Kepausan
Mengapa Paus Fransiskus Tak Pulang ke Argentina Sejak 2013?
Mengingat kondisi kesehatannya yang memburuk belakangan ini akibat pneumonia ganda, peluangnya mengunjungi Argentina menipis.
"Ia pasti ingin (datang) jika bisa melakukan perjalanan yang sederhana, katakanlah, untuk mengunjungi orang-orang yang dia kasihi dan, entahlah, mungkin merayakan misa bersama mereka," kata Marco, yang masih memiliki hubungan dekat dengan Fransiskus.
"Namun, dia tahu betul bahwa ada jaringan pendukung dan penentang yang terus berselisih mengenai dirinya." Pada September lalu, Paus mengatakan kepada wartawan bahwa dia ingin pergi ke Argentina.
Fransiskus mengatakan, "mereka adalah umatku," tetapi "ada berbagai hal harus diselesaikan terlebih dahulu."
Maximo Jurcinovic, juru bicara konferensi wali gereja Argentina, mengatakan Gereja tengah berfokus pada doa untuk kesehatan Paus dan tidak akan mengomentari hal-hal lain.
Marco mengatakan, Fransiskus terdengar lelah saat berbicara dengannya pada akhir Januari. "Dia berumur 88 tahun, dan di samping itu, ada pula beban kekhawatiran serta ritme kehidupan yang berusaha ia jalani," katanya.
"Sepertinya dia memiliki tekad kuat, kekuatan spiritual yang diberikan Tuhan kepadanya yang membuat tubuhnya melakukan sesuatu, tetapi tubuhnya sudah mengatakan kepadanya: 'Saya tidak bisa.' Itulah yang terjadi padanya sekarang."
Suara Publik Terpecah
Fransiskus menjadi orang Amerika Latin pertama yang menjadi paus. Selama kepausannya, Argentina mengalami serangkaian krisis ekonomi dan gejolak politik.
Pemerintahan saat ini dipimpin Presiden Javier Milei, yang berhasil membawa stabilitas ekonomi tetapi menerapkan kebijakan penghematan yang ketat. Milei pernah menyebut Paus Fransiskus sebagai perwakilan iblis di Bumi.
Namun sejak menjadi presiden, Milei telah berupaya untuk memperbaiki hubungannya dengan Sri Paus. Beberapa orang mengatakan, Fransiskus seharusnya mengunjungi Argentina terlepas dari situasi politik selama ini.
"Opini publik terpecah. Ada yang mengatakan bahwa dia seharusnya datang karena itu akan membantu meredakan ketegangan politik," kata Sergio Rubin, jurnalis Argentina dan salah satu penulis biografi kepausan "The Jesuit".
Rogelio Pfirter, duta besar untuk Vatikan dari tahun 2016 hingga 2019 dan mantan murid Bergoglio di sekolah Yesuit di Argentina, mengatakan bahwa upaya Paus Fransiskus untuk meningkatkan inklusivitas dalam gereja telah menjadi prioritas utamanya.
"Saya tidak ragu bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan Argentina dan tanah airnya memiliki tempat khusus dalam pikiran dan hatinya," kata Pfirter kepada Reuters. Namun, salah satu warisan terbesar Paus adalah "menciptakan kepausan untuk semua orang," ujar Pfirter.
"Dari sudut pandang Paus, mungkin jauh lebih penting mengunjungi Pasifik, mengunjungi Afrika, mengunjungi beberapa negara Amerika Latin lainnya daripada mengunjungi wilayah-wilayah tempat gereja telah memiliki posisi yang kuat."
Banyak umat beriman Argentina masih ingin menyambut Paus Fransiskus pulang dan mengenangnya sebagai Bergoglio, yang lahir pada tahun 1936 di Buenos Aires dari keluarga imigran Italia.
"Fakta bahwa Paus belum datang hingga saat ini membuat saya sedih, sedikit menyakitkan," kata Claudia Nudel dalam misa baru-baru ini di Buenos Aires untuk mendoakan kesembuhan Paus.
Silvia Leda, 70, yang juga hadir dalam misa tersebut, mengatakan, "Saya sangat ingin dia datang, tetapi saya pikir yang terpenting adalah apa yang dapat dia lakukan bagi dunia."
Sumber: Kompas.com
| Paus Leo XIV Enggan Berdebat dengan Presiden AS Donald Trump Mengenai Perang |
|
|---|
| Paus Leo XIV Dapat Kejutan dari Umat Katolik Indonesia |
|
|---|
| Pesan Paus Leo XIV untuk Umat Katolik pada Masa Prapaskah: Mendengarkan dan Berpuasa |
|
|---|
| Paus Leo XIV: Semoga Suara Senjata Berhenti |
|
|---|
| Paus Leo XIV Serukan Tiga Hal Penting Mengenai Situasi Terkini di Gaza |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/PAUS-FRANSISKUS-SERUKAN-PERDAMAIAN-SAAT-NATAL-87.jpg)