Kamis, 23 April 2026

Perang Israel Iran

Iran Hantam Radar Amerika Serikat di Timur Tengah

Iran menghantam sistem radar yang menjadi “mata” pertahanan udara Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. 

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM
TELEGRAM FarsNA via NEW YORK POST Bunker bawah tanah yang dipenuhi deretan drone Shahed milik Iran dipaemerkan oleh televisi Iran Fars setelah serangan AS dan Israel dalam operasi gabungan pada Sabtu (28/2/2026). 

POS-KUPANG.COM - Iran menghantam sistem radar yang menjadi “mata” pertahanan udara Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di Timur Tengah. 

Dalam beberapa hari terakhir, serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas radar penting, membuat pertahanan AS buta untuk melacak rudal yang datang. 

Serangan ini dilakukan sebagai balasan atas rangkaian pengeboman yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran.

Sejumlah radar, sistem komunikasi, dan instalasi pertahanan udara dilaporkan terkena dampaknya di beberapa negara kawasan Teluk. 

Menurut pejabat AS, analis militer, dan citra satelit komersial, serangan Iran menghantam radar-radar di Qatar, Uni Emirat Arab, Yordania, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi. 

Iran disebut sering menggunakan drone serang satu arah seperti Shahed dalam operasi tersebut. Drone jenis ini relatif murah dibandingkan rudal canggih yang biasanya digunakan oleh sistem pertahanan udara Amerika.

Akan tetapi, dalam beberapa hari terakhir Iran menembakkan lebih sedikit rudal dibandingkan sebelumnya.

“Secara keseluruhan, pertahanan kami cukup baik. Namun demikian, jelas bahwa Iran memiliki pemahaman tentang jenis target apa yang ingin mereka terus serang, dan itu termasuk komando dan kendali serta kemampuan kita untuk mendeteksi rudal dan drone yang datang,” kata Ravi Chaudhary, mantan asisten sekretaris Angkatan Udara yang bertanggung jawab atas instalasi, dikutip dari Wall Street Journal pada Sabtu (7/3/2026). 

Juru bicara Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) mengeklaim, militer AS tetap berada dalam kemampuan tempur penuh meskipun serangan terhadap sistem radar terjadi.

Menurut pejabat AS, Washington juga memperkuat pertahanan di kawasan dengan mengirim lebih banyak peralatan militer dan pencegat rudal

Di sisi lain, militer Amerika Serikat menyatakan kemampuan Iran untuk melancarkan serangan telah menurun. Laksamana Brad Cooper, komandan pasukan AS di Timur Tengah, mengatakan bahwa sejak perang dimulai, serangan rudal balistik Iran turun sekitar 90 persen, sedangkan serangan drone berkurang sekitar 83 persen.

Amerika Serikat dan para sekutunya mengandalkan jaringan sistem pertahanan udara seperti THAAD dan Patriot untuk menembak jatuh rudal, drone, dan roket yang diluncurkan oleh Iran maupun milisi sekutunya. 

Perisai udara tersebut sangat bergantung pada radar untuk mendeteksi ancaman yang datang. Radar-radar ini tergolong mahal dan jumlahnya terbatas. Selain itu, perang juga menguras stok pencegat yang digunakan untuk menangkis serangan rudal.

Salah satu serangan paling signifikan menghantam radar peringatan dini AN/FPS-132 di Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Timur Tengah.

Citra satelit dan konfirmasi pejabat AS menunjukkan, radar tersebut rusak sehingga menghambat kemampuannya untuk berfungsi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved