NTT Terkini

Selaraskan Program Bantu Petani di NTT, CIRMA Gelar Workshop

Kegiatan itu digelar dengan tujuan memperkuat keadilan iklim dan ketahanan komunitas bagi 6.000 petani kecil di 30 desa atau di 14 kecamatan

Penulis: Irfan Hoi | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
Penandatanganan para pihak dengan CIRMA untuk penyelarasan program dalam upaya membantu petani kecil di NTT. Selasa (20/5/2025) di Hotel Harper Kupang. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri (CIRMA) menggelar workshop untuk menyelaraskan program dalam upaya membantu petani di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Workshop dengan nama Emporing West Timor: Advancing Climate Justice and Community Reselience For Rural Smallholder Farmer mengusung tema; "Memajukan 6000 Petani Kecil di 30 Desa: Selaraskan Program - Kolaborasi Aksi -Akselerasi Dampak", Selasa (20/5/2025) di Hotel Harper Kupang. 

Kegiatan itu digelar dengan tujuan memperkuat keadilan iklim dan ketahanan komunitas bagi 6.000 petani kecil di 30 desa atau di 14 kecamatan yang tersebar di seluruh Pulau Timor. 

Direktur CIRMA, John Mangu Ladjar menyebut kolaborasi penting dilakukan. Workshop itu dimaksudkan agar ada kesepahaman bersama rancangan CIRMA dalam kerangka memajukan petani kecil. 

"Dengan target pembangunan yang direncanakan masing-masing Kepala Daerah atau visi misi pembangunan tiap daerah," tambah dia. 

John Ladjar berkata, selain pemerintah dari kabupaten/kota di Pulau Timor, CIRMA juga menggandeng Sekber Ayo Bangun NTT milik pemerintah provinsi agar membantu konsolidasi ke level pemerintahan lebih dibawah. 

Tiga tahun kedepan, CIRMA akan melaksanakan program tersebut. Saat ini, kata dia, masih dalam tahap perencanaan. Dia menyebut dari berbagai pertemuan dengan para Kepala Daerah, semuanya menyambut baik program tersebut. 

"Mereka berharap supar CIRMA bisa memberi perubahan yang bermakna bagi petani kecil di desa-desa," katanya. 

Menurut dia, penyelarasan ini akan dilanjutkan dengan Kepala Daerah di tiap Kabupaten/Kota, selain penyamaan saat agenda workshop. Dia menilai berbagai masalah yang dialami petani adalah hal klasik. 

CIRMA ingin agar tantangan yang sudah diketahui itu harus mendapat respon lebih dari berbagai pihak. Selama ini, petani kecil masih bergantung dengan air hujan untuk bertani. Jikapun ada akses ke irigasi itu sangat terbatas. 

Sisi lain, tantangan yang didapati adalah bibit. Kadangkala benih bibit menjadi masalah tersendiri bagi petani. Mereka sulit mendapat benih dan bibit saat musim tanam. Adapun bibit atau benih lokal, namun tidak tahan iklim. 

"Kadang bibit yang didatangkan ke mereka, itu juga tidak cocok dengan unsur hara tanah mereka sehingga mereka tidak berhasil. Kalaupun bibit bagus, tapi air tidak ada, mereka akan semakin sulit," ujarnya. 

Tantangan lainnya yakni pupuk yang sering sulit diperoleh petani. Pupuk subsidi kerap sangat jarang didapat, bahkan bila mendapat, sangat kecil petani yang memperolehnya. Sisi lain, petani kecil punya pemahaman yang kurang tentang pengolahan pupuk organik. 

Baca juga: Kadis Pariwisata NTT Dorong Pemkab Sumba Barat Daya Tindak Tegas Aksi Pemalakan

John Ladjar menyebut tantangan lainnya adalah kesulitan pengetahuan bertani cerdas. Kebanyakan sistem pertanian masih mengadopsi pola tradisional. Padahal perlu modifikasi yang dibarengi dengan pengetahuan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved