Opini

Opini: Deteksi Dini Kanker Payudara

Tumor payudara bisa jinak maupun ganas atau yang biasa kita sebut kanker payudara. 

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
dr Pius Aries B. Langoday 

Oleh: dr Pius Aries B. Langoday

Bertugas sebagai Dokter jaga IGD RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka dan Kabid Pelayanan Medis pada  ⁠Klinik Utama St. Theresia Tabali

POS-KUPANG.COM - Tumor payudara merupakan pertumbuhan sel yang tidak normal yang terjadi di payudara yang menyebabkan benjolan dan kerusakan sel di payudara. Tumor payudara bisa jinak maupun ganas atau yang biasa kita sebut kanker payudara

Menurut data Globacon 2020, kanker payudara menempati urutan pertama jumlah kanker terbanyak pada Perempuan, dan jumlah kematiannya mencapai 22.000 jiwa kasus, Sebagian besar kasus kanker payudara (sekitar 70 persen) biasanya terderteksi di stadium lanjut yang akhirnya membutuhkan penanganan yang lebih berat dan rumit.

Sebagian besar wanita sudah mengetahui memiliki benjolan pada payudara namun enggan untuk memeriksa dan berobat karena takut dengan semua proses pemeriksaan, pengobatan, bahkan operasi.  

Padahal sekitar 43 % kematian akibat kanker bisa dikalahkan manakala pasien rutin melakukan deteksi dini dan menghindari faktor risiko penyebab kanker. 

Apa saja faktor risiko terjadinya kanker payudara

  • Peningkatan berat badan berlebih terutama setelah menopause 
  • Peningkatan tinggi badan yang cepat saat masa pubertas
  • Makanan cepat saji
  • Minuman beralkohol
  • Menarche (haid pertama) kurang dari 12 tahun
  • Melahirkan anak pertama pada usia lebih dari 35 tahun
  • Menopause diatas 50 tahun Infertilitas atau mandul, tidak menikah dan tidak menyusui anak
  • Terpapar radiasi pada saat pertumbuhan payudara
  • Ada faktor genetic keturunan 

Deteksi dini bertujuan untuk memastikan bahwa payudara seseorang masih normal. Bila ada kelainan sperti infeksi, tumor dan kanker dapat ditemukan lebih awal. 

Kanker payudara yang diobati pada stadium dini kemingkinan sembuh mendekati 95 %

Pemeriksaan awal dapat dilakukan dengan Memeriksa Payudara Sendiri (SADARI) dilakukan dimulai sejak usia 21 tahun atau setelah menikah dan pemeriksaan klinis yang dilakukan oleh tenaga Kesehatan terlatih, dilakukan pada Perempuan berusia 30-50 tahun setiap 3 tahun sekali.

Bila dibutuhkan dapat dilakukan mammografi (foto rontgen payudara) 1 tahun sekali usia diatas 40 tahun atau USG payudara 1 tahun sekali dibawah usia 40 tahun.

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dengan belajar melihat dan memeriksa perubahan payudara sendiri setiap bulan.

Dengan melakukan pemeriksaan secara teratur akan diketahui adanya benjolan atau masalah lain sejak dini sehingga bisa lebih efektif diobati.

SADARI sebaiknya dilakukan pada hari ke 7-10 yang dihitung sejak hari pertama haid, atau bagi yang sudah menopause pemeriksaan dilakukan dengan memilih tanggal yang sama setiap bulannya. 

Tanda-tanda yang harus diwaspadai saat melakukan SADARI adalah jika menemukan

  • Penambahan ukuran/ besar yang tidak biasa pada payudara 
  • Salah satu payudara menggantung lebih rendah dari biasanya
  • Adanya benjolan pada payudara
  • Lekukan seperti lesung pipit pada kulit payudara
  • Cekukan atau lipatan pada putting
  • Perubahan penampilan putting payudara
  • Keluar cairan seperti susu atau darah dari salah satu putting
  • Pembesaran kelenjar getah bening pada lipat ketiak atau leher
  • Pembengkakan pada lengan bagian atas 
Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved