Kamis, 23 April 2026

Belu Terkini 

Kisah Guru di Perbatasan RI-Timor Leste, Tetap Setia Mengajar Meski Digaji Rp300.000 Per Triwulan

Momen Hari Guru Nasional tahun 2025 ini, kita patut mengenang para pahlawan tanpa tanda jasa atas dedikasinya

Penulis: Agustinus Tanggur | Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
GAJI KECIL - Yustus Nai Kau salah satu guru SMP swasta di Kabupaten Belu, wilayah perbatasan RI-RDTL, tetap setia mengajar meski digaji Rp300 ribu perbulan, Selasa (25/11/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Terdorong mendidik anak bangsa
  • Guru swasta harus diperhatikan
  • Mendapat insentif dari pemerintah pusat

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Agustinus Tanggur

POS-KUPANG.COM, ATAMBUA - Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Momen Hari Guru pada tahun 2025 ini, kita patut mengenang para pahlawan tanpa tanda jasa atas dedikasinya dalam mencerdaskan anak-anak bangsa.

Meski memiliki tugas mulia, masih ada banyak guru yang jauh dari hidup sejahtera. Mereka setia mendidik meski gajinya sangat minim.

Kondisi itu dialami Yustus Nai Kau, S.Pd, Gr, salah guru swasta di Kabupaten Belu, wilayah perbatasan RI-Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).

Bertepatan dengan Hari Guru Nasional, Yustus berharap pemerintah semakin memperhatikan nasib para guru swasta, terutama mereka yang bertugas di perbatasan. 

Menurutnya, guru adalah pilar penting bagi masa depan generasi bangsa, sehingga kesejahteraan mereka perlu diperkuat agar proses pendidikan berjalan optimal.

“Sesuai tema tahun 2025, Saya berharap guru-guru hebat yang ada di wilayah perbatasan tetap kuat demi Indonesia yang kuat. Dan kami berharap guru swasta juga diperhatikan lagi ke depannya,” ungkap Yustus, Selasa (25/11).

Yustus tidak menampik realita pahit mengenai penghasilan yang ia terima. Sebagai guru swasta, gaji yang diperolehnya hanya Rp300.000 setiap tiga bulan. 

Jumlah tersebut memang masih sangat jauh dari kata cukup, namun tidak pernah memadamkan semangatnya untuk terus mengajar.

“Kami bersyukur tahun 2025 ini mendapatkan insentif dari pusat. Tujuh bulan diterima satu kali, sekitar dua juta lebih. Itu sangat membantu. Ditambah lagi biasanya ada penambahan dari Yayasan,” tuturnya.

Meski demikian, ia berharap adanya regulasi yang lebih berpihak pada guru swasta agar pendapatan dapat lebih layak dan diterima secara berkala.

Yustus mulai mengabdikan diri di dunia pendidikan sejak tahun 2017. Saat itu ia masih berstatus tenaga sukarela, tanpa pendapatan tetap.

Dorongan untuk mendidik anak bangsa menjadi energi yang membuatnya bertahan hingga saat ini.

Selama mengabdi, Yustus baru satu kali mengikuti seleksi CPNS. Meskipun belum membuahkan hasil, ia tidak kehilangan harapan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved