Pilkada 2024

Pilkada 27 November 2024, Ujian bagi Presiden Prabowo?

Jutaan masyarakat Indonesia berdatangan ke tempat pemungutan suara pada hari Rabu (27 November) untuk memilih 545 pemimpin daerah di negara demokrasi

Editor: Agustinus Sape
CNA/WISNU AGUNG PRASETYO
Tiga kandidat bersaing untuk menjadi gubernur Jakarta berikutnya: Ridwan Kamil (kiri), Dharma Pongrekun (tengah) dan Pramono Anung (kanan), terlihat di sini pada sebuah acara di Mapolda Metro Jaya pada 21 November 2024. 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Jutaan masyarakat Indonesia berdatangan ke tempat pemungutan suara pada hari Rabu (27 November) untuk memilih 545 pemimpin daerah di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia tersebut, sebuah acara yang menurut para analis akan membentuk lanskap politik Indonesia selama lima tahun ke depan.

Masyarakat Indonesia akan memilih 37 gubernur, 93 wali kota, dan 415 bupati setelah masa kampanye resmi yang dimulai pada 25 September dan berakhir pada 23 November.

Bagi Presiden Prabowo Subianto, pemilu daerah dapat merugikan – atau membantu – peluangnya untuk terpilih kembali pada tahun 2029 jika ia memutuskan untuk mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.

Para kandidat sebagian besar berasal dari dua faksi politik: Koalisi Indonesia Maju atau KIM Plus yang beranggotakan 11 partai pimpinan Presiden Prabowo Subianto, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang dipimpin mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Minoritas adalah kandidat independen.

Bagi Prabowo, pemilu kemungkinan besar akan menentukan seberapa baik kebijakan dan programnya diterapkan di lapangan, yang pada akhirnya berarti peluangnya untuk terpilih kembali ketika masa jabatannya berakhir pada tahun 2029, jika ia memutuskan untuk mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua.

“Jika pemimpin (daerah) berasal dari kubu oposisi, maka besar kemungkinan daerah tersebut tidak akan mendukung keputusan dan program yang dibuat (pemerintahan Prabowo) di tingkat nasional,” Hendri Satrio, analis politik dari Universitas Paramadina Jakarta, mengatakan kepada CNA.

Bagi PDIP, pemilu adalah kesempatan untuk bangkit kembali dan tetap relevan setelah kandidatnya Ganjar Pranowo – mantan gubernur Jawa Tengah – menempati posisi terakhir dalam pemilu presiden dengan perolehan 16,5 persen suara.

Prabowo menang dengan 58,6 persen suara pada bulan Februari, sementara mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan berada di urutan kedua dengan 24,9 persen.

Namun, PDIP berhasil memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan legislatif yang diadakan pada hari yang sama, 14 Februari, dan mempertahankan gelarnya sebagai partai terbesar di parlemen.

“PDIP akan berjuang keras agar tidak kalah dalam pilkada, khususnya di provinsi-provinsi yang dikenal sebagai kubu PDIP,” kata Hendri.

Bayangan mantan presiden lainnya tampak besar.

Pemilu ini akan menjadi ujian bagi kemampuan Joko Widodo dalam menjadi raja setelah ia berhasil membantu Menteri Pertahanannya, Pak Prabowo, naik ke kursi kepresidenan. Wakil Presiden Pak Prabowo adalah anak tertua Pak Widodo, Gibran Rakabuming Raka.

Joko Widodo, yang dikenal sebagai Jokowi, adalah anggota PDIP sebelum dia memutuskan untuk menentang partai tersebut dengan tidak mendukung pencalonan Ganjar sebagai presiden.

Menantu Jokowi, Bobby Nasution, mencalonkan diri sebagai gubernur Sumatera Utara melawan petahana yang didukung PDIP, Edy Rachmayadi.

Quick Counts Dapat Dilakukan Sebelum Pukul 18.00

Pemungutan suara akan dibuka mulai pukul 07.00 hingga 13.00 waktu setempat, setelah itu penghitungan suara akan dilakukan. Indonesia mempunyai tiga zona waktu. Lembaga survei independen dan Komisi Pemilihan Umum akan mulai mengumpulkan hasilnya mulai pukul 15.00 waktu setempat.

Penghitungan suara biasanya memakan waktu beberapa jam dan masyarakat Indonesia akan mengetahui hasil “penghitungan cepat” tidak resmi sekitar pukul 18.00.

Hasil resmi baru akan keluar satu atau dua minggu kemudian karena memerlukan proses verifikasi yang panjang.

Pemilihan umum daerah pada hari Rabu ini diadakan setelah masa kampanye selama dua bulan, di mana para kandidat melakukan kampanye rapat umum, mengunjungi lingkungan miskin dan melobi para pemimpin masyarakat dan tokoh agama dengan harapan dapat memberikan keuntungan bagi mereka.

Skenario yang Dapat Muncul

Para ahli mengatakan provinsi berpenduduk padat di Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah – dengan jumlah penduduk masing-masing sebesar 49,8 juta, 41,8 juta dan 37,8 juta jiwa – akan menjadi medan pertempuran utama.

Masyarakat Indonesia juga akan menyaksikan pemilihan gubernur kota terbesar dan terpenting di negara ini, Jakarta.

Jabatan Gubernur Jakarta dianggap sebagai salah satu jabatan politik paling bergengsi di Indonesia, dimana sebelumnya pernah diduduki oleh Jokowi dan Anies.

Dalam pemilihan gubernur Jawa Barat, kandidat yang didukung koalisi Prabowo, Dedi Mulyadi, mendapat perolehan suara yang meningkat dalam survei-survei terbaru, yang menunjukkan bahwa ia mungkin memperoleh hingga 71,5 persen suara, jauh di atas ketiga pesaingnya.

Di Jawa Timur, petahana yang didukung koalisi Prabowo, Khofifah Indar Parawansa, diperkirakan akan mengalahkan dua kandidat lainnya dengan perolehan sekitar 55,1 persen suara.

Pemilihan gubernur Jawa Tengah berlangsung lebih ketat, dengan berbagai lembaga jajak pendapat mengatakan bahwa pemilihan tersebut bisa saja dimenangkan oleh Ahmad Luthfi yang didukung oleh Prabowo dan Jokowi, atau mantan panglima militer Andika Perkasa yang didukung PDIP

Sebagai cerminan dari pertaruhan yang ada, Prabowo mendukung Ahmad pada tanggal 3 November meskipun sebelumnya ia berjanji bahwa ia akan tetap netral selama pemilihan kepala daerah.

Di Jakarta, Pramono Anung yang didukung PDIP dan Anies diperkirakan akan unggul tipis atas Ridwan Kamil yang didukung Prabowo dan Jokowi.

Jika kandidat KIM Plus menang di sebagian besar, atau semua kandidat, penerapan kebijakan seperti program makan gratis oleh Pak Prabowo kemungkinan akan lebih lancar. Namun PDIP akan menghadapi perjuangan berat untuk mendapatkan kembali dominasinya.

Jika PDIP dan KIM Plus memenangkan pemilu di provinsi-provinsi utama tersebut, perebutan kekuasaan antara Ibu Megawati, serta Bapak Prabowo dan Jokowi, akan terus berlanjut.

Pencalonan gubernur Jakarta akan berlanjut hingga tahun 2025 dengan pemilihan putaran kedua antara dua kandidat teratas, jika tidak ada kandidat tunggal yang memenangkan lebih dari 50 persen suara pada 27 November.

Penangkapan Gubernur Menciptakan Gelombang Kejutan

Pilkada telah dirusak dalam beberapa hari terakhir dengan ditangkapnya Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dan dua pembantunya karena dugaan korupsi pada hari Minggu.

Rohidin mencalonkan diri untuk dipilih kembali di provinsi Sumatera dan dituduh memeras uang dari bawahannya dengan mengancam akan memecat mereka dari jabatannya jika mereka tidak berkontribusi pada kampanyenya. Dia didakwa melakukan pemerasan. 

Penyidik ​​menyita uang kertas dalam berbagai mata uang senilai 7 miliar rupiah (US$440.000) dari para tersangka, kata Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Alexander Marwata.

Alexander dilaporkan mengatakan bahwa kasus Rohidin mencerminkan tren jual beli suara yang lebih besar menjelang pemilu, dan komisi tersebut telah menerima informasi lain.

Baca juga: Pramono Anung Berpeluang Menang Telak di Pilkada Jakarta, Begini Hasil Survei SMRC

Meningkatnya biaya hidup, tingginya pengangguran dan berkurangnya kelas menengah diperkirakan akan menjadi perhatian utama para pemilih ketika mereka memberikan suara mereka.

Bagi warga Jakarta, permasalahan seperti kemacetan lalu lintas, banjir, dan polusi udara yang memburuk bisa menjadi faktor penentunya.

“Sepertinya tidak ada yang menawarkan solusi yang tepat untuk masalah ini. Itu sebabnya jumlah pemilih yang belum menentukan pilihannya tinggi,” kata Adi Prayitno, dosen ilmu politik di Universitas Islam Syarif Hidayatullah Jakarta kepada CNA.

Beberapa lembaga survei menyebutkan proporsi pemilih di Jakarta yang belum menentukan pilihannya antara 11 dan 15 persen.

Sementara itu di Jawa Barat, pemilih yang belum menentukan pilihan berjumlah sekitar 17 persen, bahkan lebih tinggi lagi di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Berdasarkan dua survei terpisah yang dilakukan oleh surat kabar Kompas bulan ini, 22,8 persen pemilih di Jawa Timur dan 43,1 persen pemilih di Jawa Tengah belum menentukan pilihan.

Para ahli mengatakan angka yang tinggi juga bisa disebabkan oleh kelelahan pemilu, yang bisa berarti rendahnya jumlah pemilih pada hari Rabu.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI lebih optimistis.

“Mengingat situasi tersebut, ada potensi penurunan partisipasi. Mudah-mudahan tingkat partisipasi pemilih bisa mencapai 82 persen,” kata Komisioner KPU Idham Holik, Sabtu, seperti dikutip kantor berita Antara.(channelnewsasia.com)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved