Breaking News
Sabtu, 2 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Jumat 18 April 2025, "Mengenang Sengsara dan Wafat Yesus Kristus"

Banyak orang tertegun melihat hamba Tuhan menderita, rupanya begitu buruk, tidak seperti manusia lagi. Ia tertikam oleh karena kedurhakaan kita

Tayang:
Editor: Eflin Rote
Foto pribadi
RP. Markus Tulu SVD 

Renungan Harian Katolik
Jumat Agung, 18 April 2025
Oleh: RP Markus Tulu SVD
Bacaan: Yes. 52:13-53:12; Ibr. 4:14-16; 5:7-9; Yoh. 18:1-19:42

"Mengenang Sengsara dan Wafat Yesus Kristus"

Selamat merayakan Jumat Agung bagi yang merayakannya. Perayaan Jumat Agung merupakan perayaan kita mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. 

Perayaan tersebut mengandung pesan-pesan kehidupan beriman kita sebagai berikut:

Pertama, Ketaatan untuk menderita sengsara membuat banyak orang tertegun dan mengatup mulut raja-raja. 

Banyak orang tertegun melihat hamba Tuhan menderita, rupanya begitu buruk, tidak seperti manusia lagi. Ia tertikam oleh karena kedurhakaan kita, ia diremukkan oleh karena kejahatan kita.

Tapi derita sengsaranya ini mendatangkan keselamatan bagi kita. Itulah sebabnya banyak orang tertegun, banyak bangsa tercengang dan mulut raja-raja terkatup kagum. 

Kedua, Ketaatan Yesus menjadi pokok keselamatan bagi semua orang yang taat kepada-Nya. Karena itu Yesus meminta kita untuk teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Yesus yang adalah Imam Agung tapi rela turut merasakan kelemahan kita.

Dia dicobai, hanya saja Dia tidak berbuat dosa. Dalam hidupnya sebagai manusia, Yesus telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Allah yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut.

Ketaatan Yesus ini hendaklah juga menjadi ketaatan kita para pengikut-Nya. Ketiga, Penegasan kesaksian sebagai Putera Allah dan keberanian menunjukkan kebenaran.

Siapakah yang kamu cari? Tanya Yesus kepada imam-imam kepala, orang-orang Farisi dan Yudas Iskariot sebagai pengkhianat. Jawab mereka, " Yesus dari Nazaret!" Akulah Dia! Jawab Yesus. Jawaban Akulah Dia, adalah bentuk penegasan kesaksian Yesus sebagai Putera Allah dan keberanian menunjukkan kebenaran bahwa Dia sungguh datang dari Allah yang adalah kasih dan kebenaran.

Dan Dia sendiri adalah kebenaran itu. Keempat, Menghadapi kekerasan dengan sikap damai dan pengampunan. Sarungkan pedangmu itu. Kata Yesus kepada petrus.

Bukankah Aku harus minum piala yang diberikan Bapa kepada-Ku? Yesus menegaskan hal ini agar mengingatkan kita untuk mengutamakan pelaksanaan ketaatan terhadap kehendak Allah. Karena itu yang menyelamatkan. Bukan membangun  perlawanan.

Karena itu membinasakan hidup. Kelima, Berbicara jujur dan berterus terang, bukan menyangkal dan mengkhianati. Aku selalu mengajar di rumah-runah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul.

Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. Kejujuran ini mengajarkan kita untuk bersikap konsisten dan konsekuen mempertahankan iman dan menegaskan kebenaran. Bukan menyangkal seperti Petrus ketika ditanya, "Apakah engkau juga murid Yesus?"

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved