Kamis, 16 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 9 Oktober 2024, “Ajarlah Kami Berdoa” 

gampang jatuh dalam kesombongan ego kita sendiri dan lebih mengagungkan diri sendiri dari pada firman yang kita sampaikan.

Editor: Rosalina Woso
FOTO PRIBADI
Bruder Pio Hayon SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik Rabu 9 Oktober 2024, “Ajarlah Kami Berdoa”  

Oleh:  Bruder Pio Hayon, SVD

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Rabu 9 Oktober 2024, “Ajarlah Kami Berdoa” 

Hari Rabu Biasa Pekan XXVII

Bacaan I:  Gal.  2: 1-2.7-14
Injil: Lukas 11: 1-4      

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus

Salam damai  sejahtera untuk kita semua. Berdoa adalah salah satu cara untuk membangun relasi dengan Tuhan  karena hanya dengan cara itulah manusia mampu mendekatkan dirinya kepada Allah. Dalam berdoa itu, manusia masuk dalam situasi keheningan dan dalam kekuatan roh Allah untuk memampukan manusia untuk berdoa. 

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus

Pada hari ini kita kembali merenungkan firman Tuhan yang kita dengarkan hari ini. Dalam bacaan pertama, St. Paulus dalam suratnya kepada  umat di Galatia menegaskan sekali lagi akan kasih karunia Tuhan yang diberikan kepadanya untuk memberitakan Injil Tuhan kepada bangsa-bangsa lain di  lua bangsa Yahudi. Kasih karunia itu dilimpahkan kepadanya karena Tuhan telah menginginkan tugas itu diberikan kepadanya sebagai rasul bagi bangsa-bangsa lain.

Sebagai utusan atau misionaris bagi bangsa-bangsa lain, Paulus  tetap teguh berpegang pada rencana dan kehendak Tuhan sendiri. Dia selalu berusaha untuk menjadi  garda terdepan untuk siap mewartakan Injil Tuhan bagi bangsa-bangsa lain. Apapun konsekuensinya dia tetap pada jalannya. Dan kita pun atas cara tertentu juga menjadi pewarta firman namun kita masih saja gampang jatuh dalam kesombongan ego kita sendiri dan lebih mengagungkan diri sendiri dari pada firman yang kita sampaikan.

Salah satu kekuatan santo Paulus adalah  dengan berdoa dan mengandalkan Tuhan selalu dalam tugasnya. Maka dalam injil hari ini, kita pun diajarkan oleh Yesus untuk berdoa kepada Allah yang disapa sebagai Bapa. Dikisahkan bahwa, setelah Yesus berhenti berdoa, seorang muridNya datang dan meminta untuk diajarkan berdoa. Lalu Yesus mengajarkan para muridNya berdoa dengan satu pola doa yang khas dan yang kita sudah kenal sampai saat ini yaitu Doa Bapa Kami.

Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus kepada kita untuk menunjukkan bahwa Allah itu sedekat seorang Bapa dan kita adalah anak-anakNya yang datang berdoa kepadaNya dalam untung dan malang. Dalam hidup kita, ada begitu banyak kesempatan untuk kita mau berdoa.

Dan pada saat yang sama manusia juga masih punya keluhan yang sama-sama saja tentang berdoa yaitu mereka sudah berdoa banyak kali, tetapi mereka tak pernah dijawab oleh Tuhan. Ini keluhan paling umum. Orang berdoa semata-mata supaya bisa mendapatkan apa yang kita doakan adalahh  satu  pandangan yang keliru.

Tujuan berdoa pertama-tama agar kita semakin beriman kepada Allah dan bersyukur kepada Tuhan atas apa yang sudah diterimanya. Itu saja dulu. Kita berdoa supaya kita semakin dekat dengan Tuhan dan dengan cara itulah kita semakin mengenal kehendak Tuhan atas diri kita.

Namun yang terjadi, saat berdoa, kita bahkan memaksa Tuhan untuk mengabulkan semua doa-doa kita, karena kita berdoa hanya bertujuan untuk dapatkan apa yang kita inginkan dalam doa-doa kita. Padahal kita semua kita tahu bahwa Tuhan sudah tahu apa yang kita doakan.

Namun kita memaksakan kehendak kita kepada Allah. Dan itu cara yang salah. Kita lebih cenderung berdoa untuk memuaskan ego kita dari pada berdoa untuk menyatakan iman kita kepada Allah. Maka marilah kita belajar untuk selalu rendah hati di hadapan Allah secara khusus saat kita berdoa agar kita tidak jatuh dalam  kesalahan yang sama yaitu berdoa untuk kepentingan pemenuhan keinginan ego semata. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved