Kota Kupang Terkini
Teripang Jadi Usaha Menjanjikan Dengan Proses Pengolahan Panjang
Ia juga mengatakan para nelayan sendiri biasanya mendapatkan sekitar 50 kg hingga 70 kg teripang per kapal dalam satu kali perjalanan.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tari Rahmaniar Ismail
POS-KUPANG.COM,KUPANG -- Usaha teripang yang digeluti masyarakat di pesisir Pantai Oesapa Kota Kupang NTT sejak tahun 2007 kini berkembang menjadi komoditas ekspor yang menjanjikan.
Atta Majid selaku pekerja teripang di Pantai Oesapa mengatakan, proses pengolahan teripang sebelum diekspor keluar daerah.
"Teripang yang akan diekspor ke luar negeri harus melalui beberapa tahapan pengolahan yang memakan waktu sebulan," ujarnya saat diwawancarai POS-KUPANG.COM, Rabu (26/3/2025).
Dijelaskan, proses pertama yang dilakukan adalah memasak teripang selama 15 menit, kemudian dijemur selama satu hari penuh. Setelah itu, teripang dimasak lagi selama 10 menit dengan api besar dan dijemur kembali.
"Proses ini harus dilakukan berulang kali hingga teripang siap untuk diekspor. Total waktu yang dibutuhkan untuk memproses tripang hingga siap kirim ke luar negeri mencapai satu bulan," ujarnya.
Baca juga: PSDKP Kupang Ungkap Modus Penyelundupan WNA China: Pura-pura Cari Teripang
Rute ekspor teripang ini melalui Surabaya, dilanjutkan ke Makassar dan Jakarta, lalu akhirnya sampai ke Hong Kong, tujuan utama pasar ekspor teripang.
Dalam proses ekspor ini, Atta Majid selaku pekerja menyebutkan bahwa teripang yang disiapkan untuk ekspor bisa mencapai 500 kg dengan berbagai jenis teripang sesuai dengan penghasilan para nelayan.
Harga teripang bervariasi mulai dari 200 ribu rupiah hingga jutaan rupiah tergantung pada jenisnya.
“Teripang yang mahal yang kami siapkan saat ini itu namanya tripang susu, harga ekspornya terakhir itu 2,3 juta rupiah per kilogram. Dan paling banyak kami bawa ke luar itu sekitar 500 kg,” kata Atta Majid.
Namun, kondisi cuaca buruk dalam beberapa minggu terakhir menyebabkan nelayan tidak dapat melaut untuk mencari teripang.
Menurut Atta cuaca yang baik untuk nelayan teripang adalah antara bulan Agustus hingga Januari. Sementara itu, mulai Februari hingga Juli, hasil tripang cenderung menurun.
“Sekarang sudah dua minggu nelayan tidak ada yang pergi mencari teripang karena cuaca buruk dan juga mendekati waktu lebaran,” tambah Atta.
Teripang yang diekspor sebagian besar berasal dari laut perbatasan Australia dan Pulau Rote. Saat ini, ada tujuh kapal yang berfokus pada pengambilan tripang, dengan masing-masing kapal memiliki enam anggota.
"Para nelayan biasanya dapat mengumpulkan tripang dalam jumlah yang bervariasi, mulai dari 200 hingga 900 ribu per kilogram," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/jemur-teripang.jpg)