Siswa Keracunan Makanan Gratis

Siswa SMPN 8 Kupang Keracunan Makanan, BPOM: Daging Sapi dan Sayur Ada Bakteri

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap temuan bakteri pada sampel Makan Bergizi Gratis (MBG).

Penulis: Ray Rebon | Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/RAY REBON
ERLIN HERLINA - Deputi Pengawasan Pangan BPOM, Erlin Herlina (tengah) memberikan pernyataan di SMPN 8 Kota Kupang, Senin (4/8/2025). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah selesai memeriksa sampel makanan yang diduga sebagai penyebab keracunan siswa SMP Negeri 8 Kota Kupang.

Deputi Pengawasan Pangan BPOM, Erlin Herlina menjelaskan, pihaknya tidak memperoleh sisa makanan dari hari kejadian.

Pengujian dilakukan terhadap Makan Bbergizi Gratis (MBG) yang disiapkan pada 22 Juli 2025, sehari setelah insiden.

"Sisa makanan yang langsung berhubungan dengan korban tidak ada, sehingga sampel yang kita ambil adalah yang tertinggal," ujar Erlin Herlina di SMPN 8 Kupang, Senin (4/8).

Kata Erlin, hasil pengujian menemukan bakteri Streptococcus sp pada daging sapi yang dapat menyebabkan diare berat.

Selain itu, ditemukan bakteri Staphylococcus pada sayur yang berpotensi mengganggu mikrobiota usus.

Erlin mengatakan, pihaknya menilai temuan ini mengindikasikan adanya masalah higienitas dan sanitasi dalam proses pengolahan makanan.

Meski demikian, Erlin menyebut penyebab keracunan massal ini tidak semata-mata berasal dari makanan. 

Baca juga: DPRD NTT Nilai MBG Layak Disetop Sementara untuk Perbaikan 

"Banyak faktor di luar makanan, karena terjadinya besoknya. Namun, kita tetap melakukan pengujian dan identifikasi," jelasnya.

Menurut Erlin, BPOM merekomendasikan perbaikan prosedur pengolahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pemeriksaan kesehatan bagi penjamah makanan, penggunaan alat pelindung diri (APD) secara lengkap, serta kewajiban mengamankan sampel makanan jika terjadi kasus serupa.

Selain uji pangan, pihaknya juga berkoordinasi dengan Laboratorium Kesehatan Daerah NTT untuk melakukan uji spesimen muntahan dan feses korban.

"Kami fokus pada uji pangan dengan dua bakteri yang teridentifikasi. Itu dijadikan dasar untuk perbaikan ke belakang, meski bukan dari sampel langsung korban," tambah Erlin. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

 

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved