Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 5 April 2026, “Melihat dan Percaya”
Renungan Harian Katolik Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I: Kis. 10:34a,37-43; Bacaan II: Kol. 3:1-4; Injil: Yoh. 20:1-9.
Oleh : Bruder Pio Hayon SVD
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik Minggu 5 April 2026 Hari Raya Paskah dari Bruder Pio Hayon SVD berjudul “Melihat dan Percaya”.
Renungan Harian Katolik Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I: Kis. 10:34a,37-43; Bacaan II: Kol. 3:1-4;
Injil: Yoh. 20:1-9.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Paskah adalah hari ketika Gereja merayakan pusat iman: Yesus yang wafat telah bangkit.
Namun Yohanes tidak berhenti pada peristiwa yang “dilihat” saja. Ia menuntun kita pada pertanyaan yang lebih dalam: apa artinya melihat—bagi iman dan hidup kita?
Melalui kisah makam yang kosong dan tanggapan para murid, Paskah mengajar kita bahwa iman Kristen berjalan dari tanda, menuju pengertian, dan akhirnya menuju kepercayaan.
Saudara-saudari terkasih.
Bacaan pertama (Kisra. 10:34a, 37-43), Petrus menyampaikan bahwa Allah berbicara tentang Yesus: Ia hidup di tengah umat, wafat, dan dibangkitkan.
Kabar ini menegaskan bahwa kebangkitan bukan sekadar peristiwa rohani, tetapi dasar pengharapan: barangsiapa percaya kepada-Nya, memperoleh pengampunan dan pembaruan.
Dalam bacaan kedua (Kol. 3:1-4), Paulus mengajak umat untuk mencari perkara yang di atas, karena orang beriman telah “dibangkitkan bersama Kristus”.
Artinya, Paskah menuntut orientasi hidup: nilai, tujuan, dan pilihan kita seharusnya ditata ulang oleh Kristus yang hidup. Dan dalam Injil (Yoh. 20:1-9), pada pagi hari, kubur ditemukan kosong.
Yohanes menekankan bahwa murid-murid masuk ke tempat itu, melihat kain-kafan, lalu barulah timbul pengertian. Mereka “melihat”, tetapi iman belum otomatis menjadi kuat—masih ada proses untuk bertumbuh menjadi percaya.
Refleksi kita “Melihat”: apa yang sudah kita sadari tentang Yesus, tetapi masih “belum selesai”? Kebangkitan apa yang kita dengar dan rasakan, namun iman kita belum sepenuhnya hidup di tindakan nyata?
Apa yang perlu Anda bawa dalam doa agar percaya Anda makin teguh? “Percaya”: mengapa kepercayaan bukan berarti meniadakan proses? Dalam Yohanes, para murid melihat dulu, lalu pemahaman menyusul.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Bruder-Pio-Hayon-SVD-menulis-Renungan-Harian-Katolik.jpg)