Opini
Opini: Menghormati Bunda Maria
Martabat sebagai ibu Tuhan diberikan oleh Tuhan sendiri (Bdk. Lukas 1:38). Tanpa itu tidak ada cerita lebih lanjut.
Oleh: Beni Wego, SVD
Misionaris SVD, tinggal dan kerja di Amerika Serikat.
POS-KUPANG.COM - Seorang ibu patut dihormati. Maria dihormati karena martabat (dignity) sebagai ibu dan Ibu Tuhan. Martabat itu tidak bisa diambil atau ditransfer kepada siapapun dan dalam bentuk apapun.
Martabat sebagai ibu Tuhan diberikan oleh Tuhan sendiri (Bdk. Lukas 1:38). Tanpa itu tidak ada cerita lebih lanjut.
Allah tentu bisa memilih wanita atau ibu lain. Kemungkinan itu justru menjadikan bunda Maria sebagai ibu Tuhan yang istimewa.
Maria juga tidak lebih dahulu diberitahu dan mengetahui peristiwa (event) yang akan terjadi dengan dirinya. Ia akan menjadi ibu Yesus, ibu Tuhan.
Baca juga: ANKER: Meriahkan Festival Golo Curu Bunda Maria Ratu Rosari di Ruteng
Dalam konteks itu ia harus dimengerti dan diterima secara khusus sebagai Bunda Tuhan yang dihormati oleh Allah sendiri.
Menyusul alasan historis. Ia menjadi Bunda Tuhan yang dinobatkan oleh Allah. Ia menerima itu dengan iman dalam waktu dan tempat. Peristiwa yang terjadi secara terbuka bukan tersembunyi apalagi dipaksakan.
Pantaskah manusia menolak rahmat karunia (favor) oleh Allah? (bdk. Lukas 1:30).
Penginjil Lukas menulis juga bahwa Santa Elisabeth menyapanya sebagai Ibu Tuhan. (Bdk. Lukas 1:43). Elisabeth adalah seorang ibu yang sederhana dan memiliki kapasitas religius yang bersahaja. Ia melihat martabat Maria yang sekaligus menujum kepada Tuhan.
Oleh sebab itu Bunda Maria melampaui segala deskripsi dan pengertian (de mariam numquam satis). Bahkan karena Yesus, ia berani mengambil risiko, menempuh jalan radikal yakni menerima tugas dan peranan sebagai Ibu Tuhan.
Ia menantang zona nyaman dalam dunia yang menolak transformasi, meski rapuh, fabrikasi atau pemalsuan (fake) dan scapegoating.
Maria memberi makna atas kehidupan dengan memagari Rahmat Tuhan yang diberikan secara gratis (Gratia) dari kecongkakan dunia dan banjir inflasi makna oleh kekuasaan.
Untuk itu ia menanggalkan kebebasannya secara mutlak. Ia rebah, senantiasa berlutut dan mengosongkan diri (kenosis) karena Putera Allah dan puteranya.
Sejarah Maria dengan itu terjadi bukan secara tiba-tiba dan kebetulan apalagi direncanakan untuk viral. Ia tidak hendak mengejutkan dunia pula.
Sebaliknya dunia terkejut karena hal itu bisa terjadi bagi manusia yang memiliki kemampuan dan kemauan yang terbatas.
Baca juga: Opini: Menakar Krisis Iklim Kemarau Ekstrem dan Gejolak Vulkanik Lewotobi Laki-laki
Oleh karena itu pertanyaan tentang bagaimana kedudukan dan peran Maria bagi Kristus sebagai Tuhan dan Penebus dunia adalah irrelevant dan tidak pada tempatnya.
Jelasnya, Tuhan tidak menjadikan Maria sebagai tuhan untuk melampaui Tuhan sendiri.
Tuhan yang memilih Maria. Maria tidak menawarkan diri. Ia bahkan menolak sebelum menerima dalam keyakinan akan jaminan sebagai Hamba Tuhan.
Iman akan Allah di dunia yang fana ditegaskan.
Politic in Town
Dalam novelnya The Song of Bernadette (Ignatius, 2006), Franz Werfel menampilkan sisi lain dari penampakan Bunda Maria di Lourdes.
Werfel yang ketika itu berada di bawah bayang-bayang pengejaran Hitler dengan mesin operasi Nazi yang canggih dan mematikan, ia masih berpaling kepada event di gua yang sangat kotor pada waktu itu dan jauh dari perhatian publik.
Pada bagian ketiga bab 28 (p. 326) ia menulis tentang Walikota (Major) Anselme Lacade. Ia adalah pemimpin kota saat peristiwa penampakan itu terjadi. Dus, ada politic in town.
Kalau begitu, kejadian di Lourdes bukanlah kegiatan dalam satu operasi rahasia. Sang walikota meragukan kejadian di gua, tempat di mana Bunda Maria dan Bernadette Soubirous bertemu dan berdialog. Ia kemudian bertahan. Malah menuduh mereka yang hendak menutup gua itu sebagai tindakan kudeta.
Sang walikota tidak melakukan konfrontasi dan menolak apalagi bersikap brutal terhadap sikap dan keyakinan sekitar 20.000 penduduk sederhana dan setia dalam iman yang sudah lama hidup dan tinggal di kaki dan lembah pegunungan Pyrenees.
Mereka meyakini kejadian di gua dengan sungai jernih yang mengaliri kota itu, sebagai kejadian iman. Jadi Werfel menulis tentang kenyataan dan fakta (realitas) sosial yang terjadi dan meliputi kota.
Ia menulis tentang kejadian spiritual yang unik dalam kehidupan manusia dan dialami oleh seorang gadis sederhana dan kecil: Bernadette.
Jelas, ia menulis bukan untuk membuat sejarah, mengubah karakter dan kehidupan orang-orang di Lourdes.
“…ketika saya menulis bait-bait pertama [the Song of Bernadette] saya berjanji bahwa saya selamanya dan di manapun dalam semua tulisanku, memuliakan misteri Ilahi dan kesucian manusia.”
Dalam bukunya I remember Flores, New York, 1957 Kapten Jepang Tasuku Sato dihadapkan pada kenyataan akan keyakinan umat sederhana di Flores yang memiliki devosi kepada Bunda Maria.
Ia menulis, “Pater Sanders, seorang imam Belanda tiba di sini pada tahun 1851. Ia masih mendapatkan umat mempertahankan iman mereka meskipun tanpa imam. Bersama raja dan umat, ia berlutut mengucapkan doa rosario.” (Ende, Nusa Indah, 2005 p.164)
Devosi kepada Maria sudah terjadi jauh sebelum Kapten Nippon itu datang atau dilahirkan. Bahkan bisa dikatakan bahwa devosi kepada Maria membentuk karakter orang-orang Flores secara unik dengan segala implikasi dan konsekuensi budaya yang mengikutinya.
Dengan kata lain, dalam situasi perang yang mencekam, sang Kapten Nippon tidak kehilangan religiositas dalam dirinya yang elegan untuk membaca hati dan raut wajah orang-orang beriman di Flores.
Mereka berdoa dan percaya diri. Hidup secara genuine (autentik). Mereka bekerja dan tidak ‘menambang’ seni, cara hidup dan bahasa bangsa Nippon yang kemudian gagal total di tanah air Flores.
Devosi rakyat kepada Bunda Maria bahkan melampaui dalih dan keputusan politik termasuk keputusan yang dari atas.
Devosi itu justru menciptakan panorama baru dalam pandangan matanya di negeri jajahan dengan nama pulau Bunga.
Dengan kata lain, orang-orang di Flores menghormati Bunda Maria. Mereka memiliki cara berdoa dan keyakinan kepadanya.
Dengan itu mereka memiliki kapasitas untuk membaca apakah pemimpinnya menghargai dan memiliki iman atau sebaliknya.
D. C. Schinder filsuf America dalam bukunya God and the City berargumen bahwa Tuhan bekerja melalui para pemimpin politik (Schindler, St. Augustine, Press, IN 2023).
Luka: Cinta tak punya alternatif
Dewasa ini kita berbicara tentang luka (wound). Macam-macam luka menunjukkan vulnerability (kerentanan). Sekuat apapun manusia, ia tetap rentan.
Kerentanan menyimpan dan menegaskan kapasitas besar, dashyat di dalam dirinya.
Ia bekerja secara organik setiap saat untuk hidup, bertahan, peduli dan terlibat. Kerentanan bukan kemalangan. Ia parallel dengan cermin. Bisa memantulkan.
Menolak kerentanan akan menjauhkan manusia dari realitas. Jelas ada konsekuensi yang fatal jika realitas (manusia) ditolak, disangkal apalagi ‘diamankan’ dalam bahasa order baru.
Ada luka yang ditanggungkan kepada yang lemah (PK 17 Mei 2026). Argumen berpikir itu jika dibalik akan berarti penyangkalan atas kebenaran dari orang-orang yang innocent atau tidak bersalah.
Ia sekaligus menghancurkan dengan paksa segala potensi yang relevan, organik, dinamis dan berkesinambungan.
Ada epidemi sosial yang tertutup, menyebar secara pyramidal dan kaum lemah dan rentan sebagai korban di atas mezbah dalam kasus virus HIV (Pos Kupang, 24 April 2026). Padahal penyebaran AIDS dan HIV terjadi melalui instrumen dan cara yang kompleks.
Jadi tidak tepat, profesional dan manusiawi jika para penyintas HIV dan penyakit sekelasnya dengan mudah dianggap dan dituduh sebagai biang keladi penyebar virus.
Werfel dalam novelnya menunjukkan kepada pembacanya bahwa love has no alternative. Love is in the end. Love loves to love and loving kata Santu Agustinus.
Dalam bagian penutup novelnya ia menulis tentang Love (Cinta). Dan benar, sang biarawati Bernadette ternyata mengucapkan kata itu di akhir hayatnya ketika bola matanya bergeming ke arah yang jauh, di sana, kepada Bunda Maria yang tampak di dalam ruangannya ketika itu.
Indeed, it is the Song of Bernadette! (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
