Kabupaten Kupang Terkini
SMP Kristen 1 Amarasi Kabupaten Kupang NTT Terancam Tutup, Siswa Tinggal 14 Orang
Pelajaran bagi 14 siswa ini diampuh oleh 8 orang guru bersama tiga orang pegawai yang membantu di bagian administrasi sekolah.
Penulis: Yohanes Alryanto Tapehen | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS KUPANG.COM- Ryan Tapehen
POS KUPANG.COM, OELAMASI - Lingkungan SMP Kristen 1 Amarasi makin sepi akibat jumlah siswa yang terus menyusut setiap tahun pasca pandemi Covid 19.
Salah satu guru, Adonia Tefbana yang ditemui di sekolah, Senin 3 Februari 2025 mengaku sebelum pandemi tahun 2018/2019 jumlah siswa mereka mencapai 75 siswa.
Perlahan siswa mulai merangkak turun di tahun 2020 di angka 50an siswa, di tahun 2024 ini siswa tinggal 20an siswa dan di tahun 2025 siswa saat ini tinggal 14 orang.
Adonia merincikan siswa kelas 7 sebanyak 3 siswa, kelas 8 sebanyak 4 siswa, dan siswa kelas 9 sebabnya 7 siswa.
Baca juga: Usai Bencana, Wagub NTT Terpilih Johni Asadoma Temui Warga Amfoang di Kabupaten Kupang
Pelajaran bagi 14 siswa ini diampuh oleh 8 orang guru bersama tiga orang pegawai yang membantu di bagian administrasi sekolah.
Sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Meusine GMIT ini saat ini berjalan tanpa arah lantaran kepala sekolah sudah tidak aktif lagi di sekolah sejak dua tahun silam.
Adonia mengaku mereka guru-guru berjalan tanpa kejelasan, Kesejahteraan mereka tentu menjadi perhatian akibatnya guru hanya hadir di sekolah bila ada jam mengajar.
"Berkurangnya siswa karena kepala sekolah tidak aktif sehingga kami guru seperti kehilangan sosok pemimpin. Kami berharap secepatnya serah terima jabatan kepala sekolah yang baru sesuai pertemuan kami dengan yayasan dan GMIT November tahun lalu," ungkap Adonia
Meskipun kondisi mereka saat ini tidak menentu namun dirinya yang peduli sekolah itu tetap eksis tetap hadir di sekolah dan melaksanakan tugas seperti biasa.
Mengingat jumlah siswa mereka sedikit sekali juga berimbas pada jumlah dana BOS yang mereka terima per tahun dimana tahun 2025 ini hanya sekitar 15 juta rupiah.
Hal itu bagi dia sangat tidak cukup untuk membayar honor guru dan juga operasional sekolah.
Sekolah yang berdiri tahun 1958 ini Klasis kasi insentif 10 juta per tahunKesejahteraan guru tidak ada jadi abaikan siswa Proses belajar tetap jalan
Sekolah berdiri tahun 1958 juga tidak memberlakukan iuran komite akibatnya guru hanya mendapatkan insentif dari dana BOS juga ada tambahan insentif yayasan dan GMIT yang tidak setiap tahun mereka dapat.
Dia berharap dengan pergantian kepala sekolah baru motivasi guru untuk aktif kembali di sekolah sehingga mereka juga bisa kembali seperti sediakala.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.