Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 15 Maret 2026, 'Buka Mata Hati Imanku'
Tuhan Yesus, terang hidupku, bukalah mata hatiku agar aku dapat melihat kasih-Mu dalam hidupku
Oleh : RP. John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor –NTT
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik Minggu 15 Maret 2026 dari RP. John Lewar SVD Hari Minggu Prapaskah IV Minggu Laetare / Sukacita berjudul 'Buka Mata Hati Imanku'.
Renungan Harian Katolik RP. John Lewar SVD merujuk pada Bacaan: 1Sam. 16:1b,6-7,10-13a; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Ef. 5:8-14; Yoh. 9:1-41, Warna Liturgi Ungu.
Hari ini kita memasuki Minggu IV Prapaskah, Minggu Laetare, Minggu Sukacita. Gereja mengajak kita bersukacita di tengah masa Masa Prapaskah. Walaupun Prapaskah adalah masa tobat dan refleksi, Minggu ini mengingatkan bahwa terang dan harapan dari Tuhan sudah dekat.
Sukacita itu lahir ketika mata hati kita mulai terbuka untuk melihat karya Allah dalam hidup. Sukacita ini muncul karena Tuhan sedang menuntun kita keluar dari kegelapan menuju terang. Apa pesan Tuhan bagi kita pada Hari Minggu Laetare ini?
Pertama, Tuhan melihat hati, bukan penampilan. Dalam bacaan pertamai Kitab 1 Samuel (16:1b,6-7,10-13a), nabi Samuel diutus untuk mengurapi raja baru bagi Israel. Ketika melihat anak-anak Isai, Samuel mengira yang paling gagah pasti pilihan Tuhan.
Namun Tuhan berkata: “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” Pilihan Tuhan jatuh pada Daud, yang justru tidak dianggap penting oleh keluarganya. Pesannya jelas: Tuhan tidak menilai dari luar,
tetapi dari hati.
Daud artinya yang dikasihi Allah. Rencana Allah bagi kita tidak pernah keliru. Ia memilih yang terbaik. Kita seringkali berpikir seperti Samuel yang mendasarkan pertimbangannya pada pikiran manusia dan kebiasaan-kebiasaan yang ada.
Ia berpikir bahwa anak yang pertama dari keluarga Isai itu yang akan diurapi Allah, tetapi ternyata tidak. Allah
memilih anak bungsu. Rencana Allah melampaui pikiran manusia. Status, penampilan hanya diperebutkan oleh manusia tetapi Allah berkenan pada hati yang baik.
Kita perlu bersyukur boleh terpilih menjadi anak-anak Allah, yang bukan karena kesucian dan kebaikan tetapi karena belas kasih Allah yang memungkinkan kita disatukan dalam Gereja-Nya yang kudus. Allah mengajar kita hari ini betapa pentingnya hati yang baik. Dari hati yang baik mengalirkan segala perbuatan yang baik dan
menyelamatkan.
Kedua, Dari gelap menuju terang. Dalam suratnya kepada Jemaat di Efesus (5:8-14), Rasul Paulus mengingatkan: “Dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan.”
Artinya, hidup orang beriman harus memancarkan terang: kebaikan, kebenaran, dan kejujuran. Iman bukan hanya diketahui, tetapi harus terlihat dalam cara hidup.
Ketiga. Yesus membuka mata orang buta. Injil Yohanes (9:1-41) menceritakan Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir. Mukjizat ini bukan hanya soal penglihatan fisik, tetapi juga penglihatan iman. Orang yang tadinya buta akhirnya percaya kepada Yesus.
Sebaliknya, beberapa orang Farisi yang merasa “melihat” justru menolak percaya. Ironisnya, yang buta menjadi melihat, sedangkan yang merasa melihat justru tetap dalam kegelapan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/RPJhon-Lewar-SVD-menyampaikan-Renungan-Harian-Katolik.jpg)