Senin, 18 Mei 2026

Lewotobi Erupsi

600 Warga Nekat Bertahan di Zona Rawan Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki 

Sedikitnya 600 warga masih menetap dan beraktivitas di kawasan rawan bencana (KRB) erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.

Tayang:
POS-KUPANG.COM/HO
Aktivitas warga Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, masih normal, Jumat, 4 Agustus 2025. Desa ini masuk dalam zona bahaya erupsi Lewotobi Laki-laki 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Kabelen

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Sedikitnya 600 warga masih menetap dan beraktivitas di kawasan rawan bencana (KRB) erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.

Mereka umumnya warga di Dusun Kampung Baru dan Dusun Podor, Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, NTT.

Pantauan Pos Kupang, Senin (4/8) siang, sejumlah pengusaha di Pasar Boru lama, Dusun Kampung Baru, masih membuka kios, toko foto copy, warung makan dan lapak jualan BBM eceran di sejumlah tempat.

Padahal, disetiap sudut wilayah itu lingkungannya belum nayaman karena di ruas jalan masih penuh dengan abu vulkanik Gunung Lewotobi .

Aktivitas warga Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, masih normal, Jumat, 4 Agustus 2025. Desa ini masuk dalam zona bahaya erupsi Lewotobi Laki-laki
Aktivitas warga Desa Boru, Kecamatan Wulanggitang, Flores Timur, masih normal, Jumat, 4 Agustus 2025. Desa ini masuk dalam zona bahaya erupsi Lewotobi Laki-laki (POS-KUPANG.COM/HO)

Untuk diketahui, setiap hari Senin menjadi hari pasat di wilayah itu. Sekalipun lokasi pasar berpindah ke Dusun Kelobong, Desa Boru, setelah bencana dahsyat Lewotobi Laki-laki 3 November silam.

"Kami tidak mengungsi, kami disini untuk bisa jualan demi kelangsungan hidup," ujar seorang pedagang, meminta namanya dirahasiakan.

Menurutnya, usaha kios sembako sudah dirintisnya sejak 12 tahun silam. Usaha ini berjalan dari nol, dengan modal awal pinjaman ke bank. Saat usahanya kian sukses, datang bencana letusan Gunung Lewotobi Laki-laki. 

Baca juga: LIPSUS: Obat AIDS Sering Kosong di NTT, Ridho Herewila Layani ODHIV dengan Kasih 

Kondisi itu membuat ribuan warga terpaksa mengungsi ke tempat yang aman. Hal ini mengakibatkan omzetnya merosot dan dia merugi.

Namun dia dan keluarganya tak mengungsi ke posko terpusat ataupun mandiri. Mereka tetap bertahan. 

Namun, saat terjadi letusan dahsyat Gunung Lewotobi, dia dan keluarga menyelamatkan diri ke arah barat, tepatnya di perbatasan Flores Timur-Sikka. Setelah itu, mereka kembali ke lokasi semula.

"Kami kembali lagi ke sini kalau keadaan sudah mulai kondusif. Kami punya tempat usaha dan rumah juga ada di sini, jadi kami memilih untuk tetap bertahan," katanya.

Sejumlah siswa penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, saat dijemput  dengan mobil pickup ke sekolah, Sabtu (02/08/25).
Sejumlah siswa penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, NTT, saat dijemput dengan mobil pickup ke sekolah, Sabtu (02/08/25). (POS-KUPANG.COM/PAUL KABELEN)

Pelayanan di Puskesmas Boru juga berjalan normal di tengah status Level IV (Awas) Lewotobi Laki-laki. Pusat kesehatan masyarakat yang melayani warga dari 11 desa itu juga berada dalam peta KRB namun mereka tetap memberikan pelayanan kesehatan bagi warga.

Lalu lintas kendaraan yang datang dari segala penjuru terpantau ramai. Ruas jalan dan lingkungan Desa Boru, dipenuhi abu vulkanik setebal 3 - 4 centimeter.

Sejumlah anggota Polres Flores Timur dan Polsek Wulanggitang membagikan masker bagi warga saat ke Pasar Boru. Seluruh pasar penuh dengan abu. 

Baca juga: Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur NTT Berubah Bentuk Usai Erupsi

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved