TTS Terkini

Beberapa Galur F8 Kacang Hijau Hitam Undana Tembus 2 Ton per Hektar di Dataran Menengah TTS 

Pertumbuhan tanaman juga menunjukkan vigor yang kuat, pembungaan merata, dan polong padat berisi.

|
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
SEMANGAT PANEN - Tim peneliti Undana bersama petani lokal berpose gembira pada saat panen kacang hijau hitam. Menuju varietas unggul nasional, dari NTT untuk Indonesia. 

POS-KUPANG.COM - Inovasi perakitan varietas unggul kacang hijau berbiji hitam, hasil penelitian tim Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali menunjukkan potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan petani di wilayah lahan kering.

Pada Senin (25/8/2025), tim peneliti melaksanakan panen perdana hasil uji daya hasil galur F8 di Desa Tublopo, Kecamatan Amanuban Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), daerah beriklim kering, pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Desa Tublopo merupakan salah satu lokasi penting dalam program Riset Inovatif-Produktif (RISPRO) LPDP Kementerian Keuangan RI yang diketuai oleh Prof. Ir. Yosep Seran Mau, MSc., Ph.D.

Lahan uji ditanami pada 31 Mei 2025, dan dipanen pada kisaran umur 70 - 86 hari setelah tanam (HST). Umur panen pada lokasi pengujian di Desa Tublopo, TTS, relatif lebih panjang (sekitar dua minggu) dari lokasi lainnya.

Baca juga: Menjelang HUT ke-103 Kota SoE, Pemda dan ASN Lingkup TTS Gelar Napak Tilas Sejarah Kota SoE

Bahkan, varietas pembanding nasional seperti Vima 1 dan Vima 5, yang bisa dipanen pada umur 56 - 58 hari setelah ditanam, bergeser umur panennya menjadi sekitar 70 HST.  

Lebih panjangnya umur panen umur panen di TTS dipengauhi kondisi musim kemarau pada tahun 2025, yakni kemarau basah dengan hari hujan dan hari berkabut di loksi pengujian yang lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi ini meyebabkan akumulasi panas, yang disebut Growth Degree Days (Hari Derajat Pertumbuhan), yang rendah sehingga memperlambat tanaman kacang hijau memasuki fase pembungaan dan pembuahan.

Namun demikian, hasil panen di lokasi Tublopo, TTS, sangat memuaskan.

Beberapa galur F8 menunjukkan performa adaptif yang sangat baik terhadap tekanan lingkungan, dengan potensi hasil yang mengesankan hingga 2,2 ton/hektar.

Daya hasil beberapa gaur F8 delapan berada di atas daya hasil varietas pembanding nasional yang turut diuji dalam penelitian ini yakni: Vima 1, Vima 3, Vima 4, Vima 5 dan Kutilang.

Baca juga: Panen Kacang Hijau Hitam di Malaka, Terobosan Agroteknologi dari Lahan Kering untuk Gizi dan Ekonomi

Pertumbuhan tanaman juga menunjukkan vigor yang kuat, pembungaan merata, dan polong padat berisi.

Kombinasi ini memperkuat peluang galur-galur F8 yang diuji tersebut untuk diuji lebih lanjut secara mutilokasi dan multi musim, sebagai syarat pengusulan sebagai calon varietas unggul baru, dan jika lolos seleksi, dapat dilepas untuk dikembangkan di kawasan agroklimat serupa lainnya di NTT maupun Indonesia bagian timur.

Sebelum panen, tim peneliti sempat berdiskusi dengan Kabid Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten TTS, Bapak Arfaksad Aoetpah, S.P, yang sejak awal telah aktif memantau perkembangan kegiatan.

“Faktor lingkungan memang memperpanjang siklus tanaman, tetapi tidak menurunkan performa. Justru hasil panen menunjukkan kestabilan dan kapasitas adaptasi galur terhadap agroklimat dataran sedang,” jelas Prof. Yosep, Jumat (29/8/2025).

Tim peneliti yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Prof. Lince Mukkun, Prof. I G.B. Adwita Arsa, Prof. Agnes V. Simamora, Widasari Bunga, S.P., M.Sc., Aristarkhus Taloim, S.P., M.Si., dan Yasinta L. Kleden, S.P., M.Si.

Mereka mencatat data fase generatif, warna polong dan biji, dan bobot hasil panen. Kegiatan panen ini juga didukung oleh petani-petani lokal yang antusias terlibat sejak tahap persiapan, penanaman, pemeliharaan, hingga pemanenan. Salah satunya adalah Bapak David Sabuna yang menjadi mitra lokasi riset dan secara aktif mendampingi perawatan tanaman.

“Kami lihat hasilnya bagus, dan panennya cukup mudah. Harapan kami, tahun depan bisa dilanjutkan,” ujarnya saat panen berlangsung.

Partisipasi petani tidak hanya memperlancar pekerjaan teknis lapangan, tetapi juga memberikan masukan langsung tentang respon tanaman di lapangan.

Kolaborasi ini membangun ruang belajar bersama antara ilmuwan dan pelaku utama pertanian lokal.

Kegiatan ini juga menjadi ajang aktualisasi alumni Prodi Agroteknologi Faperta Undana. Tiga alumni muda, Gervasilus Verino Asa, S..P; Aprianto Nana; dan Mario J.R. Kune, S.P., M. Ling., berkontribusi dalam pencatatan data teknis, diskusi lapangan, dan pendampingan petani. Mahasiswa dari Prodi Bahasa Inggris, Agustinus Erikus Hane, turut mendukung kegiatan sejak awal, mencerminkan semangat lintas disiplin yang semakin penting dalam riset-riset terapan pertanian masa kini.

Panen di Tublopo ini menegaskan bahwa galur kacang hijau hitam tidak hanya unggul di dataran rendah, tetapi juga mampu beradaptasi dan berdaya hasil tinggi di dataran menengah.

Data yang terkumpul dari lokasi ini akan menjadi bagian penting dalam proses seleksi akhir menjelang uji multilokasi, sebagai syarat pengusulan varietas unggul nasional pertama untuk kacang hijau berbiji hitam dari NTT.

Dengan capaian ini, Kabupaten TTS memiliki peluang besar menjadi sentra produksi dan benih kacang hijau hitam adaptif, sebuah kontribusi nyata bagi ketahanan pangan, peningkatan ekonomi petani, dan pengurangan angka stunting melalui pangan lokal bergizi tinggi. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS    

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved