Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 1 September 2024, "Allah Sumber Keadilan"
Pada hari ini kita memasuki Minggu biasa ke22 Tahun B, bertepatan dengan Hari Minggu Kitab Suci Nasional 2024 atau pembukaan Bulan Kita Suci Nasional.
SUARA PAGI
Bersama
Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor
Minggu, 01 September 2024
Hari Minggu Biasa XXII, Minggu Kitab Suci Nasional
Lectio:
Ulangan 4: 1-2.6-8; Mazmur 15:2-3a.3cd-4ab.4c-5
Yakobus 1: 17-18.21b-22.27
Markus 7:1-8a.14-15.21-23
Allah Sumber Keadilan
Meditatio:
Pada hari ini kita memasuki Minggu biasa ke22 Tahun B, bertepatan dengan Hari Minggu Kitab Suci Nasional 2024 atau pembukaan Bulan Kita Suci Nasional.
Adapun tema Bulan Kitab Suci Nasional yakni “Allah Sumber Keadilan.” Keadilan Allah berarti bahwa Allah secara keseluruhan benar dan adil dalam semua urusan-Nya dengan umat manusia; lebih dari itu, tindakan keadilan itu sesuai
dengan hukuman- Nya.
Dalam Kitab Ulangan, Musa menegaskan kepada umat Isarel, “Hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan
kepadamu oleh Tuhan. Jangan kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu, yang kusampaikan kepadamu.
Lakukanlah dengan setia sebab itu yang menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa.” (Ul 4:1.6). Di sini Musa kiranya mengharapkan agar semua peraturan dan ketetapan dari Tuhan dilaksanakan secara murni dan berkualitas.
Bangsa Israel tidak melupakan perjanjian Sinai dan tetap setia mematuhi hukum Tuhan. Bila mereka melaksanakannya dengan setia dan penuh tanggung jawab, maka mereka dapat menarik bangsa lain untuk semakin dekat dan percaya kepada Allah.
Selanjutnya Tuhan Yesus di dalam Bacaan Injil memberi kritik tajam kepada orang-orang Farisi dan para ahli Taurat bahwa mereka hanya berpegang teguh pada adat istiadat manusia saja. Hal yang memicu kritikan Yesus ini adalah karena adat kebiasaan ditonjolkan sehingga rasa cinta kasih, keadilan dan kebenaran memudar bahkan nyaris ditiadakan. martabat manusia tidak dijunjung.
Kasus yang sedang dihadapi adalah para murid Yesus makan tanpa mencuci tangannya. Tentu saja bagi orang Farisi, hal ini sebuah skandal.
Kebiasaan yang mereka miliki adalah membersihkan tubuh, alat makan dan minum. Sebagai orang yang teguh dalam hidup beragama maka mereka coba membandingkan diri dengan para murid Yesus, khusus dalam hal mencuci tangan sebelum makan.
Mereka bertanya kepada Yesus, “Mengapa murid- muridMu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis”.
Yesus menjawab mereka, “Benarlah nubuat nabi Yesaya tentang kamu hai orang-orang munafik! Ada tertulis: Bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepadaKu sedangkan ajaran yang mereka ajarkan adalah perintah manusia. Perintah Allah diabaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia”.
Kata-kata Yesus ini membuat kita bertumbuhan sebagai orang-orang benar. Artinya setiap kali kita berdoa dan memuji Tuhan maka akal budi kita hendaknya sinkron dengan hati kita.
Pada akhir perikop ini, Yesus mengatakan bahwa bukan hal yang masuk dari luar itu menajiskan melainkan hal yang keluar dari dalam diri orang tersebut.
| Renungan Harian Katolik Senin 6 April 2026, "Dusta dan Uang Tak Bungkam Kebenaran Kebangkitan Tuhan" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Senin 6 April 2026, "Pergi ke Galilea" |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Minggu 5 April 2026, 'Paskah : Bangkit untuk Menjumpai Tuhan' |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Minggu 5 April 2026, “Melihat dan Percaya” |
|
|---|
| Renungan Harian Katolik Minggu Paskah 5 April 2026: Kristus Telah Bangkit, Alleluya. |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pater-John-Lewar-SVD.jpg)