Kamis, 4 Juni 2026

Wartawan Indonesia Dari Australia

Para Murid Dilarang Main Medsos, Mahasiswa Cari Pacar Kutu Buku

Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6. Letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat.

Tayang:
POS-KUPANG.COM/HO-Tribun Network/Domu D. Ambarita
DISKUSI - elegasi wartawan Indonesia berdiskusi tentang isu-isu Asia, termasuk Indonesia, di kampus Universitas RMIT (Royal Melbourne Institute of Technology), Melbourne, Australia, Jumat (22/5).  

Toko Buku Kembali Laris

Fenomena BookTok muncul di Australia, merujuk pada komunitas pencinta buku di dalam platform medsos TikTok yang membagikan ulasan, rekomendasi, hingga reaksi emosional saat membaca.

Gejala BookTok mulai masuk dan mengakar di Australia pada  pertengahan hingga akhir tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda. Pemicunya adalah adanya kebijakan pembatasan wilayah yang ketat berupa isolasi (lockdown) di berbagai negara bagian, terutama Melbourne dan Sydney.

Pembatasan relasi memaksa remaja dan dewasa muda menghabiskan waktu di rumah. TikTok menjadi pelarian utama, mempertemukan para pembaca lokal yang merasa kesepian.

Awal 2021, para penjual buku eceran di Australia mulai menyadari adanya pola ganjil: buku-buku lama yang sudah terbit bertahun-tahun lalu tiba-tiba habis dipesan dalam semalam karena direkomendasikan oleh pembuat konten (BookTokers) luar negeri maupun lokal Australia.

Dikutip dari Sydney Herald Morning, penerbit pun bersiasat menghadapi fenomena BookTok, tersebut. “BookTok adalah tentang tren,” kata penjual buku Dymocks, Josh Hortinela.

Josh Hortinela sepenuhnya sependapat dengan suara lokal, dan panduan referensi berjalan untuk cerita romantis dan kriminal yang sedang naik daun. 

“Anda dapat melihat tren muncul di BookTok, dan itu memengaruhi orang-orang yang bertanya tentangnya di toko. Dulu orang datang dan meminta rekomendasi untuk romansa  paranormal, tetapi sekarang mereka meminta trope. Mereka akan berkata, saya mencari trope 'hanya satu tempat tidur', atau buku‘musuh-menjadi-kekasih’. Itu pasti ada hubungannya dengan bagaimana buku dipasarkan di TikTok,” kata Josh Hortinela.

Caitlin Toohey,  eksekutif pemasaran di Harper Collins Australia, mengatakanpenerbit “memperhatikan beberapa judul romantis yang lebih ringan yang mungkin belum banyak ditayangkan untuk sementara waktu, karena itulah yang diinginkan orang ... [TikTok] adalah tempat baru untuk menjangkau pembaca baru.”

Puncak fenomena BookTok di Australia tercapai pada rentang tahun 2022 hingga 2023. Pada periode ini, BookTok tidak lagi sekadar subkultur internet tersembunyi, melainkan telah mendikte pasar arus utama (mainstream).

Jaringan toko buku raksasa Australia seperti Dymocks, QBD Books, serta toko independen Readings, laris manis. Mereka memampang meja pajangan khusus di bagian depan toko dengan papan penanda besar bertulis "As Seen on BookTok" atau "Trending on TikTok".

Buku It Ends with Us karangan Colleen Hoover bahkansempat merajai daftar best seller  fiksi di Australia selama berbulan-bulan, mengalahkan buku-buku baru rilisan lokal.

Pada puncaknya, penerbit besar Australia mulai mengontrak influencer BookTok local sebagai pembicara di festival-festival literasi besar, seperti Melbourne Writers Festival, untuk menarik audiens Gen Z.

Dampak BookTok terhadap industri retail buku di Australia sangat masif dan membalikkan prediksi banya kanalis yang awalnya mengira generasi muda akan meninggalkan buku fisik demi gawai. (amb)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved