Cerpen
Cerpen: Parfum Aroma Balsem
Waktu masih menunjukkan pukul 07.10 ketika aku sampai di sekolah. Aku segera masuk ke kelas untuk menaruh tasku.
“Pantes bau balsem,” astaga aku keceplosan.
Kring!
Bel tanda masuk sudah berbunyi. Dia meninggalkanku, sendiri bersama sapu dan serpihan kaca parfum miliknya. Aku menjepret parfumnya, agar bisa membelikannya yang baru.
Dengan sisa-sisa rasa bersalah, aku membuka kembali foto itu, lalu mengunggahnya di media sosial, dengan caption, “How I met your mother, terima kasih kakek.”
Hai, Kakak yang memecahkan parfumku, ya? Maaf ya, Kak. Aku terbawa emosi.”
Astaga, dia cantik sekali ketika tidak marah. Jiwa remajaku meronta-ronta.
Aku menggenggam tangannya, mengambil motorku, lalu pergi meninggalkan sekolah. Tak ada yang dapat menahanku, hanya aku, keinginanku, dan kamu.
Aku mengajaknya pergi ke toko butik terkenal, lalu ia mencoba gaun yang
disukainya.
Sungguh, gambaran nyata dari lagu karya Shane Filan, “Beautiful In White.”
Tiba-tiba, muncul spidol putih-hitam di bawah kakiku, spidol itu bertambah
banyak.
“Aargh! Sakit sekali!” Spidol itu mengenai kepalaku.
“Huuu!” Teman-temanku bersorak, seakan mengejekku.
Ternyata jam pelajaran sudah selesai. Aku segera mencuci muka, merapikan rambut.
Tak lupa parfum pemberian kakek kuguyur sekujur tubuh, agar terlihat tampan dan wangi di depannya.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gisela-Aileen.jpg)