian ini telah dilaporkan secara berulang kali ke BPBD Kabupaten TTU. Longsor hebat perdana terjadi pada awal tahun 2025 lalu. 

Laporan bencana longsor pada titik ini telah dilayangkan sebanyak tiga kali. Laporan ketiga dilayangkan pada pekan ini. Sementara dua laporan lainnya telah dikirim pada tahun 2025 lalu.

Baca juga: YKPA Gelar Kegiatan Pelatihan Modul Kecakapan Hidup Modul Dasar Bagi Guru SMK di TTU dan Malaka 

Kendati demikian, hingga saat ini laporan tersebut tak kunjung menuai respon positif. Hingga detik ini juga para pemilik rumah masih menanti tindak lanjut dari laporan mereka itu.

Pemilik rumah bernama Sergilius Nailiu (40) mengatakan, rumah miliknya berada dan warga lain bernama Yustina Lalus berada di pinggir kali. Sebelumnya, jarak antara pondasi rumah dan kali sejauh 12 meter sampai 15 meter.

Meskipun begitu, lahan tersebut mulai terkikis banjir ketika hujan lebat melanda wilayah itu dan mengalami longsor. Saat ini jarak pondasi rumah dan bibir longsor tersisa 4 meter.

Hal ini menyebabkan kekhawatiran tersendiri bagi pemilik rumah. Warga tidak dapat beraktivitas dengan baik lantaran selalu dihantui rasa cemas.

Ia menuturkan, pada tahun 2025 lalu, pihaknya melalui pemerintah desa telah melaporkan kejadian longsor ini sebanyak 2 kali kepada BPBD TTU.

Setelah laporan itu diterima pegawai BPBD dan PUPR telah meninjau langsung dan melakukan pengukuran lokasi longsor.

"Sudah dua kali survei dan ukuran tahun 2025 lalu, tetapi sampai sekarang tidak ada tindak lanjut," ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Sergilius berharap, lokasi tersebut bisa dipasang bronjong untuk menahan tanah longsor dan mencegah banjir mengikis tanah. 

Ia mengaku sulit tidur pada malam hari apabila wilayah tersebut dilanda hujan lebat dan banjir. Beberapa kali mereka terpaksa bangun untuk memantau lokasi longsor sebagai langkah antisipasi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved