Selasa, 28 April 2026

Ende Terkini

Surat Gembala Uskup Agung Ende Serukan Pertobatan Ekologis

Surat Gembala ini bertemakan ‘Pertobatan Ekologis’, umat diajak agar di Tahun Yubileum ini menjadi saat berahmat yang kita tanggapi dengan mengusahaka

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/ARNOLD WELIANTO
Uskup Agung Ende Mgr Paul Budi Kleden, SVD saat memberikan sambutan usai misa penahbisan di Gereja Katedral Ende, Kamis 22 Agustus 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Charles Abar

POS-KUPANG.COM, BAJAWA - Uskup Agung Ende Mgr.Paulus Budi Kleden, SVD, telah mengeluarkan surat gembala Prapaskah 2025.

Surat Gembala ini bertemakan ‘Pertobatan Ekologis’, umat diajak agar di Tahun Yubileum ini menjadi saat berahmat yang kita tanggapi dengan mengusahakan keadilan sosial, kasih persaudaraan, solidaritas dan pelestarian lingkungan.

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2025

Para imam, biarawan-biarawati dan segenap umat Allah yang terkasih,

Salam kasih persaudaraan,

Pada Rabu, 5 Maret 2025, kita memasuki masa Prapaskah. Masa Prapaskah merupakan masa retret agung, saat di mana kita kembali menyadari dan mensyukuri kasih Allah yang teramat Besar kepada kita. inilah saat berahmat bagi kita untuk kembali ke kesejatian diri sebagai umat Allah yang kudus, yang "harus sujud di hadapan Tuhan, Allah kita" (UI. 26:10).

Kita diundang untuk meninggalkan jalan hidup yang tidak berkenan kepada Allah dan kembali ke cara hidup yang dikehendaki-Nya, baik secara pribadi maupun bersama-sama. Bersatu dengan seluruh komunitas Gereja Katolik Indonesia, pada masa Prapaskah ini kita merenungkan tema "Pertobatan Ekologis." Tema ini mengingatkan kita bahwa dosa tidak hanya berakibat buruk bagi manusia dan merusak relasinya dengan Allah, melainkan juga berdampak buruk pada alam ciptaan Allah. Dengan mengupayakan pertobatan ekologis, kita membarui kembali komitmen untuk merawat alam lingkungan hidup kita.

Masa Prapaskah tahun ini juga menjadi istimewa karena kita sedang berada dalam Tahun Yubileum 2025. Peregrinantes in Spem atau peziarah pengharapan adalah tema yang membingkai seluruh Tahun Yubileum 2025, termasuk upaya pertobatan di masa Prapaskah ini. Kita diajak untuk menyadari bahwa kita adalah peziarah di bumi ini. Kita bukanlah penguasa bumi yang dengan sesuka hati boleh berbuat apa saja atasnya.

Kita perlu mengupayakan tindakan nyata dalam merawat rumah bersama ini, dan dengan demikian membawa harapan bagi lingkungan hidup, juga bagi saudara dan saudari kita yang lemah, kecil, miskin dan tersingkir. Tahun Yubileum ini menjadi saat berahmat yang kita tanggapi dengan mengusahakan keadilan sosial, kasih persaudaraan, solidaritas dan pelestarian lingkungan.

Saudara - saudari terkasih,

Akhir-akhir ini kita sering mengalami dan merasakan bahwa alam seolah-olah semakin tidak ramah pada manusia dan kehidupan. Di mana-mana bencana alam makin sering terjadi. Ada bencana yang terjadi karena gejala alam semata, seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Namun ada juga bencana yang terjadi karena campur tangan manusia atas alam, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan hilangnya sumber air. Tanah, air dan udara sebagai unsur-unsur penunjang kehidupan di planet kita, sedang berada dalam kondisi kritis dan memprihatinkan.

Kita, umat di Keuskupan Agung Ende, juga sedang mengalami hal yang sama. Penebangan dan pembakaran hutan masih marak terjadi. Penanganan dan pengolahan sampah menjadi persoalan yang belum terselesaikan, terutama di wilayah perkotaan. Sampah rumah tangga pun sering dibuang begitu saja, sehingga menyumbat drainase dan mengakibatkan terjadinya luapan air di musim penghujan.

Masih ada banyak petani kita yang mengolah Iahannya dengan praktek pertanian yang tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan. Eksploitasi sumber daya alam yang juga hadir di wilayah kita, tidak saja membawa dampak positif, tetapi juga mengakibatkan kerusakan lingkungan dan konflik sosial di tengah masyarakat.

Situasi ini sudah semestinya menyadarkan kita semua akan mendesaknya pertobatan ekologis. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa di balik krisis ekologis yang sedang berlangsung ada krisis spiritual yang mendalam sebagai akibat keserakahan dan egoisme manusia (bdk. Laudato Si, 2).

Keserakahan mendorong manusia untuk mencari, mengejar dan mendapatkan segala yang diinginkannya tanpa batas. Manusia berusaha terus-menerus untuk mengeruk kekayaan dan sumber daya alam demi memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Egoisme membuat manusia lupa pada sesama makhluk hidup dan alam lingkungan, serta tega mengorbankannya.

Pada gilirannya dosa keserakahan dan egoisme merusak keutuhan ciptaan dan mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu upaya pertobatan ekologis menjadi suatu ziarah bersama menuju hidup yang sederhana dan solider. 

Paus Fransiskus berbicara tentang ekologi integral yang merangkum tiga keprihatinan Gereja: keutuhan lingkungan, perkembangan integral manusia, dan keberpihakan kepada kaum miskin. Paus selalu menekankan penting dan mendesaknya mendengar suara alam dan memberi perhatian kepada jeritan kaum miskin. Sebab, yang paling rentan terhadap bencana alam karena kecerobohan manusia adalah orang-orang miskin, mereka yang tidak memiliki sumber daya dan dana untuk menyelamatkan diri.

Untuk memaknai masa Prapaskah dalam Tahun Yubileum ini, saya terdorong untuk menyampaikan beberapa hal berikut ini:

Pertama, keberpihakan terhadap lingkungan harus diwujudkan dalam langkah-langkah konkret. Dalam Surat Gembala Yubileum, saya telah menegaskan bahwa pertobatan ekologis menuntut tindakan nyata untuk mencegah alam dari kehancuran dan melindungi orang miskin yang paling rentan.

Keluarga dan KUB dapat melakukan aksi bersama untuk mengurangi sampah plastik, memisahkan sampah dan membuangnya pada tempatnya. Penghijauan dan perawatan tanaman dapat menjadi inisiatif dari lembaga-lembaga pendidikan. 

Para petani didorong untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia. Salah satu hal yang membutuhkan perhatian khusus adalah eksplorasi-eksploitasi panas bumi (geothermal). Kita tidak bisa berdiam diri di hadapan kenyataan ini. Penolakan terhadap geotherma/lahir dari keprihatinan akan konteks Keuskupan ini. Wilayah kita terdiri dari gunung dan bukit, serta menyisakan lahan yang terbatas untuk pemukiman dan pertanian warga. Untuk pertanian, bagian terbesarnya bergantung pada curah hujan, sebab sumber air tanah pun tidaklah banyak.

Sementara itu, sebagian besar penduduk di wilayah ini adalah petani dan pertanian adalah mata pencaharian utama, serentak pembentuk utama kebudayaan dan tradisi. Dalam konteks ini, kita diajak untuk mencari sumber energi terbarukan lain yang lebih sesuai dengan kondisi kita. Inilah salah satu bentuk pertobatan ekologis dan tanda solidaritas Gereja Keuskupan Agung Ende dengan semua yang menjadi korban.

Kedua, dalam kaitannya dengan Gerakan KUB Peduli Ibu Hamil dan Gerakan KUB Ramah Anak, seluruh umat diharapkan untuk menumbuhkan kepedulian yang lebih besar kepada ibu hamil dan anak-anak, khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan makanan dan lingkungan yang sehat, serta penerapan kebiasaan hidup ugahari dan peduli. Kelahiran baru dan pendidikan anak-anak harus kita perhatikan, sebab mereka adalah harapan akan masa depan keluarga dan Gereja. Menatap masa depan dengan harapan berarti memiliki semangat hidup dan kesiapan untuk berbagi (lih. Spes Non Confundit/SNC, 9).

Karena itu, keluarga-keluarga dalam KUB didorong untuk berbagi dari kekurangan, mendukung program-program pangan sehat dan terlibat dalam kegiatan sosial untuk membantu mereka yang membutuhkan. Anak-anak perlu sejak dini dididik untuk menghargai orang lain, memiliki kepedulian terhadap mereka yang lemah serta hidup dalam kesederhanaan. Selain itu, keluarga dan KUB perlu mendampingi anak-anak agar menggunakan waktu dengan baik untuk belajar.

Ketiga, Prapaskah dalam Tahun Yubileum 2025 ini menjadi kesempatan untuk menghadirkan tanda harapan bagi pasangan yang belum menerima sakramen perkawinan. Yubileum hendaknya menginspirasi Gereja untuk melakukan upaya yang lebih besar bagi pasangan muda dan generasi muda. 

Menanggapi ajakan itu, saya juga telah menegaskan dalam Surat Gembala Yubileum agar kita memberi perhatian istimewa terhadap pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan resmi menurut aturan Gereja Katolik. Sebagai bentuk pertobatan di masa Prapaskah ini, saya meminta kerja sama dari semua pihak untuk membantu dan mempermudah urusan pernikahan pasangan-pasangan tersebut, baik dari sisi adat-istiadat, keterbukaan hati orangtua masing-masing pasangan, kewajiban parokial maupun dari sisi sosial lainnya.

Keempat, Prapaskah juga menjadi kesempatan bagi kita untuk meneguhkan harapan bagi keluarga-keluarga migran akan hidup yang lebih baik. Hal ini senada dengan ajakan Paus Fransiskus yang mengatakan bahwa tanda-tanda harapan juga harus ada bagi para migran dan keluarga mereka (SNC, 13).

Seluruh umat diajak untuk memperhatikan keluarga-keluarga migran di sekitarnya. Mereka seringkali menghadapi tantangan besar dalam hal ekonomi, tempat tinggal, dan interaksi serta adaptasi sosial.

Sebagai peziarah pengharapan, kita dipanggil untuk menjadi sahabat bagi mereka dengan memberikan dukungan moral dan material, serta membantu mereka untuk bangkit dan hidup lebih layak.

Salah satu cara konkret untuk menolong keluarga migran adalah melalui upaya pemberdayaan ekonomi berbasis ekologis. Kita bisa bersama-sama menciptakan peluang usaha yang ramah lingkungan, seperti pertanian organik, pengolahan limbah menjadi prodük bernilai, atau usaha kecil berbasis kearifan lokal (kewirausahaan). Dengan demikian kita tidak hanya membantu mereka secara ekonomi, tetapi juga turut menjaga kelestarian alam ciptaan Tuhan.

Kelima, selain sebagai masa pertobatan, Prapaskah juga adalah momentum harapan bagi saudara-saudari kita yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Dalam semangat pertobatan ini, seluruh umat diundang untuk membuka hati dan memberikan harapan bagi mereka yang telah mengalami luka fisik, psikis, dan kehilangan harapan akan masa depan yang lebih baik, terutama perempuan dan anak-anak akibat TPPO. 

Dalam terang kisah orang Samaria yang baik hati (Lük. 10:25-37), kita diajak untuk menjadi saudara bagi mereka yang menderita dengan memberikan perhatian dan membantu proses pemulihan mereka. Kita semua dapat berperan aktif dalam mendukung program-program rehabilitasi, pelatihan keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi bagi para korban TPPO.

Dengan demikian, kita dapat memberikan kesempatan bagi mereka untuk bangkit, membangun hidup yang lebih layak, dan merasakan kasih Tuhan yang memulihkan. Kerjasama semua pihak seperti pemerintah, pemuka adat dan lembaga-lembaga pemberdayaan masyarakat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya TPPO, serta untuk menuntut pertanggungjawaban dari mereka yang menjadi pelakunya.

Saudara/saudari terkasih,

Semoga masa Prapaskah ini menjadi kesempatan bagi kita, untuk semakin dekat dengan Tuhan dan sesama, semakin mengasihi dan peduli serta terlibat dalam berbagai upaya baik, demi kesejahteraan dan keselamatan bersama seluruh alam ciptaan. Seraya mengucapkan selamat menjalankan masa Prapaskah, saya mengutip Surat kepada Orang İbrani NİDan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan şebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah" (İbr. 13:16). (cha)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved