Rabu, 6 Mei 2026

Wawancara Eksklusif

Floratama Academy Prioritaskan Sektor Pangan

Program ini juga membangun pondasi mulai dari workshop, mentoring hingga bootcamp untuk mendorong UMKM naik kelas. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/MICHAELLA UZURASI
PODCAST - Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andhy M.T. Marpaung dan host jurnalis Pos Kupang, Ani Toda dalam Podcast Pos Kupang, Selasa, 05/05/2026. 

Masih banyak pelaku usaha yang menghadapi keterbatasan dalam manajemen usaha, inovasi produk hingga akses pasar dan permodalan. Maka dari itu Floratama Academy ini dibentuk sebagai program inkubasi untuk menjawab kesenjangan tersebut, mulai dari akses pasar, rantai pasok, permodalan hingga peningkatan kualitas SDM. 

Selain itu, kami melihat bahwa sektor pangan ini menjadi prioritas karena merupakan kebutuhan dasar dalam industri pariwisata, jadi ketersediaan terhadap pangan yang berkualitas dan berkelanjutan sangat menentukan pengalaman wisatawan.

Saat ini kebutuhan pangan di Labuan Bajo masih banyak dipasok dari luar daerah sehingga penguatan pelaku usaha lokal di sektor pangan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian daerah sekaligus menekan ketergantungan tersebut. 

Kami harap dengan adanya Floratama Academy ini bisa hadir dengan fokus pada penguatan kapasitas pelaku usaha pangan, juga nanti masuk ke perbaikan rantai pasok serta integrasi antara sektor pertanian dan perikanan dengan industri pariwisata sehingga diharapkan nanti tercipta eskosistem yang lebih tangguh, efisien dan berkelanjutan. 


A : Selama di Labuan Bajo pernahkah anda berinteraksi dengan pelaku usaha di bidang pangan? 


A : Pernah. Jadi memang kalau saya melihat para pelaku usaha di bidang pangan ini kalau di Labuan Bajo maupun Flores rata-rata masih belum ada untuk membuat sektor pangan ini menjadi suatu bisnis yang bisa menambah penghasilan.

Saya melihat masih hanya untuk kebutuhan pribadi, keluarga, sudah cukup, artinya tidak ada keinginan untuk membuat bagaimana produk yang dihasilkan dari hasil pertanian atau perikanan ini bisa bertambah atau bisa meningkatkan kuantitasnya sehingga nanti bisa dijual atau dikemas menjadi produk yang bisa dipasok ke industri pariwisata. 

Saya juga melihat sendiri, saya sudah ke daerah Ruteng, Ngada, masih banyak lahan kosong atau tanah kosong yang tidak tergarap, artinya ini bisa menjadi potensi kalau benar-benar dimanfaatkan, sebenarnya bisa memenuhi kebutuhan sektor pangan di kawasan pariwisata Labuan Bajo Flores. 


A : Inovasi seperti apa yang dibutuhkan oleh pelaku usaha pangan di NTT khususnya di Labuan Bajo saat ini agar usaha mereka bisa naik kelas? 


A : Pertama, yang dibutuhkan itu tidak hanya sekedar kuantitas, artinya bukan seberapa banyak mereka bisa pasok tapi yang kita sebut inovasi yanh dibutuhkan itu untuk para pelaku usaha pangan di NTT adalah bagaimana mereka memastikan produk memenuhi standar industri hospitality seperti dari segi higienis, mereka juga bisa konsisten untuk memasok atau mengirim produk tersebut dan juga memiliki sertifikasi yang diperlukan karena beberapa hotel berbintang, apalagi kalau misalnya sudah change internasional pasti ada beberapa standar sertifikat produk yang masuk ke hotel mereka. 

Selain itu juga diperlukan pengembangan dalam proses pengolahannya agar produk memiliki daya tahan yang lebih baik dan siap digunakan oleh hotel dan restoran ini jadi kemasan juga perlu ditingkatkan agar lebih profesional dan kemasan itu juga informatif, sesuai dengan segmen pasar, dan kami juga berharap pelaku usaha mampu menjaga kontinuitas pasokan dalam jumlah dan kualitas yang stabil. Karena itu akan mengganggu siklus atau ekosistem yang ada di hotel tersebut. Dengan demikian kita harapkan produk lokal ini lebih mudah diintegrasi dalam rantai pasok pariwisata. (uzu)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved