Sabtu, 9 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 30 Maret 2025, Pertobatan yang Sejati dan Belas Kasihan Allah

Sekarang mereka makan dari hasil keringatnya sendiri sebagai tanda kehadiran Allah secara kontinue dalam keseharian hidupnya.

Tayang:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
RENUNGAN KATOLIK- Renungan Harian Katolik Minggu 30 Maret 2025 ditulis Pater Oris Liko OCD 

Renungan Hari Minggu Prapaskah ke IV,Tanggal 30 Maret 2025

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Renungan Harian Katolik merujuk pada Bacaan I: Yosua 5:9a.10-12; Bacaan II: 2 Korintus 5:17-21 dan  Injil Lukas: 15:1-3.11-32.

Umat beriman yang terkasih dalam Tuhan.

Hari ini Gereja Katolik memasuki minggu Prapaskah yang keempat. Minggu Prapaskah  keempat disebut juga sebagai minggu Laetare(Minggu Bersukacita).

Dalam minggu ini kita mengantisipasi sukacita Paskah. Bacaan-bacaan  suci  hari ini mengajak kita untuk bersukacita karena berdamai dengan Tuhan melalui pertobatan dan pengampunan yang penuh belaskasihan dari Allah.  

Bacaan dari Kitab Yosua memberikan gambaran kepada kita tentang  umat Allah memasuki tanah terjanji dan merayakan paskah. Perjalanan yang panjang melintasi padang gurun selama 40 Tahun sangat melelahkan. Bagian ini diawali dengan Firman Allah yang berbunyi.” Hari ini telah kuhapuskan cela Mesir dari padamu.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 30 Maret 2025, “Anak yang hilang”

”Sabda Allah ini mengungkapkan identitas Israel yang sesungguhnya. Dari generasi ke generasi mereka hidup dengan memori yang sangat menyedihkan karena berada dalam situasi perbudakan di Mesir.

Allah  membawa mereka ke tanah terjanji, sebagai pemenuhan atas janjiNya dan pembaharuan kemartabatan bangsa Israel  sebagai umat pilihan Allah. Lokus atau tempat dari peristiwa ini terjadi di Gilgal.

Gilgal berarti gulungan, menggulung, lingkaran/bundaran  batu-batu. Lingkaran,batu-batu yang melingkar telah dilepaskan untuk menegaskan makna pembebasan dan pembaharuan hidup. Hal ini mau memperkuat pernyataan bahwa penderitaan yang begitu hebat telah dipulihkan.

Perayaan paskah di Gilgal sangat signifikan bagi  bangsa Israel. Paskah mengingatkan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dan tanah terjanji adalah simbol  penggenapan perjalanannya dan permulaan hidup baru.

Gerakan dari makan manna di Padang gurunke makan makanan yang dihasilkan dari tanahnya sendiri merupakan masa transisi yang dikehendaki Allah. Ketika Israel mengembara di Padang gurun mereka sangat bergantung pada manna. Mukjizat manna di Padang gurun menjadi tanda kasih dan pemeliharaan Allah bagi umatNya.

Sekarang mereka makan dari hasil keringatnya sendiri sebagai tanda kehadiran Allah secara kontinue dalam keseharian hidupnya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 29 Maret 2025, "Hidup Tidak Tinggi Hati"

Allah berhenti untuk tidak memberikan manna lagi tidak berarti Allah meninggalkan mereka tetapi  suatu panggilan bagi bangsa Israel untuk selalu percaya pada pemeliharaan Allah dalam hidupnya. Ada lonjakan kematangan spiritual yaitu beralih dari ketergantungan pada tanda mukjizat yang  luar biasa ke hal yang biasa untuk mengenal kehadiran Allah dalam ritme kehidupan harian. 

Masuknya bangsa Israel ke Kanaan merupakan pemenuhan janji Allah kepada Abraham. Pencapaian mereka ke tanah terjanji bukanlah akhir dari peziarahan secara fisik tapi merupakan fase baru dalam relasi kehidupan dengan Allah.

Tanah merupakan pemberian sekaligus tanggung jawab –tempat dimana mereka harus hidup sesuai dengan hukum Allah dan memberikan kesaksian tentang kesetiaanNya. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved