Minggu, 19 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 2 September 2024, Jangan Marah-marah

kadang-kadang tindakan agresi publik (Kamus Besar Bahasa Indonesia /KBBI). Contoh paling jelas ditemukan dalam Injil hari ini

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Pastor John Lewar, SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik Senin 2 September 2024, Jangan Marah-marah 

Oleh: Pastor John Lewar, SVD

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Senin 2 September 2024, Jangan Marah-marah

Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz STM Nenuk Atambua Timor

Hari Biasa Pekan XXII
Lectio:
1Korintus 2:1-5; Mazmur 119:97.98.99. 100.101.102;
Injil: Lukas 4:16-30.

Meditatio:
Anda pernah marah? Seberapa sering Anda marah? Bisa dikatakan kadang-kadang, sering kali, atau hampir setiap hari marah? Mengapa Anda menjadi marah? Apakah memang karena punya karakter sebagai seorang pemarah? Pernahkah Anda memerhatikan diri Anda saat marah?

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 1 September 2024, "Allah Sumber Keadilan"

Kata marah artinya sangat tidak senang atau berang atau gusar. Ekspresi luar saat marah biasanya dalam bentuk raut muka, bahasa tubuh, respons psikologis, dan kadang-kadang tindakan agresi publik (Kamus Besar Bahasa Indonesia /KBBI). Contoh paling jelas ditemukan dalam Injil hari ini (Luk 4:16-30).

Ketika Yesus datang di Nazaret, tempat Ia dibesarkan (Luk 16:16), seperti biasa pada hari Sabat Ia masuk ke rumah
Ibadat. Setelah Ia membacakan Kitab Yesaya (61:1-2), Ia menjelaskan tentang banyak hal. Antara lain, Yesus membandingkan Diri-Nya dengan dua nabi besar dari Israel kuno, yakni Nabi Elia dan Nabi Elisa (ay. 25-27).

Yesus mengatakan bahwa kedua nabi besar tersebut melayani orang-orang bukan Israel. Nabi Elia melayani seorang wanita janda di Sarfat, di tanah Sidon. Sedangkan Nabi Elisa melayani Naaman, seorang Siria. Janda di Sarfat dan Naaman di Siria adalah orang-orang yang terbuka terhadap karya pelayanan kedua nabi besar tersebut.

Ternyata bukan hanya Nabi Elia dan Nabi Elisa yang tidak diterima oleh bangsa mereka sendiri, Yesus pun sama. Sebagai nabi, Ia tidak diterima oleh bangsa-Nya sendiri. Ia pun akan melayani orang-orang bukan Yahudi yang lebih terbuka terhadap misi penyelamatan-Nya. Orang-orang Nazaret yang berada di rumah ibadat, yang sebelumnya heran atau takjub akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya (ay. 22), tiba-tiba sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu.

Mengapa mereka bisa tiba-tiba sangat marah kepada Yesus? Mengapa mereka kemudian bangkit dan menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu (ay. 29)?

Secara psikologis, marah yang tiba-tiba berkaitan dengan dorongan untuk mempertahankan harga diri atau gengsi. Selain itu, mereka menjadi marah karena sulit menerima Pribadi Yesus yang hebat itu, yang sebetulnya berasal dari keluarga sederhana dan biasa, jauh di bawah status sosial mereka. Hal ini tampak dari ucapan mereka, tak lama
sesudah mereka heran akan kata-kata indah yang diucapkan-Nya. Mereka berkata, “Bukankah Dia anak Yusuf?” (ay. 22), yang juga berarti “anak tukang kayu?” (Mat 13:55).

 Rasa iri hati ikut memicu kemarahan mereka yang meledak-ledak itu hingga terkesan sangat brutal dan tidak
manusiawi, tidak mencerminkan sebagai orang-orang yang baru beribadah di tempat suci.

Santa Faustina heran dengan orang yang iri hati, katanya, “Aku sangat heran bagaimana orang dapat sedemikian iri hati. Apabila aku melihat kebaikan orang lain, aku bersukacita karenanya seolah-olah itu juga merupakan kebaikanku. Sukacita orang lain adalah sukacitaku, dan penderitaan orang lain adalah penderitaanku; kalau tidak, aku tidak akan
berani menyatukan diri dengan Tuhan Yesus.

Roh Yesus selalu sederhana, lemah lembut dan tulus” (Buku Harian Santa Faustina, No. 633). Roh orang-orang Nazaret berbeda, lain sama sekali. Mereka tidak bisa bersukacita ketika melihat kebaikan Yesus yang berasal dari keluarga Yusuf, si tukang kayu itu.

Selanjutnya Santa Faustina menulis tentang iri hati demikian, “Segala kedengkian, kecemburuan dan kemunafikan… adalah setan-setan yang kecil” (Ibid.). Dari kata-kata Santa Faustina ini kita dapat mengerti bahwa tindakan anarkis yang tidak manusiawi dimana orang-orang Nazaret mau melemparkan Yesus dari tebing gunung tempat kota itu terletak adalah tindakan yang digerakkan oleh setan-setan kecil yang ada dalam diri mereka ( https://mkk.or.id/renungan-detail.php?r=2030485239).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved