Senin, 1 Juni 2026

Intenasional Terkini

UEA Ikut Bombardir Iran dengan Puluhan Serangan

Serangan UEA itu dilaporkan berlangsung sejak awal perang hingga sehari setelah gencatan senjata diumumkan pada April lalu. 

Tayang:
Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/Via Serambinews
Ilustrasi perang Amerika dan Israel vs Iran 

Negara itu secara terbuka mengecam serangan-serangan terhadap kawasan Teluk, tetapi mengambil pendekatan yang lebih tidak konfrontatif dan aktif berupaya menyelesaikan konflik melalui diplomasi.

Presiden UEA Syekh Mohamed bin Zayed pun dilaporkan merasa frustrasi dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada awal perang, setelah Riyadh menolak berpartisipasi dalam aksi militer terkoordinasi melawan Iran.

Rasa frustrasi itu memperburuk jurang yang sudah melebar antara dua kekuatan Teluk tersebut. Pasalnya, keduanya sebelumnya sudah bersaing memperebutkan pengaruh di Laut Merah melalui konflik di Sudan dan Yaman.

UEA kemudian menarik diri dari OPEC pada April, meninggalkan kelompok yang dipimpin Arab Saudi itu dan menegaskan komitmennya untuk memperkuat hubungan keamanan dengan AS dan Israel.

Di luar serangan militer, UEA juga mendukung rancangan resolusi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengizinkan penggunaan kekuatan jika diperlukan untuk mengakhiri cengkeraman Iran atas Selat Hormuz yang strategis.

Abu Dhabi turut mengambil langkah-langkah untuk memukul kepentingan finansial Teheran, yakni menutup sekolah dan klub di Dubai yang terkait dengan Iran, serta mencabut visa dan hak transit bagi warga Iran.  

Langkah-langkah ini memangkas jalur ekonomi yang selama ini menjadi penopang Iran di tengah sanksi berat dari Barat. Iran pun berulang kali menuduh UEA telah bergabung dalam kampanye militer AS dan Israel.

Hubungan UEA-Israel makin kuat

Perang ini juga mempererat hubungan antara UEA dan Israel.  Para pejabat Israel mengapresiasi sikap UEA selama perang berlangsung dan memandang hubungan dua negara itu sebagai kemitraan strategis jangka panjang.

Israel mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome dan sejumlah pasukan ke UEA untuk membantu pertahanan negara itu.

Hingga kini, puluhan tentara Israel masih ditempatkan di sebuah kompleks militer di negara Teluk tersebut.  Selain itu, sejumlah pejabat tinggi Israel termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, secara diam-diam mengunjungi UEA selama perang untuk mengoordinasikan langkah-langkah terkait Iran.

Meski demikian, belum jelas apakah UEA memiliki kapasitas yang cukup untuk menghalangi negara yang jauh lebih besar dan lebih dekat seperti Iran.  

Serangan-serangan UEA terbilang bersifat simbolis bila dibandingkan dengan lebih dari 20.000 serangan yang dilancarkan gabungan AS dan Israel. Sikap agresif UEA pun berisiko menjadikannya sasaran yang lebih besar di tengah periode hubungan yang panas dengan Iran.  

Pada awal Mei, Iran menyerang pelabuhan minyak penting di emirat Fujairah setelah Angkatan Laut AS melancarkan operasi untuk memutus dominasi Iran atas Selat Hormuz.

Belakangan, sebuah drone yang ditembakkan dari Irak, tempat milisi-milisi pro-Iran yang aktif dalam perang, menghantam area dekat pembangkit nuklir UEA.

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved