Pilkada 2024

Pilkada 27 November 2024, Ujian bagi Presiden Prabowo?

Jutaan masyarakat Indonesia berdatangan ke tempat pemungutan suara pada hari Rabu (27 November) untuk memilih 545 pemimpin daerah di negara demokrasi

Editor: Agustinus Sape
CNA/WISNU AGUNG PRASETYO
Tiga kandidat bersaing untuk menjadi gubernur Jakarta berikutnya: Ridwan Kamil (kiri), Dharma Pongrekun (tengah) dan Pramono Anung (kanan), terlihat di sini pada sebuah acara di Mapolda Metro Jaya pada 21 November 2024. 

Pencalonan gubernur Jakarta akan berlanjut hingga tahun 2025 dengan pemilihan putaran kedua antara dua kandidat teratas, jika tidak ada kandidat tunggal yang memenangkan lebih dari 50 persen suara pada 27 November.

Penangkapan Gubernur Menciptakan Gelombang Kejutan

Pilkada telah dirusak dalam beberapa hari terakhir dengan ditangkapnya Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dan dua pembantunya karena dugaan korupsi pada hari Minggu.

Rohidin mencalonkan diri untuk dipilih kembali di provinsi Sumatera dan dituduh memeras uang dari bawahannya dengan mengancam akan memecat mereka dari jabatannya jika mereka tidak berkontribusi pada kampanyenya. Dia didakwa melakukan pemerasan. 

Penyidik ​​menyita uang kertas dalam berbagai mata uang senilai 7 miliar rupiah (US$440.000) dari para tersangka, kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Alexander Marwata.

Alexander dilaporkan mengatakan bahwa kasus Rohidin mencerminkan tren jual beli suara yang lebih besar menjelang pemilu, dan komisi tersebut telah menerima informasi lain.

Baca juga: Pramono Anung Berpeluang Menang Telak di Pilkada Jakarta, Begini Hasil Survei SMRC

Meningkatnya biaya hidup, tingginya pengangguran dan berkurangnya kelas menengah diperkirakan akan menjadi perhatian utama para pemilih ketika mereka memberikan suara mereka.

Bagi warga Jakarta, permasalahan seperti kemacetan lalu lintas, banjir, dan polusi udara yang memburuk bisa menjadi faktor penentunya.

“Sepertinya tidak ada yang menawarkan solusi yang tepat untuk masalah ini. Itu sebabnya jumlah pemilih yang belum menentukan pilihannya tinggi,” kata Adi Prayitno, dosen ilmu politik di Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta kepada CNA.

Beberapa lembaga survei menyebutkan proporsi pemilih di Jakarta yang belum menentukan pilihannya antara 11 dan 15 persen.

Sementara itu di Jawa Barat, pemilih yang belum menentukan pilihan berjumlah sekitar 17 persen, bahkan lebih tinggi lagi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Berdasarkan dua survei terpisah yang dilakukan oleh surat kabar Kompas bulan ini, 22,8 persen pemilih di Jawa Timur dan 43,1 persen pemilih di Jawa Tengah belum menentukan pilihan.

Para ahli mengatakan angka yang tinggi juga bisa disebabkan oleh kelelahan pemilu, yang bisa berarti rendahnya jumlah pemilih pada hari Rabu.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI lebih optimistis.

“Mengingat situasi tersebut, ada potensi penurunan partisipasi. Mudah-mudahan tingkat partisipasi pemilih bisa mencapai 82 persen,” kata Komisioner KPU Idham Holik, Sabtu, seperti dikutip kantor berita Antara.(channelnewsasia.com)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved