Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Yosef Freinademetz, Hidup Mati untuk Misi

Berbicara tentang misi dalam Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) tidak dapat diceraikan dari tokoh Yosef Freinademetz.

Editor: Agustinus Sape
VATICANNEWS.VA
St. Yosef Freinademetz adalah misionaris sulung SVD asal Oeis, Italia Utara, yang diutus ke negeri Cina. 

Oleh: Arnoldus Nggorong

POS-KUPANG.COM - Berbicara tentang misi dalam Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD) tidak dapat diceraikan dari tokoh Yosef Freinademetz. Meskipun penggagasnya adalah Arnoldus Janssen, tetapi yang mengejawantahkan dan mengakarkan gagasan besar ini dalam karya yang nyata adalahYosef Freinademetz. Keduanya sungguh saling melengkapi ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Dan yang lebih menarik adalah keduanya sama-sama dikanonisasi menjadi santo pada tanggal 5 Oktober 2003 oleh Paus Yohanes Paulus II.

Ketika Arnoldus Janssen sedang mencari calon misionaris, pada saat yang tepat Allah mengirim Yosef Freinademetz. Allah, dengan cara yang tersembunyi, telah menempa Yosef Freinademetz menjadi seorang misionaris yang handal. Tampaknya sudah tibalah saat yang ditentukan Allah bagi Arnoldus Janssen mewujudkan karya misi melalui Yosef Freinademetz di ‘tanah yang dijanjikan’.

Inilah Cara Allah

Cara Allah, jika direfleksikan dalam kaca mata iman, tampak jelas kalau menengok sebentar ke tempat di mana Yosef Freinademetz hidup dan dibesarkan, dan melihat jejak karyanya sebagai imam muda di Keuskupan Brixen sebelum bergabung dengan Arnoldus Janssen.

Oies, tempat dia dilahirkan, adalah sebuah dusun kecil dalam lingkungan Abtei di lembah Gardena, di tengah pegunungan Tirol Selatan. Dusun itu dikelilingi gunung-gunung tinggi menjulang yang bukan hanya menyajikan panorama indah dan memesona, namun juga menantang.

Di sanalah Uyop kecil, panggilan akrab Yosef Freinademetz di kampung halamannya, berjalan kaki mendaki gunung, menuruni bukit. Bila bepergian ke pasar yang jauh di Bruneck, dia juga melewati gunung dan bukit yang sama seraya memikul beban demi membantu orangtuanya. Maklum kedua orangtuanya hanyalah petani gunung. Suatu perjalanan yang melelahkan bagi seorang anak.

Lalu dalam karya pelayanannya sebagai pastor pembantu di Paroki St. Martin, Yosef Freinademetz mesti menempuh perjalanan jauh yang meletihkan demi melayani orang-orang sakit.

Benih yang Ditanam Allah

Dengan deskripsi ringkas di atas, dalam perspektif iman, sesungguhnya benih misi sudah mulai ditanam Allah dalam diri Yosef Freinademetz dan disemaikan-Nya di lingkungan yang tepat pula. Benih itu dipupuk dan dirawatnya secara intensif dalam dan melalui devosi kepada Hati Kudus Yesus, yang dihabiskannya berjam-jam di depan tabernakel.

Inilah kata-kata Yosef Freinademetz dalam surat kepada Arnoldus Janssen perihal kerinduannya yang begitu dalam untuk menjadi misionaris berkat devosinya kepada Hati Kudus Yesus, yang diyakininya sebagai jawaban Allah sendiri terhadapnya. Dengan perkataan lain, dia mendapat jawaban atas kerinduannya itu dalam doa.

“Setelah berkali-kali dalam doa saya mohon nasihat dari Hati Yesus yang mahakudus, dan karena pikiran ini selalu muncul dengan jelas justru pada waktu berdoa, maka saya berpendapat bahwa saya boleh melihat di dalamnya benar-benar suatu isyarat, bahwa dalam kemurahan-Nya yang tak terperikan, Tuhan telah menentukan saya untuk tugas yang luhur ini,” tulisnya.

Semangat misi sudah menjadi tekad Yosef Freinademetz, walaupun keluarga dan teman-temannya coba membujuknya untuk membatalkan‘impian ilahi-nya’. Bahkan jika mereka melarangnya, dia tetap harus pergi. Berikut kata-kata Yosef Freinademetz yang menggugah, namun menunjukkan ketegasan sikapnya yang kokoh dan militan.

“Bila kamu mengizinkan saya pergi ke tanah misi, maka saya merasa senang. Bila tidak, maka bagaimana pun saya harus pergi, bahkan kalau saya tahu bahwa saya akan boleh menyelamatkan hanya satu orang saja.”

Yosef Freinademetz menjalankan dengan cara yang radikal perkataan Yesus, Sang Gembala Agung, yaitu meninggalkan domba yang 99 ekor lalu pergi mencari satu yang tersesat (bdk. Mat.18:12). Sebab di Keuskupan Brixen, lebih-lebih di kampung halamannya, Yosef Freinademetz masih sangat dibutuhkan.
Dengan lain kata, dia meninggalkan segala-galanya, keluarga yang sangat dikasihinya, para sahabat, alam yang indah, umat yang membutuhkan pelayanannya, rasa aman dan nyaman yang didapatkannya (bdk. Luk. 9:2).

Bertemu Pembimbing yang tepat

Sesampai di tanah misi, yang dimulai di Hongkong, di daratan Cina, bukanlah kebetulan Yosef Freinademetz ditugaskan oleh uskup Raimondi untuk membantu Pastor Piazzoli. Lagi-lagi Tuhan menunjukkan kuasa dan jalan-Nya yang tepat yaitu menuntun dan mempertemukannya dengan seorang Pastor yang saleh.
Sebab di bawah bimbingan imam yang saleh ini, Yosef Freinademetz mendapat pengalaman yang amat berharga, yang kelak turut membentuk dirinya menjadi seorang misionaris sejati.

Selama dua tahun awal bersama Pastor Piazzoli, dia sudah merasakan beratnya tantangan dalam karya pastoralnya sebagai misionaris. Meskipun begitu, Yosef Freinademetz tetap bekerja dengan tekun sebagaimana layaknyaketika ia berkaryadi Paroki St. Martin dulu.

Pengalaman dua tahun bersama Pastor Piazzoli rasanya cukup untuk memberi gambaran awal tentang kesulitan dan tantangan yang akan dihadapinya di wilayah misi yang baru yaitu di Shantung Selatan bersama rekannya Pater Yohann Baptista Anser. Wilayah ini diserahkan oleh Ordo Fransiskan kepada Serikat Sabda Allah.

Dengan semangat yang berkobar-kobar, Yosef Freinademetz mempersiapkan diri dengan belajar bahasa setempat sebagai sarana untuk bisa berkarya di tengah umat di Sandong Selatan. Ketekunannya membuahkan hasil berkat bakat dan kecerdasannya.

Dia dapat berbicara dengan amat fasih dan dengan itu memungkinkan Yosef Freinademetz menyesuaikan diri dengan budaya, adat-istiadat penduduk setempat. Itulah gerbang bagi Yosef Freinademetz untuk mulai mewartakan Injil Tuhan.

Dia menjangkau daerah-daerah yang jauh dan terpencil, menemui bukan hanya orang-orang baru, tetapi mereka sendiri benar-benar baru perihal ajaran-ajaran iman Katolik tentang adanya harapan akan kehidupan kekal setelah hidup di dunia berakhir, Allah yang mahakuasa adalah Pencipta yang agung, sumber segala ciptaan.

Dengan kesabaran, kerendahan hati dan keramahan yang menjadi ciri khasnya, Yosef Freinademetz mengerahkan segala daya upaya agar mereka dapat mengerti apa yang diajarkannya. Dia menyusun kotbah-kotbahnya dan menyampaikan dengan bahasa yang sederhana disertai perumpamaan-perumpamaan dan ilustrasi.

Lebih dari itu, Yosef Freinademetz, berkat penguasaan bahasanya yang sempurna, dengan bantuan para misionaris lainnya menyusun buku katekismus dalam bahasa Cina.

Tentang kefasihannya berbahasa Cina, Freinademetz mendapat pujian yang tulus dari orang-orang Cina.

“Memang luar biasa. Dia berbicara seperti seorang dari kami sendiri. Kalau mendengarnya berkotbah, tanpa melihatnya sendiri, orang tidak percaya bahwa seorang asing yang berbicara,” demikian kesaksian mereka.

Cinta yang besar terhadap Misi

Cinta dan dedikasinya yang total untuk misi sungguh tak diragukan sedikit pun. Freinademetz bukan hanya menunjukkannya lewat kata-kata indah, tetapi lebih dari itu, dia sendiri melaksanakan apa yang dikatakannya seperti yang telah ditunjukkan oleh Sang Gurunya, Yesus.

Banyak kejadian impresif yang menunjukkan semangat kemartirannya, cinta dan dedikasinya untuk misinya. Ketika akan merayakan tahun Yubileum Serikat Sabda Allah pada tahun 1900, yang bertepatan juga dengan Yubileum imamat Yosef Freinademetz sendiri, Arnoldus Janssen hendak mengundangnya ke Steyl. Namun dengan penuh kerendahan hati dia memohon kepada Arnoldus Janssen untuk dibebaskan dari perjalanan ke Eropa.

Pada dasawarsa akhir abad ke-19 muncul kebencian terhadap bangsa asing di Cina sebagai akibat penindasan politis kolonial dan penghinaan terhadap orang Cina. Puncaknya adalah terjadi pemberontakan Boxer pada tahun 1900 yang menuntut agar para misionaris menarik diri ke pelabuhan Tsingtao yang aman. Sebab keselamatan mereka benar-benar terancam.

Itulah kesempatan yang baik bagi rekan-rekannya membujuk Yosef Freinademetz untuk ikut mengungsi bersama mereka. Namun di tengah perjalanan dia meminta kendaraan dihentikan dan dengan bercucuran air mata, dia mendesak para sahabatnya untuk membiarkannya kembali ke Puoli. Lalu dengan sembunyi-sembunyi dia pulang ke sana ditemani Bruder Ulrich. Sebuah pengorbanan yang besar dari seorang Yosef Freinademetz.

Berkali-kali Freinademetz mengalami siksaan dan penganiayaan yang hampir merenggut nyawanya. Pengalaman menghadapi maut dikisahkannya sendiri dalam surat kepada keluarganya di rumah.

“Tahun lalu sebenarnya beberapa kali saya menghadapi maut. Pada suatu malam saya harus melarikan diri melalui suatu daerah tanpa jalan, karena kaum Boxer mengincar-incar untuk membunuh saya. Pada kesempatan lain serdadu-serdadu sudah siap untuk menembak saya. Tapi Mandarin yang menaruh kasihan kepada saya, minta dan berhasil membujuk mereka supaya membebaskan saya,” tulisnya.

Rahmat Ekaristi

Walaupun Yosef Freinademetz berkarya sebagai misionaris di Cina daratan, namun dia mewariskan semangat misi yang besar bagi Gereja universal. Justru untuk itulah Uskup Brixen, Mgr. Gaser dengan rela melepaskannya.

Berikut kata-kata uskup Brixen sebagai seorang Wali Gereja terkemuka, ”Sebagai uskup Brixen saya katakan TIDAK, tapi sebagai uskup katolik saya katakan YA. Nah, silakan mengambil putraku Freinademetz, dan jadikanlah dia seorang misionaris sejati.”

Nilai pengorbanan, tanggung jawab, kesabaran, keramahtamahan, disiplin, ketekunan, cinta yang tulus, semangat doa, percaya kepada penyelenggaraan Allah dan iman yang dihidupi Yosef Freinademetz bersifat abadi, tetap aktual dan relevan pada setiap zaman.

Tentu timbul pertanyaan, dari mana dia mendapatkan kekuatan untuk bisa bertahan seperti itu terlebih dalam situasi yang paling sulit dan membahayakan nyawa. Jawaban satu-satunya adalah dalam persatuan dengan Tuhan melalui dan dalam Ekaristi.

Di situlah dia menimba rahmat Allah yang tiada pernah habis-habisnya, yang terus-menerus membarui semangat Yosef Freinademetz dan yang memberi makna terdalam bagi karyanya (bdk. KGK.1374). Dengan perkataan lain, khazanah rahmat dalam Ekaristi sungguh menjadi penopang utama bagi seluruh karyanya di tanah misi.

Bruder Paulus memberi kesaksian tentang hal ini. “Di depan tabernakel dia tidak jemu-jemunya merenungkan cinta Penebus dalam Ekaristi dan mengucap syukur, memuji dan menyampaikan permohonan-permohonan. Di sini dia menimba kekuatan yang tak habis-habisnya untuk pekerjaannya dan semangatnya demi melayani Kerajaan Allah."

Inilah warisan Freinademetz yang dapat menginspirasi segenap kaum beriman terlebih generasi muda yang secara potensial terpanggil untuk menjadi misionaris dengan mengabdikan dirinya bagi kejayaan Kerajaan Allah.

Dengan kata lain, kita dapat belajar dari Yosef Freinademetz yang telah mendedikasikan hidupnya hanya untuk misi. Ini pula yang diharapkan Freinademetz yang terungkap dalam kata-katanya kepada para konfraternya.

“Menjadi misionaris dan tidak dibakar oleh semangat untuk kemuliaan Allah adalah lebih hina daripada sifat seorang pengecut, yang tidak mencintai rajanya, lebih rendah daripada sifat seorang anak yang tidak mengasihi ibunya.”

Penutup

Para kudus adalah mereka yang secara radikal, militan mengikuti dan menghayati panggilan Allah dalam semangat injil. Mereka memilih jalan yang tidak biasa-biasa saja. Artinya jalan yang tidak biasa dilewati oleh orang-orang pada umumnya yakni yang gampang, instan, yang bebas dari hambatan apa pun.

Sebab jalan yang harus mereka lalui penuh tantangan, kesulitan, penderitaan, bahaya yang dapat merenggut nyawa. Dalam bahasa teologis-biblis, jalan yang dipilih adalah jalan lubang jarum(bdk. Mat. 19:24), yang paralel dengan jalan salib, jalan derita (bdk. Mrk. 8:34).

Yosef Freinademetz, salah satu dari orang-orang kudus,menunjukkan dan membuktikannya dalam seluruh karya dan baktinya di tanah misi yaitu Sandong Selatan.

Yosef Freinademetz meninggalkan segala-galanya lalu pergi ke tempat yang sama sekali asing baginya: budaya, adat istiadat, bahasa, cara hidup, dan kebiasaan-kebiasaan. Sebab Tuhan memerlukannya untuk memberitakan injil kepada orang-orang yang ada di tanah yang ‘dijanjikan’ Tuhan baginya (bdk.Mrk. 1:38). Dengan kata lain, warta keselamatan Tuhan diperuntukkan bagi semua orang tanpa kecuali.

Di sana, dia, dengan tak jemu-jemunya, memberitakan Sabda Allah. Bahaya dan ancaman terhadap dirinya tidak dipedulikannya. Yosef Freinademetz menghadapinya dengan berani karena dia sungguh percaya, Tuhan selalu menyertainya seperti yang telah dikatakan oleh Yesus, Sang Guru yang memanggil dan mengutusnya: “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman (Mat. 28:20).

Hidup matinya memang untuk misi. Sebab dia pergi untuk tidak pernah kembali. Selamat merayakan pesta St. Yosef Freinademetz.

(Penulis adalah alumnus STFK Ledalero, tinggal di Labuan Bajo)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved