NTT Terkini
Dibutuhkan Dukungan, Solusi Iklim Lokal Bermunculan di Indonesia Timur
Rekomendasi lainnya adalah pemanfaatan pengadaan pemerintah dan kemitraan secara lebih strategis untuk mendukung produk dan layanan hijau lokal.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
Ringkasan Berita:
- Pelaku wirausaha di Indonesia Timur mulai mengembangkan berbagai solusi lokal yang menjanjikan untuk menghadapi perubahan iklim
- Perubahan iklim telah mulai berdampak nyata terhadap ekonomi daerah
- Direktur New Energy Nexus Indonesia, Diyanto Imam menambahkan, bisnis iklim menjadi pengungkit ekonomi
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Laporan Climate Entrepreneurship Ecosystem Mapping in Eastern Indonesia menemukan para pelaku wirausaha di Indonesia Timur mulai mengembangkan berbagai solusi lokal yang menjanjikan untuk menghadapi perubahan iklim.
Laporan tersebut, disusun sebagai bagian dari program KINETIK NEX Entrepreneurs’ Program, sebuah program inkubasi bisnis bagi startup iklim.
Meski begitu, laporan tersebut juga menyoroti bahwa pelaku usaha masih menghadapi tantangan besar untuk bertumbuh dan berkembang.
Menurut, Program Manager Christabel Putik dan Analis Kebijakan Attur Mehta dari KINETIK menjelaskan, laporan ini memetakan peluang dan tantangan yang dihadapi bisnis berbasis solusi iklim di Kupang, Ambon, dan Makassar.
Baca juga: Wirausaha Iklim Harus Jadi Motor Transformasi Ekonomi Hijau NTT
Temuan laporan, kata dia, menunjukkan bahwa perubahan iklim telah mulai berdampak nyata terhadap ekonomi daerah, sekaligus mendorong meningkatnya kebutuhan akan solusi praktis di sektor energi bersih, perikanan, pengelolaan sampah, dan air bersih.
Di berbagai wilayah Indonesia Timur, para entrepreneur mulai menghadirkan solusi iklim berbasis lokal, mulai dari sistem air tenaga surya di Nusa Tenggara Timur, proyek ekonomi sirkular berbasis sampah di Makassar, hingga mesin pembuat es tenaga surya untuk sektor perikanan di Maluku.
"Inovasi-inovasi ini berpotensi membantu daerah mencapai target adaptasi dan mitigasi perubahan iklim," papar keduanya dalam
Diseminasi Hasil Pemetaan Ekosistem Kewirausahaan Iklim di Indonesia Timur, Dialog Pemangku Kepentingan Lokal dan Kunjungan Lapangan di Hotel Aston Kupang, Selasa (12/5/2026).
Namun di balik perkembangan tersebut, bisnis iklim masih menghadapi tantangan besar untuk berkembang dalam skala lebih luas.
Akses pembiayaan menjadi salah satu hambatan terbesar, terutama bagi bisnis yang sedang bertransisi dari tahap pilot project menuju operasional komersial awal.
Dengan masih terbatasnya akses modal ventura di luar pusat ekonomi di Pulau Jawa, pinjaman usaha konvensional masih menjadi opsi pembiayaan utama. Sayangnya, bisnis berbasis solusi iklim juga kerap menghadapi kendala dalam mengakses pembiayaan tersebut.
Laporan ini juga menyoroti bahwa sebagian besar program pendampingan usaha yang tersedia saat ini masih dirancang untuk UMKM secara umum, sehingga belum sepenuhnya menjawab kebutuhan spesifik bisnis iklim.
“Indonesia Timur tidak kekurangan inovasi. Yang dibutuhkan sekarang adalah dukungan yang lebih kuat agar solusi-solusi iklim ini dapat berkembang dalam skala yang lebih besar,” ujar Direktur KINETIK, John Brownlee menambahkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Paparan-iklim.jpg)