TTU Terkini
PT Pegadaian Merajut Mimpi Perempuan Penenun dari Tapal Batas Negara
Perempuan kelahiran 1980 ini mengaku telah menjadi penenun sejak muda. Pada zaman dahulu mereka diwajibkan ibu untuk pandai menenun.
Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Dionisius Rebon
POS-KUPANG.COM, KEFAMENANU - Maria Kaba (45) sibuk meluruskan setiap helai benang. Jemari yang keriput dimakan usia itu lihai merapikan ujung benang kemudian menarik sebatang kayu lalu memukul lembut tumpukan benang itu. Berulang kali.
Setiap sulaman merangkai kenangan akan petuah ibu, warisan leluhur dan originalitas. Maria masih mempertahankan gerakan dan berhenti pada hentakan terakhir berbunyi nyaring menggema di sudut-sudut rumah berdinding bebak (dinding yang dibuat dari pelepah daun lontar).
Maria merupakan seorang ibu rumah tangga. Bersama suami dan tiga orang anak, mereka berdomisili di RT 003, RW 001, Desa Bakitolas, Kecamatan Naibenu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).
Hari itu Jumat, 10 Oktober 2025, demi menjangkau rumah ini, penulis rela menempuh perjalanan sejauh 33 kilometer dengan waktu tempuh 1,5 jam.
Hawa panas mengakar di ubun-ubun. Desa Bakitolas terletak tepat di wilayah perbatasan RI-RDTL Distrik Oecusse (sebuah wilayah Enklave Negara Timor Leste yang berbatasan dengan Kabupaten Kupang dan Kabupaten TTU).
Baca juga: Tragedi Berdarah di TTU, Dua Saksi Gambarkan Situasi Sebelum dan Pasca Kejadian di Desa Amol
Perempuan kelahiran 1980 ini mengaku telah menjadi penenun sejak muda. Pada zaman dahulu mereka diwajibkan ibu untuk pandai menenun.
Harga kain tenun bervariasi. Demi menuntaskan 2 kain tenun berukuran jumbo, Maria menghabiskan waktu sebulan. Harga 1 kain tenun berukuran jumbo dengan kualitas mumpuni berkisar Rp. 1.000.000 sampai Rp. 5.000.000.
Biasanya, kaum perempuan di wilayah perbatasan menenun kain untuk menunjang pendapatan rumah tangga. Mengingat penghasilan dari pekerjaan sebagai petani fluktuatif, kaum perempuan biasanya menjadikan pekerjaan menenun sebagai salah satu penghasilan pokok mereka.
Petani
Suami Maria bernama Petrus Bani. Mereka dikaruniai 3 orang anak. Petrus berprofesi sebagai seorang petani. Terkadang, Maria membantu suaminya bekerja di ladang jika banyak pekerjaan yang mesti dituntaskan.
Demi mencukupi kebutuhan hidup selama setahun, Petrus mengolah dua bidang tanah dengan masing-masing lahan seluas 1 hektare.
Curah hujan yang tidak menentu menyebabkan hasil pertanian beberapa tahun terakhir tidak mencukupi. Kondisi ini mendorong Petrus lebih fokus pada budidaya kacang tanah.
Lahan seluas 1 hektare yang terletak di lereng bukit di sekitar wilayah perbatasan dimanfaatkan untuk menanam kacang tanah usai masa panen. Masa tersebut tersebut merupakan waktu paling tepat menanam kacang demi memperoleh hasil maksimal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gedung-Pegadaian-Kefamenanu.jpg)