Senin, 20 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik: Ego Te Inveni, Aku Menemukanmu Kembali

Yosua dalam bacaan pertama menggambarkan tentang akhir dari pengembaraan panjang bangsa Israel menuju tanah terjanji Kanaan. 

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/HO
RD. Fransiskus Yance Sengga 

Refleksi Minggu IV Prapaskah 30 Maret 2025

Oleh: RD. Fransiskus Yance Sengga, S.Fil.Lic.Th.
Dosen Teologi Liturgi di Stipar Ende

POS-KUPANG.COM - Kita memasuki Minggu Prapaskah IV Tahun C. Liturgi memberi nama pada Minggu ini dengan sebutan Minggu Laetare. Laetare adalah sebuah kata dalam bahasa Latin yang berarti bersukacita. 

Kata yang sama, muncul pada awal kalimat Antifon pembuka dalam liturgi pekan tersebut yakni, “Laetare Jerusalemme et exultate in ea” yang berarti “Bersukacitalah Yerusalem dan bersorak-sorailah karenanya (Yesaya 66:10a). 

Membaca antifon ini, segera dalam benak kita muncul pertanyaan, “Mengapa kita bersukacita di tengah masa tobat Prapaskah ini? 

Tidakkah seharusnya kita bermuram durja? Ada dua alasan yang dapat dijadikan landasan untuk bersukacita. 

Pertama, karena orang-orang kristiani telah melewati separuh dari Masa Prapaskah. 

Itu berarti perjuangan para beriman untuk berpuasa dan pantang (matiraga), berdoa, dan memberi sedekah atau amal kasih boleh dikatakan sudah hampir berhasil. 

Kedua, ziarah tobat telah menghantar umat kristiani semakin dekat pada Hari Raya Paskah. Tinggal hanya separuh jalan menuju puncak pendakianyang menerbitkan cahaya Paskah Tuhan.

Lebih lanjut, Congregasi Culto Divino dalam Litterae Circularis de Festis Paschalibus Praeprandis et Calebrandi menulis bahwa pada Minggu Laetare ini, dapat juga dipakai busana liturgi berwarna merah muda (no.25) atau rosa. 

Warna rosa dalam konteks refleksi di atas, merupakan salah satu warna terpilih yang diapiti warna ungu dan putih. 

Hal ini menjadi sebuah indikasi bahwa di antara warna ungu yang memberi ciri pada masa Prapaskah, ada warna rosa yang memberi rasa pada apa yang kelak dialami dalam misteri Paskah dengan khas warna putih. 

Karena itu, sejak abad ke-11, di masa Paus Urbanus II (1088-1099), tepat di Minggu Laetare ini, muncul tradisi untuk memberi hadiah “Mawar Emas” atau “Mawar Kebajikan” kepada seseorang, lembaga, kota atau tempat ziarah yang memiliki makna penting bagi pertumbuhan iman Gereja. 

“Mawar Emas” itu adalah Kristus, duri menjadi lambang derita, bunga simbol Tuhan yang bangkit. Pada masa Paus Paulus VI, anugerah ini kemudian hanya khusus diberikan untuk tempat-tempat ziarah. 

Paus Fransiskus di masa kepausannya (1 Juni 2019) pernah menganugerahkan “Mawar Emas” ini untuk Basilika Perawan dari Sumuleu Ciuc di Rumania.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved