Pilkada Ende

Debat Pilkada Ende: Bahas Isu Stunting, Erik-Awalludin Komit Bangun Desa Siaga

Sedangkan pada tahun 2023, jumlah prevelensi stunting di Kabupaten Ende berada di angka 6,8 persen atau 1241 kasus stunting.

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/ALBERT AQUINALDO
Keempat pasangan calon bupati dan wakil bupati Ende pada Pilkada tahun 2024 saat mengikuti debat perdana di Aula Hotel Flores Mandiri, Rabu, 16 Oktober 2024 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo

POS-KUPANG.COM, ENDE - Pada pelaksanaan debat perdana Pilkada Ende tahun 2024 yang berlangsung di Aula Hotel Flores Mandiri, Rabu, 16 Oktober 2024, keempat pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Ende berkomitmen menuntaskan masalah kesehatan terutama masalah stunting di Kabupaten Ende.

Kondisi stunting di Kabupaten Ende pada tahun 2024 naik dari tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil penimbangan pada bulan Februari 2024, jumlah prevelensi stunting di Kabupaten Ende berada pada angka 8,2 persen atau 1448 anak menderita stunting.

Sedangkan pada tahun 2023, jumlah prevelensi stunting di Kabupaten Ende berada di angka 6,8 persen atau 1241 kasus stunting.

Menjawab pertanyaan panelis terkait strategi paslon menangani masalah stunting di Kabupaten Ende, Erik Rede, calon Bupati Ende yang berpasangan dengan Awaludin Sutoro mengatakan, Erik-Awalludin berkomunikasi untuk menekan angka penderita stunting di Kabupaten Ende.

"Dari angka prevelensi timbang yang terakhir sebesar 8,2 persen, dan dalam waktu lima tahun kami pastikan angka stunting di Ende akan turun ke angka 0,5 persen dengan cara mendorong partisipasi langsung dari masyarakat, kami menginginkan eliminasi stunting ini mulai dari peran keluarga dan pemerintah desa," urai mantan Wakil Bupati Ende ini.

Peran keluarga, kata dia, mulai dari upaya memastikan pasangan usia subur yang boleh melahirkan adalah pasangan usia subur yang memiliki standar kesehatan yang baik.

"Karena fenomena saat ini, anak lahir langsung stunting, dengan demikian upaya yang dilakukan paling pertama dilakukan adalah upaya promotif, preventif yakni membangun keluarga yang siap untuk melahirkan," tambah Erik Rede.

Dia juga berkomitmen mendorong partisipasi masyarakat melalui program Desa Siaga.

Desa Siaga, jelas Erik, bertujuan mendorong partisipasi aktif masyarakat guna antisipasi dini meminimalisir bayi lahir stunting.

"Di Desa Siaga, ada perhatian gizi, juga memperhatikan bagaimana setiap desa ada jejaring darah, misalkan ada ibu yang mau melahirkan, sudah disiapkan darah, lalu identifikasi ibu-ibu yang mau melahirkan di dalam desa itu, kepala desanya sudah tahu dan tenaga kesehatannya juga sudah tahu," tambah dia.

Lebih lanjut, Erik berkomitmen akan memberikan PMT sejak anak dalam kandungan. Intervensi anggaran, pemerintah desa wajib mengalokasikan dana desa APBD. (*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved