Breaking News
Minggu, 26 April 2026

NTT Terkini 

Pakar ITE Ingatkan Masyarakat Jangan Mudah Terkecoh Bahaya Phishing

Serangan tersebut mencakup peretasan akun, ancaman, doxing, hingga impersonasi, yang sebagian besar beririsan dengan praktik phishing.

Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
ITE - Dosen Program Studi Teknik Informatika S1 STIKOM Uyelindo Kupang, yang juha ahli ITE, Yohanes Suban Belutowe, M.Kom, ketika menunjukkan sejumlah phishing. 

Ringkasan Berita:
  • Pakar ITE mengingatkan masyarakat jangan mudah terkecoh bahaya Phishing
  • Indonesia menghadapi hingga 3,64 miliar serangan siber dalam setahun
  • Pada kuartal pertama 2025 (Januari–Maret), tercatat 139 kasus serangan digital, dengan hampir 60 persen menyasar kelompok kritis terhadap pemerintah

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG – Ancaman phishing di Indonesia kian mengkhawatirkan seiring meningkatnya serangan siber sepanjang 2025.

Data menunjukkan, Indonesia menghadapi hingga 3,64 miliar serangan siber dalam setahun, menjadikannya peringatan serius bagi pemerintah, sektor bisnis, dan masyarakat digital.

Pada kuartal pertama 2025 (Januari–Maret), tercatat 139 kasus serangan digital, dengan hampir 60 persen menyasar kelompok kritis terhadap pemerintah. 

Serangan tersebut mencakup peretasan akun, ancaman, doxing, hingga impersonasi, yang sebagian besar beririsan dengan praktik phishing.

Baca juga: Tersangka Kasus Phishing Tools di Kupang Dikenal Tertutup, Warga Sempat Curiga

Tak hanya berdampak pada keamanan data, serangan ini juga memicu kerugian finansial besar. Sepanjang November 2024 hingga Januari 2025, kerugian akibat kejahatan siber mencapai Rp 476 miliar. 

Sementara hingga pertengahan 2025, terdapat 1,2 juta laporan penipuan digital yang masuk ke sistem pengaduan publik.

Dosen Program Studi Teknik Informatika S1 STIKOM Uyelindo Kupang, Yohanes Suban Belutowe, M.Kom, yang juga ahli di bidang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), menegaskan, phishing menjadi salah satu metode paling dominan dalam kejahatan siber saat ini.

“Phishing adalah upaya penipuan untuk mencuri data sensitif seperti password, OTP, atau informasi keuangan dengan menyamar sebagai pihak terpercaya. Ini sangat berbahaya karena menyasar psikologi korban,” kata Yohanes, Minggu (26/4/2026). 

Menurutnya, phishing kini berkembang dalam berbagai bentuk, seperti smishing (melalui SMS), vishing (melalui telepon), dan spoofing (pemalsuan identitas digital). 

Modusnya semakin canggih, mulai dari pesan undian palsu, email bank tiruan, hingga situs marketplace yang dibuat menyerupai platform resmi.

“Berbeda dengan spam yang hanya mengganggu, phishing termasuk dalam kategori scam yang memiliki niat kriminal dan target yang lebih spesifik. Dampaknya bisa langsung berupa kerugian finansial dan pencurian identitas,” katanya.

Ia menambahkan, data pribadi saat ini merupakan aset berharga yang harus dilindungi. Tanpa sistem keamanan yang kuat, risiko kebocoran informasi, penyalahgunaan data, hingga kerusakan reputasi akan semakin besar.

Dalam konteks keamanan informasi, Yohanes menekankan pentingnya penerapan prinsip CIA Triad, yaitu kerahasiaan (confidentiality), integritas (integrity), dan ketersediaan (availability).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved