Cerpen
Cerpen: Suamiku Bukan Pastor Parokiku
Lelaki yang tidak kurang seperti rohaniwan, kini persis seperti pastor parokiku. Namun, aku tak mungkin memilikinya.
Cerpen Hardy Sungkang
POS-KUPANG.COM - Cindy namaku. Aku adalah gadis pertama dalam keluargaku. Setelah sembilan bulan aku bebas dari rasa kesesakan rahim ibu. Lalu, aku dibesarkan dengan rasa keinginan untuk menanam rasa dan mencapai pada sebuah kerinduan untuk memiliki mimpi.
Mimpi tentang perjuangan dan mimpi tentang pergumulan rasa yang kedua setelah rasa bebas dari tanggung jawab ibu. Aku terlahir dengan sikap rasa memiliki dan rasa tanggung jawab yang mulia, tentang diri dan keluarga.
Satu tahun aku tertatih dengan pergumulan. Pergumulan tentang belajar merangkak, berjalan tahap demi tahap hingga aku jadi gadis belia seperti ini. Kini aku menjadi gadis yang sedang merindukan sosok seorang lelaki duniawiku.
Lelaki yang tidak kurang seperti rohaniwan, kini persis seperti pastor parokiku. Namun, aku tak mungkin memilikinya. Tetapi bisa saja kemudian aku menjadi istrinya.
“Ah… tidak mungkin,” cetusku.
Lelaki idamanku adalah lelaki yang persis seperti pastor parokiku. Ia ganteng. Namun, ganteng saja tidaklah cukup. Ia penuh tanggung jawab. Manajemen keuangan pun harus mapan. Merangkul umatnya pun khas seperti ia merangkul hati para gadis semasa ia muda.
“Lucu juga ya,” gumamku.
Pikiran ini sepertinya sedang dirundung kerinduan. Kerinduan untuk memiliki. Tetapi sungguh hal itu bukan tanggung jawabku untuk memiliki. Tetapi pilihan itu seringkali menjadi raja di atas segala keinginan.
Lelaki bertanggung jawab untuk masa depanku dan untuk keluarga dan anak-anakku di kemudian hari. Semasa aku kecil, waktu menjadi anak Sekami di paroki, aku seringkali menjadi gadis korban bully teman-teman. Dengan baju secompang-campingnya, aku seringkali menjadi wanita pemberani untuk tampil, meski hal itu tidak menarik bagi teman-temanku.
Lantas, bagiku panggung sandiwara manusia adalah cibiran dan olokan, kemudian lebih menyakitkan adalah bullying. Kemudian mereka merendahkan diriku dengan sekelumat kata-kata yang seringkali menyakitkan, hingga bisa naik pitam. Entahlah. Itu masa kecilku.
Buramnya seperti kegelapan senja yang lebam. Kamu tahu tidak, aku tidak kalah dengan anak gadis tetanggaku yang hari-harinya gadget di tangan, kemudian poles bibirnya dengan warna-warni. Rambutnya pikal hasil smoothing dan ombengnya kaya artis Hollywood.
Betapa keterlaluan, ia jarang sekali menyebut namaku untuk menjadi teman sepermainannya. Aku tidak sedih. Aku tidak cemburu.
Aku benar-benar memahami arti keinginan dan ketiadaan.
Keinginan adalah kepuasan berasaskan kebutuhan untuk memiliki. Biar cukup menampilkan seberapa jauh mereka memiliki sesuatu.
Bundaku sorang gadis cantik yang hebat. Ia dengan penuh tanggung jawab membesarkanku. Ayahku seorang sopir mobil pribadi pastor parokiku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/PASTOR-PAROKI_01445.jpg)