Minggu, 7 Juni 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 7 Juni 2026, “Tubuh dan Darah Kristus”

Hari ini mari kita memasuki tafakur tentang bagaimana menerima Tubuh dan Darah Kristus mengubah cara kita hidup, makan, dan melayani.

Tayang:
Editor: Edi Hayong
dok-pribadi Bruder Pio Hayon SVD
Bruder Pio Hayon SVD menulis Renungan Harian Katolik untuk hari Minggu 7 Juni 2026 

Oleh : Bruder Pio Hayon SVD

POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik  Hari Minggu Biasa Pekan X– 7 Juni  2026, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus dari Bruder Pio Hayon SVD berjudul  “Tubuh dan Darah Kristus”.

Renungan Harian Katolik dari Bruder Pio Hayon SVD Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I : Ul.  8: 2-3.14b-16a
Bacaan II: 1Kor. 10:16-17, Injil:  Yoh. 6: 51-58.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus menegaskan misteri kehadiran Kristus yang memberi diri sebagai makanan hidup.

Tema ini mengundang kita merenungkan Ekaristi bukan sekadar simbol, melainkan persekutuan nyata dengan Kristus dan dengan sesama. 

Hari ini mari kita memasuki tafakur tentang bagaimana menerima Tubuh dan Darah Kristus mengubah cara kita hidup, makan, dan melayani.

Saudara-saudari terkasih

Dalam bacaan I (Ul. 8: 2-3.14b-16a), bangsa Israel diingatkan bahwa di padang gurun Allah memberi mereka makanan untuk menuntun hidupnya: bukan hanya roti, tetapi segala yang diperlukan demi kelangsungan hidup dan iman.

Bacaan ini menggarisbawahi bahwa pemeliharaan Allah bersifat menyeluruh—fisik sekaligus rohani.

Dalam bacaan II (1Kor. 10:16-17), Paulus menekankan bahwa cawan berkat dan roti yang kita bagi adalah persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus; melalui Ekaristi kita menjadi satu tubuh—bukan hanya individu yang menerima secara privat, melainkan komunitas yang dibentuk oleh anugerah yang sama.

Dan dalam Injil (Yoh. 6: 51-58) menegaskan Yesus adalah roti hidup yang memberikan daging-Nya untuk hidup dunia; siapa makan daging dan minum darah-Nya beroleh hidup kekal, dan Ia akan membangkitkan orang itu pada hari terakhir.

Ekaristi di sini dipahami sebagai partisipasi nyata dalam hidup, kematian, dan kebangkitan Kristus adalah sumber hidup yang mempersatukan kita dengan Dia dan sesama.

Refleksi kita adalah “Ekaristi”: Ekaristi sebagai sumber pemeliharaan sejati. Seperti manna yang menuntun Israel, Tubuh dan Darah Kristus memberi hidup dan kekuatan rohani.

Permenungan kita: apakah kita rutin menerima dan merenungkan Ekaristi sebagai makanan rohani yang membentuk dan menuntun hidup kita?

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved