Senin, 8 Juni 2026

NTT Terkini 

Ferdy Ate dan Manifesto Amor et Ratio: Upaya Memulihkan Nalar Kritis PMKRI

Di ambang Kongres Nasional PMKRI, sebuah diskursus baru muncul dari tangan Ferdinandus Wali Ate alias Ferdy Ate.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Ferdinandus Wali Ate alias Ferdy Ate 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Di ambang Kongres Nasional Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia ( PMKRI ), sebuah diskursus baru muncul dari tangan Ferdinandus Wali Ate, S.Farm. 

Aktivis yang juga seorang praktisi farmasi ini resmi meluncurkan buku manifesto bertajuk "AMOR ET RATIO", sebuah karya yang bertujuan membedah arah gerak organisasi di tengah tantangan zaman yang kian kompleks.

Buku ini bukan sekadar kumpulan visi-misi kandidat, melainkan sebuah refleksi mendalam atas kondisi intelektualitas mahasiswa saat ini. 

Ferdy Ate, demikian ia akrab disapa menyoroti adanya jurang pemisah antara semangat pergerakan dan ketajaman nalar dalam mengelola isu-isu publik.

Kasih dan Nalar

Dalam wawancaranya, Ferdy menjelaskan bahwa esensi dari "Amor et Ratio" adalah penggabungan antara spiritualitas kasih dan kekuatan akal budi.

Ia berpendapat bahwa aktivis seringkali terjebak pada semangat yang meluap-luap namun miskin substansi, atau sebaliknya, terlalu teknokratis namun kehilangan empati.

"Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan retorika di jalanan. PMKRI harus kembali menjadi laboratorium gagasan. Sebagai seorang yang berlatar belakang sains, saya menawarkan ketegasan dan ketajaman dalam berorganisasi, di mana nalar kritis (Ratio) dipandu oleh nilai kemanusiaan yang tulus (Amor)," ujar Ferdy.

Menuju Manusia Merdeka

Dalam manifestonya, Ferdy Ate juga membedah fenomena apatisme di kalangan kader. Ia menekankan pentingnya menjadi "Manusia Merdeka" sebagai sebuah konsep yang ia pinjam dari semangat Soe Hok Gie untuk melawan arus pragmatisme yang seringkali menggerus idealisme mahasiswa.

"Hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi melalui buku ini, saya mengajak seluruh kader untuk memilih jalan ketiga, yakni menjadi manusia merdeka yang mampu memberikan solusi konkret bagi bangsa lewat Panca Dharma Transformasi," tegasnya.

Respons terhadap Era Disrupsi

Buku ini juga menyentuh aspek digitalisasi dan peran teknologi AI dalam advokasi kebijakan publik. Ferdy Ate berargumen bahwa PMKRI harus mampu bertransformasi menjadi organisasi yang adaptif tanpa kehilangan akar moralnya sebagai intelektual profetik.

Manifesto "Amor et Ratio" ini direncanakan akan menjadi bahan dialektika utama bagi para utusan cabang di seluruh Indonesia. 

Bagi Ferdy, memenangkan gagasan adalah langkah pertama untuk memenangkan masa depan perhimpunan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved