Breaking News

UMKM Batavia Gading Art Lestarikan Seni Kuno Lewat Aksesori Elegan

UMKM Batavia Gading Art, yang berdiri sejak 2022, bukan sekadar usaha kriya melainkan simbol warisan budaya yang telah diwariskan

Editor: Sipri Seko
POS-KUPANG. COM/TARI TAHMANIAR ISMAIL
GADING ART - Asniati Fatmawati dari UMKM Batavia Gading Art  menunjukkan hasil karyanya yang dipasarka. 

Laporan reporter POS-KUPANG.COM, Tari Rahmaniar Ismail

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Asniati Fatmawati, salah satu pelaku UMKM yang berfokus pada aksesoris ini merupakan generasi ke empat yang meneruskan usaha Batavia Gading Art

Seni lama yang nyaris terlupakan kembali bersinar. UMKM Batavia Gading Art, yang berdiri sejak 2022, bukan sekadar usaha kriya melainkan simbol warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun selama empat generasi di keluarganya.

Bahan baku utamanya bukan sembarang material gading gajah dari Flores Timur, yang secara historis pernah digunakan sebagai alat barter di masa penjajahan.  Kini, gading itu menjelma menjadi beragam aksesori elegan seperti cincin, kalung, tongkat, bros hingga tempat menyimpan parang.

"Produk kami ada yang berbahan dasar serbuk gading, ada juga yang dari gading asli. Tentu saja beda kualitas dan harga," ujar Asniati saat ditemui POS-KUPANG.COM, Senin (19/5).

Harga aksesori dari serbuk gading mulai dari Rp 25.000, sementara yang berbahan gading asli mulai dari Rp 50.000 sampai jutaan rupiah, tergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan.

"Proses pembuatannya itu diukir jadi ada alatnya di maumere dan itu bapa yang buat," ujarnya. 

Sementara itu dalam satu bulan bisa menjual sebanyak 30 pcs aksesoris dengan berbagai macam jenis.

"Pendapatan tidak menentu karena bukan bahan pokok, tetapi cukup untuk balik modal," ujarnya. 

Sementara itu satu hari bisa terjual lima atau 10 pcs aksesoris kecil yang diminati oleh masyarakat pecinta seni. 

Produksi dilakukan di Maumere, sementara pemasarannya menjangkau seluruh NTT hingga ke media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok dengan nama akun Batavia Gading Art.

Dengan modal awal dia puluh lima juta pada tahun 2022, usaha ini kini menjadi pionir pelestari seni ukir gading di Nusa Tenggara Timur. Membuat satu produk bisa memakan waktu hingga satu bulan. Tapi bagi Asniati, waktu bukanlah hambatan. 

“Ini bukan hanya soal jualan, ini soal menjaga warisan,” tegasnya. (iar) 

 

 

Baca berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE.NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved