Berita NTT
Mengenal Glaukoma: Si Pencuri Penglihatan
Glaukoma sudut terbuka umumnya dapat terjadi kronis dan seringkali tanpa gejala, biasanya tekanan bola mata tidak terlalu ekstrim tinggi.
Oleh: dr. Maria Claudya Bay
Alamat : Warsawe, Desa Cunca Wulang, Manggarai Barat NTT
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kebutaan masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah Glaukoma. Glaukoma adalah penyakit mata yang menyerang saraf penglihatan sehingga dapat menyebabkan kebutaan secara permanen.
Glaukoma sering disebut sebagai “si pencuri penglihatan” karena umumnya Glaukoma tidak memiliki gejala, selain itu penyakit glaucoma merupakan salah satu penyakit yang kurang familiar diantara masyarakat seperti katarak sehingga banyak kasus yang terlambat ditangani.
Glaukoma menimbulkan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan karena merupakan penyebab kebutaan kedua setelah katarak, dan kebutaan ini biasanya tidak dapat disembuhkan. Data WHO memperkirakan 57,5 juta orang di seluruh dunia terkena glaukoma.
Data Riskesdas tahun 2007 di Indonesia, 4 sampai 5 orang dari 1.000 orang menderita glaukoma.
Menurut American Optometric Association (AOA) penyebab pasti glaucoma tidak diketahui dan gejalanya juga bervariasi tergantung jenisnya.
Glaukoma dapat mengenai siapa saja, namun terdapat individu dengan risiko lebih tinggi, diantaranya usia lebih dari 40 tahun, memiliki keluarga yang menderita glaukoma, menggunakan kacamata minus atau plus tinggi, penderita kencing manis, tekanan darah tinggi, cedera pada mata, ataupun penggunaan obat anti-radang yang mengandung steroid secara jangka panjang baik berupa tetes, hirup, ataupun obat minum.
Ditinjau dari segi anatomisnya glaucoma dibagi atas 2 yakni glaukoma sudut terbuka dan sudut tertutup sedangkan dari segi onset penyakit dibagi atas kasus akut dan kronis.
Glaukoma sudut terbuka umumnya dapat terjadi kronis dan seringkali tanpa gejala, biasanya tekanan bola mata tidak terlalu ekstrim tinggi.
Kronis terjadi secara perlahan tanpa rasa sakit dan tanpa gejala mata merah. Saat penyakit sudah berada di tahap lanjut, barulah penderita mulai merasakan gangguan penglihatan.
Awalnya, penglihatan tepi atau perifer mulai buram, kemudian lama kelamaan hilang, seperti sedang melihat di dalam lorong, di mana tidak terlihat apapun di sisi kiri maupun kanan.
Hingga pada akhirnya penglihatan bagian sentral pun akan hilang juga. Sedangkan yang akut terjadi secara mendadak, terdapat keluhan berupa mata merah disertai nyeri dan buram penglihatan.
Baca juga: Kenali Penyakit Silent Killer Glaukoma
Selain itu terdapat keluhan seperti lapang pandang menyempit, melihat seperti ada pelangi di sekitar cahaya, dan apabila terjadi serangan akut, yaitu peningkatan tekanan bola mata yang terjadi tiba-tiba, dapat menimbulkan keluhan pusing, sakit kepala, mual, dan muntah yang terkadang dapat terdiagnosis sebagai penyakit lain seperti maag. Kalau yang sudut tertutup tekanan bola mata akan sangat tinggi sehingga menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman.
Beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk mendiagnosa penyakit glaucoma, antara lain pemeriksaan tekanan bola mata, pemeriksaan struktur dan saraf mata, serta pemeriksaan lapang pandang. Beberapa pemeriksaan ini menggunakan alat khusus yang menilai secara obyektif.
Tujuan penanganan glaukoma adalah mencegah perburukan penyakit dengan cara mengontrol tekanan bola mata agar tetap normal/aman, sehingga dapat mencegah kerusakan pada saraf mata lebih lanjut.
Penanganan atau tatalaksana yang dipilih tergantung pada jenis dan kondisi penderita glaukoma. Pengobatan mencakup obat-obatan oral, obat tetes mata khusus glaukoma yang harus digunakan terus-menerus seumur hidup, laser maupun operasi, yang secara garis besar bertujuan untuk melancarkan aliran pembuangan cairan mata yang tersumbat dan mengurangi tekanan bola mata.
Selain dapat diobati, glaucoma juga dapat dicegah melalui beberapa tips berikut ini :
1. Melakukan Deteksi Dini :
Upaya preventif yang baik adalah deteksi dini melalui skrinning atau pemeriksaan mata secara teratur. Menurut American Academy of Ophthalmology (AOA) menganjurkan setiap 5-10 tahun pada golongan usia dibawah 40 tahun. Sementara untuk usia 40-54 menganjurkan pemeriksaan mata setiap 2-4 tahun dan usia >65 tahun pemeriksaan mata setiap 1-2 tahun.
2. Gaya Hidup Sehat.
Gaya hidup sehat seperti berolahraga teratur dapat mencegah dari penyakit salah satunya glaukoma.
Beberapa penelitian mengatakan bahwa olahraga ringan seperti jogging minimal 3x seminggu dapat menurunkan tekanan dalam mata agar mata tetap sehat dan tekanan mata tetap normal. Posisi yang harus dihindari yaitu terbalik (headstand) karena dapat meningkatkan tekanan mata.
3. Gunakan Pelindung Mata
Gunakan kacamata pelindung saat beraktivitas di rumah ataupun saat berolahraga agar melindungi mata dari cedera, selain itu menurut beberapa penelitian paparan sinar UV berlebihan dapat menjadi faktor risiko glaucoma, kenakan kacamata hitam saat beraktivitas seperti berolahraga ataupun menjelajah alam.
4. Makanan gizi seimbang, istirahat cukup, dan pengelolaan stress
Makanan yang kaya akan vitamin C, E, dan antioksidan seperti kacang, buah dan sayuran. Makanan yang kaya akan omega 3 seperti ikan tuna, salmon, dan sarden. Serta hindari makanan yang tinggi garam, gula, dan kafein.
5. Hentikan Kebiasaan Merokok
Berhenti merokok bukanlah tugas yang mudah tetapi penelitian membuktikan bahwa merokok meningkatkan risiko berbagai kondisi yang berhubungan dengan mata termasuk katarak dan glaucoma. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-Glaukoma.jpg)