NTT Terkini
Solusi Inovatif : Ubah Limbah Tray Telur Jadi Pupuk Kompos
Pemanfaatan limbah tray telur sebagai bahan dasar kompos menawarkan beragam keunggulan yang menjadikannya pilihan tepat:
POS-KUPANG.COM, KUPANG -- Dosen Fakultas Pertanian atau Faperta Undana, Agustina Etin Nahas, S.P, M.Si bersama mahasiswa Program Studi (Prodi) Agroteknologi melakukan kegiatan mengubah limbah tray telur menjadi pupuk kompos.
Kegiatan ini berlangsung di Kelurahan Bakunase 2, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, Sabtu (24/5/2025).
Menurut Agustina, di tengah tantangan pengelolaan sampah, ada sebuah inisiatif sederhana namun berdampak besar.
"Limbah tray telur kertas, yang seringkali berakhir di tempat pembuangan akhir, kini bisa disulap menjadi pupuk kompos organik. Langkah ini tidak hanya menjadi solusi cerdas untuk mengurangi timbunan sampah, tetapi juga mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan," kata Agustina.
Tray telur, wadah pelindung vital selama penyimpanan dan distribusi telur, umumnya terbuat dari serat kertas.
Baca juga: Prodi Agroteknologi Faperta Undana Gelar Pengabdian Pada Kelompok Tani Pelangi di Bakunase II
Dikatakan, wadah ini kerap dianggap sebagai sampah tak berguna. Namun, pegiat lingkungan melihat potensi emas di dalamnya, menjadikannya bahan dasar yang ideal untuk proses pengomposan.
Mengapa Tray Telur Sangat Cocok untuk Kompos?
Pemanfaatan limbah tray telur sebagai bahan dasar kompos menawarkan beragam keunggulan yang menjadikannya pilihan tepat:
1. Mudah Terurai dan Perkaya Mikroba: Terbuat dari serat selulosa alami, tray telur sangat mudah diurai oleh mikroorganisme pengurai dalam tanah. Proses dekomposisi yang cepat ini tidak hanya mempercepat pembentukan kompos, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan yang subur bagi pertumbuhan bakteri dan jamur baik yang esensial untuk kesehatan tanah.
2. Sumber Karbon Penting untuk Keseimbangan Nutrisi: Dalam dunia perkomposan, tray telur digolongkan sebagai bahan "coklat" yang kaya akan karbon (C). Kehadiran karbon sangat krusial untuk menyeimbangkan rasio karbon dan nitrogen (C/N) dalam tumpukan kompos. Keseimbangan ini adalah kunci agar proses penguraian berjalan efisien, mencegah bau tidak sedap, dan memastikan nutrisi terserap sempurna.
3. Memperbaiki Struktur Tanah dan Aerasi Kompos: Saat hancur, serpihan tray telur membantu menciptakan struktur kompos yang lebih gembur dan tidak padat. Ini memastikan sirkulasi udara (aerasi) yang optimal di dalam tumpukan kompos. Kompos dengan aerasi yang baik akan mempercepat aktivitas mikroba dan menghasilkan pupuk yang lebih berkualitas saat diaplikasikan ke tanah.
Baca juga: Ini yang Dilakukan Dosen, Mahasiswa dan Alumni Prodi Agroteknologi Faperta Undana di Poktan Pelangi
4. Pengatur Kelembaban Alami yang Efektif: Sifat higroskopis kertas pada tray telur memungkinkannya menyerap kelembaban berlebih. Ini berperan penting dalam menjaga kadar air kompos tetap ideal, mencegahnya menjadi terlalu basah (yang bisa menyebabkan pembusukan anaerobik dan bau tak sedap) atau terlalu kering (yang menghambat aktivitas mikroba).
5. Langkah Nyata Kurangi Sampah dan Mendukung Ekonomi Sirkular: Dengan mengomposkan tray telur, kita secara aktif berkontribusi pada pengurangan volume limbah rumah tangga yang berakhir di TPA. Ini adalah bentuk daur ulang yang cerdas dan praktis, mengubah "sampah" menjadi sumber daya berharga.
Di tingkat komunitas, inisiatif semacam ini dapat mendorong ekonomi sirkular di mana limbah dipandang sebagai bahan baku, bukan hanya buangan.
6. Alternatif Pupuk Kimia yang Ramah Lingkungan: Pemanfaatan kompos dari tray telur mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mahasiswa-Agroteknologi-PkM-di-Bakunase.jpg)